Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

𝐀𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐇𝐚𝐣𝐢 𝐌𝐚𝐛𝐫𝐮𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐚𝐭𝐮𝐚𝐧 𝐔𝐦𝐚𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐚𝐛𝐮𝐫

Monday, June 16, 2025 | Monday, June 16, 2025 WIB Last Updated 2025-06-16T13:16:38Z
𝐀𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐇𝐚𝐣𝐢 𝐌𝐚𝐛𝐫𝐮𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐚𝐭𝐮𝐚𝐧 𝐔𝐦𝐚𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐊𝐚𝐛𝐮𝐫


Penulis: Roes Mie

 (Pembelajar)


Pemerintah Arab Saudi menetapkan Iduladha pada 6 Juni 2025, sementara hari Arafah sebagai puncak rangkaian musim haji, berlangsung pada 5 Juni 2025. Tahun ini, sebanyak 1,83 juta umat muslim dari berbagai penjuru dunia berpartisipasi, termasuk Indonesia, yang memperoleh kuota 221.000 jemaah.


Patut kita syukuri bahwa tahun ini umat Islam merayakan Iduladha secara serentak. Dari ibadah haji dan Iduladha, kita dapat mengambil pelajaran bahwa keduanya berpotensi mempersatukan umat muslim sedunia, meskipun memiliki latar belakang yang beragam, baik dari segi adat istiadat, bahasa, warna kulit, status sosial, maupun kebangsaan. Saat wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah, jutaan muslim berkumpul dalam satu waktu dengan pakaian ihram yang sama. Sekat-sekat perbedaan lenyap, sebab mereka tunduk sepenuhnya pada perintah Allah Swt. Sementara itu, di berbagai belahan dunia, miliaran manusia juga berhimpun untuk merayakan Iduladha.  


Ibadah haji mengajarkan kepada kita bahwa semua manusia setara di hadapan Allah. Mereka meninggalkan atribut duniawi, seperti status, kekayaan, dan kebangsaan, serta berserah diri dengan ketaatan mutlak kepada-Nya. Bayangkan, jika seluruh umat muslim yang berjumlah sekitar 2,04 miliar jiwa, bersatu dalam naungan kalimat tauhid. Betapa dahsyat persatuan tersebut! Umat Islam akan kembali disegani oleh berbagai bangsa di dunia, menjadi kekuatan yang menentukan arah peradaban, serta membangun tatanan kehidupan yang berkeadilan dan beradab dengan kepemimpinan berbasis pemikiran Islam. 


Fakta masih menunjukkan kondisi berlawanan, ketika banyak dari umat muslim yang kembali dari ibadah haji, kembali terperangkap dalam kesombongan, asabiah, dan sekat-sekat nasionalisme. Persatuan yang tampak saat haji dan Iduladha ternyata semu. Umat muslim masih tercerai-berai, bahkan saling memfitnah satu sama lain. Jika ibadah haji hanya berhenti pada gelar "Pak Haji" atau "Bu Haji," maka Rasulullah ﷺ tidak akan melanjutkan perjuangannya setelah menunaikan haji. Persatuan semu ini telah berlangsung hampir satu abad, sejak runtuhnya kepemimpinan Islam dan penjajahan gaya baru menghantui umat muslim.  


Kapitalisme telah menciptakan perbudakan modern, mengeksploitasi kekayaan negeri-negeri muslim. Runtuhnya kehidupan Islam di awal abad ke-20 disertai dengan dominasi pemikiran sekularime-kapitalisme, yang menjadi problematika terbesar umat saat ini. Akibatnya, muslim semakin jauh dari gambaran nyata kehidupan Islam yang sesungguhnya. Mereka hanya fokus pada ibadah ritual, karena pemahaman yang telah ditanamkan selama ini mengesankan bahwa Islam tidak lebih dari sekadar aturan ibadah. Pola pikir ini terbentuk akibat pengaruh pemikiran sekularisme-kapitalisme tersebut, yang kian membelenggu umat.  


Perhatikan bagaimana umat Islam saat ini mengalami kemerosotan dalam pemikiran dan tindakan. Ditambah dengan semakin gencarnya perang pemikiran dan budaya yang diarahkan ke dunia Islam, mereka berusaha menghancurkan umat secara total. Nasionalisme dijadikan alat pemecah belah, membuat umat Islam terkotak-kotak dalam batasan negara masing-masing. Inilah penyebab umat muslim dengan jumlah yang begitu besar tak mampu berbuat apa pun atas penderitaan saudara-saudara mereka di Palestina, Uighur, dan berbagai negeri muslim lainnya. Tak ada satu pun negeri muslim yang berupaya membebaskan wilayah-wilayah Islam yang terjajah. Palestina menjadi saksi bisu setiap saat, berjuta nyawa manusia termasuk bayi tak berdosa, dibombardir oleh Israel. Umat Islam masih hanya diam dan tak mampu mengambil tindakan tegas, selain sekadar kecaman kosong. Nasionalisme telah meremukkan ikatan akidah Islam secara brutal!  


Akidah Islam dan hukum-hukumnya yang seharusnya menjadi pemersatu umat, telah dicampakkan dan digantikan oleh pemikiran asing. Tak heran, jika umat hanya bersatu berdasarkan ikatan keluarga, kesukuan, organisasi, atau bahkan hobi, sebagai pemersatu yang sangat lemah. Islam melarang persatuan yang didasarkan pada golongan dan kesukuan.  


Umat muslim harus menyadari bahwa tidak ada persatuan hakiki kecuali yang didasarkan pada akidah Islam. Akidah Islam akan membentuk umat yang memiliki pemikiran, perasaan, dan solusi yang sama terhadap berbagai persoalan yang dihadapi saat ini. Umat Islam harus hidup dalam satu sistem hukum, yaitu syariat Islam, dan mewujudkan kepemimpinan Islam yang satu untuk mencapai persatuan hakiki, yang dapat menyelesaikan segala problematika hingga ke akar-akarnya, sebagaimana yang Allah kehendaki.  


Allah Swt. berfirman dalam QS Ali Imran ayat 103:  


"𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘭𝘪 (𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢) 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘤𝘦𝘳𝘢𝘪-𝘣𝘦𝘳𝘢𝘪. 𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 (𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘑𝘢𝘩𝘪𝘭𝘪𝘢𝘩) 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘶𝘴𝘶𝘩-𝘮𝘶𝘴𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘴𝘢𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶, 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘯𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩."


Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update