Oleh: Nani, S.Pd.I (Relawan Opini Andoolo, Konawe Selatan)
Krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza menjadi cerminan nyata dari penderitaan yang belum kunjung usai akibat agresi militer Israel. Baru-baru ini, kabar duka kembali menyelimuti dunia.
Sebagaimana yang dilansir oleh (CNN Indonesia, 18/4/2025), Fatima Hassouna, jurnalis foto yang dikenal luas karena pesan-pesan dukungannya untuk Gaza, tewas dalam serangan yang menghantam rumahnya di Jalan Al Nafaq, Kota Gaza. Bersama tujuh anggota keluarganya, ia kehilangan nyawa. Orang tuanya selamat, tetapi terluka parah dan sekarang dirawat intensif.
Di tengah blokade yang memperburuk situasi, masyarakat Gaza harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Kelangkaan makanan mendorong mereka untuk mengonsumsi sumber protein yang tidak biasa. Salah satu warga, Majida Qanan, menyebut bahwa daging kura-kura menjadi alternatif untuk bertahan hidup. Bahkan anak-anak pun harus diyakinkan bahwa daging ini aman dikonsumsi dan memiliki rasa seperti daging sapi mudamuda (CNN Indonesia, 19/4/2025).
Kedua peristiwa ini semakin menguatkan gambaran bahwa penderitaan rakyat Palestina terus berlanjut tanpa adanya keadilan. Tindakan represif yang dilakukan oleh pasukan penjajah Zionis telah melampaui batas kemanusiaan. Ini mencerminkan kegagalan sistem sekuler kapitalisme yang mengabaikan nilai kehidupan manusia. Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW menekankan betapa mulianya nyawa seorang mukmin, bahkan lebih berharga dari dunia sekalipun.
Walaupun kecaman datang dari berbagai negara, agresi militer Israel terus berlanjut tanpa hambatan berarti. Sayangnya, banyak pemimpin negara-negara Muslim telah menyatakan protes mereka tanpa mengikuti tindakan nyata. Di tengah kelesuan sikap pemimpin dunia Islam, mulai terdengar seruan jihad dari kalangan ulama, namun realisasinya terhambat oleh kuatnya sentimen nasionalisme warisan penjajah yang masih mencengkram umat Islam hingga kini.
Jika umat Islam tetap terpecah oleh batas-batas negara dan identitas nasional, maka harapan untuk membebaskan Palestina akan selalu menjadi impian semu. Karena itu, penting bagi umat Islam di seluruh dunia untuk menyadari bahwa perjuangan Palestina adalah tanggung jawab kolektif, bukan sekadar urusan satu bangsa.
Seruan jihad dari para ulama internasional merupakan sinyal kebangkitan. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia semestinya mampu tampil di barisan terdepan dalam mendukung seruan tersebut. Dorongan dari masyarakat, termasuk kaum muslimah, agar pemerintah menunjukkan sikap tegas dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina semakin kuat dari waktu ke waktu.
Islam mengajarkan prinsip tolong-menolong dalam kebaikan. Umat Islam diibaratkan satu tubuhbisshawab, jika satu bagian terluka, seluruhnya akan merasakan sakit. Karena itu, kewajiban untuk membantu saudara seiman di Palestina tidak bisa lagi ditunda. Bila kekuatan militer umat Islam disatukan, bukan tidak mungkin penjajahan bisa diakhiri.
Momen ini semestinya menjadi titik balik untuk menyatukan langkah. Umat Islam harus bersuara dalam satu barisan, mendesak para pemimpin mereka untuk memenuhi amanah membela Palestina secara sungguh-sungguh, termasuk dengan mempertimbangkan penegakan sistem kepemimpinan Islam yang menyeluruh. Hanya dengan meninggalkan sekat nasionalisme dan menyatukan tekad, kekuatan umat bisa bangkit melawan ketidakadilan.
Islam menyediakan pendekatan sistemik untuk mengatasi dominasi imperialisme dan ketimpangan kapitalisme, namun implementasinya mensyaratkan keberadaan negara berdaulat yang mampu memengaruhi opini global dan melindungi umat Islam secara konkret. Dalam hal ini, keberadaan institusi kepemimpinan global seperti Daulah Khilafah menjadi penting untuk diwujudkan sebagai penggerak utama dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan menegakkan keadilan bagi seluruh umat manusia.
Wallahu a’lam bisshawab.

No comments:
Post a Comment