Penulis: Samsinah, Amd.Keb
(Muslimah Peduli Umat)
Derita muslim Gaza tak kunjung berhenti akibat agresi militer Yahudi. Berbagai serangan brutal penjajah Zionis Israel terus dilancarkan, berbuat di luar batas kemanusiaan. Kecaman dunia seolah dianggap angin lalu, sama sekali tak dihiraukan.
Kembali pada hari Senin, tanggal 21/4/2025 sejak fajar, militer Israel kembali menewaskan sedikitnya 29 warga Palestina di seluruh Gaza dengan banyak korban jiwa dalam serangan terhadap kamp-kamp tenda untuk orang-orang terlantar. ( Aljazeera.com)
Pertahanan Sipil Palestina dan Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina menyerukan penyelidikan independen atas kematian 14 pekerja darurat Palestina dan seorang karyawan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) dan organisasi hak asasi manusia Israel Breaking the Silence menolak temuan penyelidikan Israel pada hari minggu atas pembunuhan brutal bulan lalu.
Penderitaan kaum muslim di Gaza seolah tak berujung. Hari demi hari, mereka terus dilanda kelaparan dan krisis pangan. Daging kura-kura dianggap sebagai pangan alternatif setelah tidak adanya sumber protein lain. Warga Palestina terpaksa memakan daging kura-kura untuk memenuhi kebutuhan protein mereka imbas krisis makanan akibat pengepungan dan genosida yang dilakukan Israel. (CNNIndonesia.com)
Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) memperingatkan tentang krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza dengan menyatakan bahwa setidaknya dua juta orang yang sebagian besar mengungsi saat ini hidup tanpa sumber pendapatan apa pun, dan sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk memenuhi kebutuhan pangan utama mereka.
Mengutip dari The Peninsula, Minggu, 20 April 2025, WFP menyatakan keprihatinan mendalam atas penurunan tajam stok pangan, dengan memperingatkan bahwa Jalur Gaza berada di ambang bencana kemanusiaan.
Situasi kritis ini diperparah dengan dilakukannya penutupan perbatasan yang sedang berlangsung oleh Israel, yang mencegah pengiriman pasokan pangan penting ke Jalur Gaza. Dimana Gaza sangat membutuhkan aliran pangan yang tidak terputus dan terus-menerus untuk menghindari keruntuhan total ketahanan pangan. (Metrotvnews.com, 20 April 2025).
Kondisi di atas menggambarkan Gaza yang semakin mengerikan. Zionis secara brutal menyerang tanpa belas kasih menghabisi warga Gaza hingga di luar batas kemanusiaan, melanggar hukum internasional, dan mengabaikan nilai-nilai moral yang seharusnya dijunjung tinggi oleh masyarakat dunia. Pembunuhan, pengusiran, dan blokade yang telah berlangsung bertahun-tahun kini disertai dengan kekejaman yang lebih terang-terangan dan sistematis.
Ironisnya, meski dunia internasional telah menyuarakan kecaman keras, penjajah Zionis tetap tak bergeming. Resolusi PBB, pernyataan para pemimpin dunia, dan desakan dari berbagai organisasi kemanusiaan tampaknya hanya menjadi angin lalu. Dukungan tanpa syarat dari beberapa negara besar membuat mereka merasa kebal terhadap hukum dan tekanan global.
Disisi lain, Bahkan ketika seruan jihad sebagai solusi mulai menggema di tengah-tengah Umat Islam hari ini, respon para penguasa Arab dan Dunia Islam bukan saja berdiam diri, tetapi mereka bahkan menutup rapat pintu perbatasan demi mencegah kedatangan pengungsi Gaza yang menderita. Ironinya, para penguasa Muslim justru dengan terang-terangan membiarkan negerinya menjadi tempat kedatangan pesawat tempur AS untuk membantu zionis Yahudi. Mereka juga membuka pelabuhan untuk kapal-kapal pembawa minyak ke negeri Yahudi. Bahkan Mereka juga masih membuka hubungan perdagangan dengan Yahudi.
