Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Sedikitnya 17 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu (07-06-2025) dini hari waktu setempat, bertepatan dengan hari kedua perayaan Iduladha, imbas serangan udara dan tembakan militer Israel di wilayah selatan Jalur Gaza, terutama di daerah Khan Younis dan Rafah. Perayaan Iduladha tahun ini menjadi yang keempat bagi warga Gaza sejak dimulainya operasi militer Israel, yang disebut-sebut sebagai upaya genosida dan telah merenggut hampir 54.700 jiwa (beritasatu.com, 07-06-2025)
Pembantaian ini bukan lagi deret hitung, namun deret ukur yang berkali lipat. Muncul tanya yang selalu membayangi, apakah penduduk Gaza hanya angka-angka? Apakah kita telah kehilangan nilai dan arti penting Gaza? Apakah darah rakyat Gaza, kaum muslim, telah menjadi semurah ini? Apakah darah, bagian-bagian tubuh, dan sejumlah besar syuhada telah menjadi tidak berarti bagi umat Islam, padahal kesucian darah ini lebih besar di mata Allah daripada kesucian Ka’bah?
Cucuran air mata tak lagi berarti. Cucuran darah sudah melebihi segala amarah. Terlalu sakit ketika banyak pihak telah menghitung puluhan, bahkan ratusan martir di Gaza setiap hari, beberapa di antaranya adalah jenazah yang tidak teridentifikasi.
Sudah tak bisa membayangkan lagi dalam beberapa pembantaian, jenazah dikumpulkan dalam kantong mayat dan jenazah dihitung berdasarkan beratnya, yakni 70 kilogram untuk orang dewasa dan 18 kg untuk anak-anak. Semua terlalu nyata. Bukan hanya bayangan cerita.
Manusia macam apa yang begitu tega menjatuhkan 100.000 ton bahan peledak di Gaza sejak dimulainya perang pemusnahan di Jalur Gaza 19 bulan lalu. Manusia macam apa yang mengakibatkan lebih dari 62.000 orang menjadi martir atau hilang, dan lebih dari 12.000 pembantaian terjadi.
Syaikhuna Taqiyuddin An-Nabhani menuliskan dalam kitab Nidzomul Hukmi fil Islam, bahwa Rasulullah saw. telah menggambarkan kesucian seorang mukmin daripada Ka’bah, yakni dari Ibnu Umar,
“Aku melihat Rasulullah saw. mengelilingi Ka’bah dan berkata, ‘Betapa harumnya dirimu dan betapa harumnya baumu! Betapa agungnya dirimu dan betapa agungnya kesucianmu! Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kesucian seorang mukmin lebih besar di sisi Allah daripada dirimu: hartanya, darahnya, dan bahwa kita hendaknya tidak menganggapnya, kecuali sebagai kebaikan.’.” (HR Ibnu Majah)
Demikian pula, yang diriwayatkan Ibnu Abbas, “Ketika Rasulullah saw. melihat ke Ka’bah, beliau bersabda, ‘Hai kaum Baitullah, betapa agungnya kalian dan betapa agungnya kesucian kalian! Seorang mukmin lebih agung di sisi Allah daripada kalian.’.” (HR Al-Baihaqi)
Sungguh sudah sekian lama rakyat Gaza, muslim wa mu'min Gaza dibantai oleh tank dan pesawat z*0nis laknatullaah. Kejahatan serta pembantaian brutal dilakukan terhadap Gaza nyata di hadapan seluruh dunia. Kelaparan membunuh mereka sebagaimana bom dan rudal membunuh mereka hingga puluhan dari mereka meninggal karena kelaparan.
Kita tidak bisa tinggal diam. Kita tidak bisa hanya menunggu-nunggu. Kita tidak bisa membiarkan sampai rakyat Gaza dimusnahkan. Sungguh idak akan ada waktu untuk menyesal. Tidak ada jeda sesaat pun karena kita dan mereka bersaudara dalam agama dan iman.
Jangan lupakan firman Allah dalam QS Al-Hujurat: 10,
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Oleh sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”
Jangan lewatkan firman Allah Ta'ala yang mewajibkan kaum muslim untuk membantu yang tertindas sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Anfal: 72,
“Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan…”
Kepada para tentara yang tulus di antara pasukan muslim, kita harus selalu berseru untuk menyelamatkan seluruh penduduk Gaza dan seluruh Tanah yang Diberkati. Kita ingatkan pada mereka untuk menyelamatkan diri sebelum azab Allah menimpa di dunia dan akhirat. Jangan lupakan ayat Allah dalam Surat Muhammad ayat 38,
“Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.”
Menghadirkan Pembebas Gaza
Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Muttafaqun ’alaih dll.).
Imam An-Nawawi dalam syarahnya atas kitab Shahih Muslim, menjelaskan hadis tersebut dengan gamblang bahwa imam/khalifah adalah junnah (perisai). Ia seperti tirai/penutup karena menghalangi musuh menyerang kaum muslim, menghalangi sebagian masyarakat menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam, dan tempat orang-orang berlindung kepadanya.
Demikianlah yang tampak saat umat Islam ada di bawah naungan Khilafah sebagai sistem kepemimpinan Islam. Belasan abad lamanya, kehormatan kaum muslim, harta, darah, bahkan nyawa mereka, benar-benar terjaga dari gangguan musuh-musuhnya. Mereka dipersatukan menjadi satu kekuatan tanpa ada bandingan. Sampai-sampai Khilafah tampil menjadi negara adidaya dengan peradabannya yang terdepan tiada dua.
Kesuksesan Khilafah menjaga dan memuliakan rakyatnya benar-benar tercatat dengan tinta emas sejarah. Begitu pun kewibawaannya masih terngiang-ngiang hingga sekarang di telinga musuhnya. Sampai-sampai janji Allah tentang kebangkitannya pada masa yang akan datang, benar-benar menjadi mimpi buruk bagi mereka, hingga berbagai upaya pun mereka lakukan untuk menghambat penegakkannya.
Segala yang terjadi di Gaza Palestina, bahkan di negeri-negeri yang umat Islamnya tertindas karena agama, semestinya cukup untuk menyadarkan kita tentang urgensi perjuangan mengembalikan Khilafah ke tengah umat. Bukankah solusi bagi Gaza dan lainnya hanyalah pengiriman tentara dan senjata, sedangkan mereka tidak mungkin berharap pada para penguasa yang ada?
Satu-satunya harapan mereka hanya pada hadirnya seorang khalifah, yakni seorang pemimpin yang dibaiat oleh umat untuk menegakkan hukum-hukum Allah saja. Khilafahlah yang akan memobilisasi seluruh kekuatan yang dimiliki umat Islam di dunia. Khilafah pula yang akan menabuh genderang perang pada siapa pun yang menzalimi rakyatnya.
Insyaallah pada saatnya, Khilafah akan mengalahkan semua musuh-musuhnya dan mengembalikan kemuliaan umat sebagaimana seharusnya, termasuk mereka yang hari ini sedang tertindas di Gaza. Dan menghadirkannya adalah kewajiban yang tak bisa ditunda-tunda.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment