Oleh
Nuriyani (Pegiat Literasi)
Setelah Greta Thunberg beserta sebelas rekannya yang mencoba membawa bantuan ke Palestina dengan menggunakan kapal The Madleen diserang dan ditangkap oleh tentara militer Israel pada 10 Juni 2025, mata dunia dunia semakin terbuka atas terorisme yang sebenarnya dilakukan oleh Zionis Israel. Begitu pula kaum muslim, semakin geram dengan tingkah para pemimpin negeri muslim seolah-olah buta dan tuli terhadap penyiksaan yang dirasakan oleh warga Palestina. Bantuan kemanusiaan yang harusnya sampai pada warga Palestina malah kembali dicegat bahkan salah seorang aktivis asal Swedia dideportasi ke Prancis.
Melihat aksi perjuangan tersebut, umat Islam di seluruh dunia mulai terpanggil untuk bergerak membebaskan warga Palestina. Lebih dari 2.500 aktivis dari 50 negara melakukan aksi Global March to Gaza (GMTA) pada 15 Juni 2025 yang berlangsung dari El-Arish, Mesir hingga menuju perbatasan Gaza yang ada di wilayah Rafah dengan membawa tekanan politik terhadap negara Mesir dan Israel agar dapat membuka blokade terhadap Palestina yang dilakukan sejak Oktober 2023.
Sungguh rakyat Palestina telah lama dibiarkan sendiri sehingga aksi ini merupakan bentuk rasa kemanusiaan dan kepeduliaan terhadap sesama manusia serta bentuk kemurkaan umat Islam terhadap lembaga-lembaga internasional dan para penguasa Islam yang selama ini telah lama membiarkan Palestina digenosida. Akan tetapi, adanya sekat nasionalisme membuat para aktivis merasa tak bebas bersuara dan dampaknya banyak para aktivis yang ditahan dan dihambat di Kairo Mesir.
Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan bahwa peserta aksi Global March to Gaza harus memiliki izin terlebih dahulu karena banyaknya permintaan akses menuju perbatasan Mesir dan Gaza, sehingga diperlukan untuk menjaga keamanan nasional termasuk regulasi keluar-masuk dan pergerakan individu.
Seorang pejabat Mesir juga menyatakan bahwa pemerintah telah mendeportasi lebih dari 30 aktivis di hotel dan Bandara Internasional Kairo dengan alasan tidak memiliki izin yang diperlukan. Sedangkan Aktivis dan advokat GMTG mengatakan pemerintah Mesir mulai melakukan razia dan deportasi pada 11 Juni 2025 tanpa mengatakan alasan secara eksplisit. Selain itu ada sebanyak 170 peserta ditahan padahal penyelenggara mengaku telah mengikti protokol yang telah ditetapkan oleh pemerintah Mesir. (kompas.tv.com/12/6/2025)
*Nasionalisme Racun Kemerdekaan Palestina*
Saat ini negeri-negeri muslim tidak tegas mengecam perbuatan Israel terhadap Palestina, bahkan tanpa pembelaan, salah satunya adalah Mesir. Pemerintah Mesir secara terbuka tidak menentang blokade yang dilakukan oleh Israel di Gaza dan tidak mendesak untuk segera menghentikan genjatan senjata, sebaliknya pemerintah Kairo Mesir malah membungkam para aktivis yang mengkritik hubungan ekonomi-politik antara Mesir dan Israel. Apakah ini yang dinamakan negeri Muslim?
Ketika ditelisik lebih jauh, alasan dibalik semua itu adalah karena adanya paham nasionalisme. Nasionalisme adalah sekat-sekat antar negara yang sengaja dibuat oleh kafir Barat hanya untuk memecah belah kaum muslim. Dengan adanya sekat nasionalisme maka setiap negara akan berlomba-lomba untuk memajukan negaranya sendiri tanpa menghiraukan negara yang lain, sehingga banyak negara-negara muslim yang menjalin hubungan kerja sama dengan negara kafir. Hal inilah yang berhasil menghilangkan hubungan akidah antar sesama muslim dan mematikan nurani kemanusiaan.
Paham nasionalisme menghalangi para penguasa muslim untuk berlaku adil kepada umat muslim Palestina. Ajaran sistem sekuler-kapitalisme berhasil mematikan hati nurani kemanusiaan yang menganggap genosida yang dirasakan oleh Palestina merupakan urusan dalam negeri bukan masing-masing bukan urusan umat Islam dunia.
*Jihad dan Khilafah Solusi Kemerdekaan Palestina*
Umat muslim saat ini harusnya telah sadar akan narasi buaian negara Barat yang sengaja melenakan umat muslim. Penderitaan yang dialami oleh Palestina sudah sangat lama dan tidak ada solusi yang tepat yang ditawarkan oleh para penguasa Barat. Paham Nasionalisme menganggap permasalahan yang terjadi hanyalah masalah dalam negeri saja, bukan permasalahan umat muslim dunia, sehingga negeri-negeri muslim hanya diam seolah-olah tak mendengarkan jeritan penderitaan yang dialami saudara seakidahnya. Begitupun dengan paham demokrasi yang membawa slogan kekuasaan tertinggi ditangan rakyat dan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM), akan tetapi itu semua lenyap seketika itu menyangkut permasalahan kaum muslim, tidak terkecuali Palestina. Dimana sebenarnya peran PBB sebagai organisasi bangsa-bangsa dunia yang bertugas menjaga perdamaian dunia? Apakah kabar pendertaan Palestina tidak sampai pada telinga dan mata mereka?
Ideologi Kapitalis-Sekuler dengan paham nasionalisme bukanlah solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Sungguh Masyarakat Palestina sudah sangat lama merindukan kemerdekaan dan kedamaian yang sebenarnya, sehingga satu-satunya solusi yang tepat adalah dengan jihad yaitu memerangi kaum kafir dibawah kepemimpinan pemerintahan Islam (khilafah).
Sudah saatnya kaum muslim bangkit menegakkan syariat islam secara kaffah dengan menyeruakan negara yang berlandaskan islam yaitu Khilafah dan itu wajib bagi setiap muslim , sebagai sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang melepaskan tangannya dari bai’at, niscaya ia akan bertemu dengan Allah swt pada hari kiamat tanpa punya alasan, dan barang siapa mati dan tidak ada bai’at di pundaknya, maka matinya bagai mati jahiliah” (HR.Muslim).
Selain itu Allah swt telah memberikan keistimewaan kepada umat Islam sebagai umat yang terbaik yang menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sebagaimana firman Allah swt dalam QS Ali Imran : 110, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
Sebagai umat muslim harusnya merasa malu melihat genosida yang dirasakan oleh Palestina. Jika sesama saudara seakidah saja tidak menyadarkan kita maka yang perlu kita kasihani adalah diri kita sendiri, jika tak mampu melihat sebagai sesama saudara seakidah maka lihatlah sebagai bentuk kemanusiaan. Semoga jihad segera terwujud dibawah bendera pemerintahan Islam (khilafah). Wallahu’alam bishowab.

No comments:
Post a Comment