Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fatamorgana MBG Bergizi dan Kasus Keracunan

Saturday, June 14, 2025 | Saturday, June 14, 2025 WIB Last Updated 2025-06-14T12:58:48Z

Oleh: Ummu Almahira 

(Aktivis Muslimah)


Kualitas hidup yang baik mampu membentuk individu yang baik, namun apa jadinya jika pemenuhan gizi tidak tercukupi dengan baik? Mungkinkah terbentuk generasi yang kuat dan cerdas?


Selama periode tahun 2025 hingga kini telah dilaporkan di 10 provinsi republik Indonesia terdapat 17 kejadian keracunan. Taruna Ikrar, selaku Kepala Badan Pengawas Obat dan Makan (BPOM) menyampaikan temuan kejadian luar biasa keracunan pangan pada makan bergizi gratis (MBG). (detik.com, 16/5/2025)


Upaya pemerintah mengatasi masalah pertumbuhan anak dengan fokus memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah, malah mendatangkan hal yang justru berbahaya, sebab program yang dilaksanakan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Telah ditemukan KLB pada MBG yang akhirnya meracuni para anak didik yang menerima program ini.


Program yang dicanangkan untuk menyelesaikan permasalahan yang berkembang di tengah masyarakat pada faktanya tak mampu menyelesaikan masalah yang ada, malah menambah masalah baru. Ini potret dari abainya negara terhadap kebutuhan dasar rakyat nya, dimana seharusnya rakyat merasa aman dan terjamin atas kinerja negara, namun faktanya tidak.


Keracunan yang tercatat sebagai KLB bisa terjadi karena kapitalisasi industri dalam negeri ini yang lebih mengedepankan keuntungan daripada keselamatan dan kesehatan rakyatnya. Dana yang ada dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menyediakan MBG dengan modal yang kecil untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dari anggaran yang telah ditetapkan. 


Negara gagal memenuhi kebutuhan gizi generasi, sebab adanya pasar bebas membiarkan seluruh produk masuk dan beredar luas di tengah masyarakat walau pun produk tersebut berbahaya. Alhasil anak didik lebih tertarik mengonsumsi makanan yang tidak memiliki nilai gizi dibandingkan mengonsumsi makanan yang sehat.


Ditambah dengan adanya problem ekonomi dimana rakyat memiliki pendapatan minim dan banyaknya pengangguran yang dialami tulang punggung keluarga di tengah badai pemberhentian hubungan kerja (PHK). MBG yang didapatkan saat makan siang tidak menjadi solusi kebutuhan gizi harian anak. Artinya, kebutuhan gizi anak merupakan masalah yang kompleks, dan tidak selesai masalahnya dengan hanya MBG satu kali dalam sehari dengan porsi atau sajian makanan yang apa adanya.


Islam Solusi Tuntas Persoalan Umat

Islam mampu memberikan solusi mendasar bagi kebutuhan setiap individu umatnya. Negara memiliki tugas sebagai pengurus yang wajib mengurus umatnya termasuk memenuhi kebutuhan hidup umat dan kesejahteraan umat. Rasulullah Saw bersabda: Imam atau kepala negara adalah pengurus rakyat, dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya (HR Bukhari dan Muslim).


Kebutuhan pemenuhan gizi demi tumbuh kembang anak tidak bisa dianggap sepele, sebab anak yang tidak memiliki gizi yang cukup tidak akan bisa bertumbuh secara optimal baik dari segi fisik mau pun intelektual. Jika intelektual anak tidak menjadi perhatian dan banyak anak yang intelektualnya di bawah rata-rata maka tidak akan terwujud generasi cemerlang pencetak peradaban yang mulia.


Islam menawarkan solusi pemenuhan kebutuhan gizi dari akar permasalahannya yaitu penyediaan lapangan kerja bagi pria dewasa, sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan orang yang menjadi tanggung jawabnya. Negara akan mengelola sumber daya alam (SDA) yang ada di dalam negeri tanpa intervensi asing, aseng dan pihak swasta lainnya. Sehingga lapangan pekerjaan dari pengolahan SDA akan terbuka bagi umat yang hidup di bawah naungan Khilafah. Keuntungan pengolahan SDA yang sejatinya hak milik umum, akan dikembalikan kepada umat.


Untuk orang yang lemah dan tidak mampu, negara akan memberikan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Artinya, tidak ada orang yang tidak bisa makan dan kesulitan memenuhi kebutuhan gizi hariannya. Islam mampu mencetak generasi cemerlang pencetak peradaban yang mulia. Wallahu'alam bi shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update