Para penguasa Muslim sama sekali enggan menggerakkan jutaan tentara mereka, ribuan tank baja dan kendaraan tempur, pesawat jet dan pengebom serta drone militer yang mereka miliki. Semua dibiarkan tetap berada di barak-barak militer dan gudang persenjataan. Tak ada pertolongan yang mereka berikan untuk Gaza dan balasan atas kekejaman militer zionis Yahudi
Sikap berdiam diri para penguasa tersebut adalah kemaksiatan besar di hadapan Allah SWT. Sebabnya, Allah SWT telah memerintahkan umat Islam untuk memberi pertolongan pada saudaranya sesama muslim, sebagaimana termaktub dalam QS. Al Anfal (8) ayat 72 :
"Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, kalian wajib memberikan pertolongan."
Allah pun mengancam dengan azab yang pedih bagi kaum muslim yang enggan menolong saudaranya (QS. At Taubah : 39)
“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih serta menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Allah SWT juga menyatakan umat muslim adalah bersaudara sebagaimana firman-Nya dalam QS. Alhujurat ayat 10 :
”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang shahih,
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Selama umat Islam masih terkungkung oleh nasionalisme warisan penjajah, maka persatuan hakiki masih jauh panggang dari api, resolusi jihad pun tidak akan mampu menggerakkan umat. Satu-satunya jalan untuk mengembalikan marwah umat Islam adalah mencampakkan nasionalisme, menyadari sepenuhnya bahwa penjajahan hanya bisa diakhiri dengan persatuan umat dalam satu kepemimpinan global, yaitu sebuah institusi negara yang pernah berjaya selama 13 abad, yang akan mengayomi dan melindungi warga negaranya dari segala bentuk penjajahan, yaitu Khilafah Islamiyah ala minhajin nubuwah, sebagaimana sabda Nabi saw :
" Sesungguhnya imam (Khalifah) adalah perisai orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya."(HR Muslim)
Umat Islam memiliki tanggung jawab besar untuk menyeru dan menyatukan kaum muslimin di seluruh penjuru dunia dengan satu seruan yang sama. Seruan ini bukan sekadar ajakan kosong, tetapi panggilan yang lahir dari kesadaran akan pentingnya ukhuwah Islamiyah dan solidaritas terhadap penderitaan sesama muslim, di mana pun mereka berada.
Kita wajib terus-menerus mengingatkan umat akan pentingnya menjaga persatuan dan menjadikan penderitaan saudara-saudara kita sebagai penderitaan bersama. Umat tidak boleh diam, apalagi terpecah. Setiap peristiwa yang menimpa saudara kita, seperti yang terjadi di Palestina, harus menjadi pengingat bahwa kita satu tubuh—satu jiwa.
Lebih dari sekadar empati, umat harus bergerak secara nyata. Sudah menjadi kewajiban bagi kaum muslimin untuk menuntut para penguasa mereka agar menjalankan amanah besar yang ada di pundak mereka: menolong saudara-saudara yang tertindas dengan langkah konkret, termasuk melalui pelaksanaan jihad yang syar’i dan strategis, serta membangun kembali institusi pemersatu umat, yaitu khilafah, yang dapat menjadi pelindung sejati bagi kaum muslimin dan penjaga kehormatan Islam di muka bumi.
Untuk mewujudkan persatuan global dibutuhkan keseragaman langkah, kesamaan tujuan dan satu kepemimpinan agar gerakan dakwah ini terarah. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, "Kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir.". Ungkapan ini menekankan pentingnya perencanaan dan tindakan terstruktur dalam menggerakkan umat menuju persatuan hakiki.
Pemimpin dakwah itu adalah jamaah dakwah ideologis yang menyerukan jihad dan tegaknya khilafah., yang fikroh dan thoriqoh dakwahnya sesuai yang dicontohkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Para pengemban dakwah harus terus bergerak dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, baik dengan jiwa dan raganya maupun dengan hartanya, agar persatuan umat terwujud. Jamaah dakwah ideologis ini berjuang bersama menegakkan khilafah. Khilafah lah yang akan mengurus umat dengan syariah Islam dan membebaskan tanah Palestina dengan jihad fisabilillah.
Wallahu a'lam biash-shawaab

No comments:
Post a Comment