Oleh: Siti Aminah, S. Pd (Pegiat Literasi Lainea)
Tamu sudah sepatutnya disambut dengan hangat, apatah lagi mereka itu membawah rahmat dan keberkahan dari sisi Tuhannya. Namun bagaimana posisinya jika yang datang bertamu itu adalah penjahat kelas kakap dan sudah diketahui seantero dunia kelicikannya? Masihkah tetap menyambutnya dengan hangat dan tidak memperdulikan kejahatannya?
Pasti kita akan menjawab secara tegas dan lugas bahwa, tidak layak seorang penjahat disambut layaknya tamu kehormatan. Namun yang terjadi di negeri muslim terbesar hari ini, bukannya menolak kedatangan penjajah, malah disambut sebagai tamu kehormatan.
Sebagaimana yang dilansir oleh Kompas.com, Presiden RI Prabowo Subianto mengucapkan selamat datang kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron dan delegasinya yang telah tiba di Indonesia. Prabowo menyebut kunjungan Macron dan delegasinya ini sebagai kehormatan besar (28/5/2025).
Sambutan hangat dan meriah atas kedatangan kepala negara Perancis, negara yang banyak membuat kebijakan islamophobia perlu menjadi perhatian. Kaum muslimin tidak boleh lupa akan negara-negara yang membuat kebijakan yang memusuhi Islam dan umatnya. Dan Perancis adalah contoh negara yang sering membuat kebijakan yang menguatkan islamophobia, seperti pelarangan hijab, kasus kartun yang menghina Nabi saw, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Seharusnya yang ditampilkan oleh pemimpin muslim terbesar dunia yakni negeri ini menunjukkan sikap tegas untuk menolak kedatangan mereka. Ini juga sebagai bukti terhadap pembelaan atas kemuliaan kaum muslimin, terlebih sebagai negara dengan umat Islam yang jumlahnya mayoritas. Namun dalam sistem sekuler kapitalisme, di mana hubungan negara dilihat berdasarkan manfaat, maka abai atas sikap suatu negara terjadap Islam. Asas manfaat dijunjung tinggi, sementara kehormatan kaum muslimin diabaikan. Demi kepentingan sesaat dan menyesatkan.
Lihat saja faktanya bahwa kedatangan mereka ke sini untuk berinvestasi. Dilansir oleh metrotvnews, pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwana menilai kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia, khususnya ke Akademi Militer (Akmil) Magelang dan Candi Borobudur, bukan sekadar simbolis. Menurutnya, kunjungan ini mencerminkan dua fokus utama dalam hubungan bilateral Indonesia–Prancis, penguatan kerja sama pertahanan dan diplomasi kebudayaan (29/5/2025).
Mungkin secara kasat mata kedatangan mereka adalah untuk membangun negeri ini, tapi tentu tidak ada makan siang gratis hidup dalam sistem kapitalisme sekularisme. Yang pasti harus ada timbal balik antara kedua negara. Meskipun sudah menjadi rahasia umum mereka ini adalah negara pembenci kaum muslimin.
Sebagaimana kita tau bahwa banyak negara di dunia, termasuk negara-negara di Eropa mengizinkan kejahatan dan kebencian terhadap umat Islam dengan melegalkan Islamofobia. Itu menunjukkan bagaimana banyak negara memosisikan diri sebagai anti-Islama (sindonews, 13/3/2024).
Namun berbeda dengan Islam. Islam sebagai agama sekaligus sistem aturan dalam kehidupan memberikan tuntunan bagaimana bersikap terhadap orang yang memusuhi agama Allah. Apalagi jika banyak kebijakan yang menyengsarakan umat Islam.
Dalam Islam, negara-negara di dunia hanya dibagi dua, darul Islam dan darul kufur. Islam juga sudah menentukan tuntunan bersikap terhadap negara kafir sesuai posisi negara tersebut terhadap Daulah Islam. Tuntunan Islam ini seharusnya menjadi pedoman setiap muslim, terlebih penguasa. Apalagi di tengah penjajahan Palestina yang mendapat dukungan dari penguasa Barat.
Ada banyak contoh sikap tegas para Khalifah atas negara penjajah dan kebijakannya yang menghina Islam. Sebagaimana sikap Khalifah Mu'tasim Billah menolong perempuan terjadi pada tahun 837 Masehi ketika seorang budak wanita Muslimah dari Bani Hasyim dilecehkan oleh orang Romawi di pasar. Wanita itu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu'tashim Billah dengan lafadz "Waa Mu'tashimaah!" (di mana engkau wahai Mu'tashim... Tolonglah aku!). Kabar ini sampai kepada Khalifah Al-Mu'tashim Billah, dan beliau segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang kota Ammuriah (Turki).
Coba bayangkan betapa terjaganya kehormatan kaum muslimin dibawah kepemimpinan Islam dan Institusi yang digunakan adalah Islam. Satu perempuan saja yang dilecehkan seudah menggemparkan satu kota.
Sudah saatnya umat Islam memiliki negara yang kuat dan berpengaruh dalam konstelasi hubungan negara-negara di dunia sebagaimana pernah diraih oleh Daulah Islam dan kekhilafahan selanjutnya. Umat harus berjuang kembali untuk mewujudlkan khilafah yang menjadi negara adidaya dan disegani negara-negara lain. Karena sejatinya Islam tidak akan pernah tunduk terhadap penjajah yang nyata-nyata memusuhi dan membenci Islam.
Wallahu a‘lam bish-shawab.

No comments:
Post a Comment