Oleh : Nursiyah Hidayati
Baru 2 hari Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) digelar, panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2025 menemukan 14 kecurangan. Pada hari pertama, Rabu (23 April 2025) panitia menemukan 9 kecurangan. Kemudian pada hari Kamis (24 April 2025) menemukan 5 kecurangan. Menurut ketua panitia SNPMB, Prof. Eduart Wolok beberapa peserta melakukan pencurian soal dengan teknologi canggih, yaitu menyelundupkan perekam yang tidak terdeteksi oleh alat metal detector (kompas.com 25/4/2025)
Disisi lain Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merilis laporan Survei Penilaian Integritas (SPI) pendidikan 2024 yang menyebutkan bahwa kasus menyontek masih ditemukan pada 78% sekolah dan 98% kampus. Pelaku menyontek didominasi oleh mahasiswa (detik.com 25/4/2025). Dari laporan SPI secara keseluruhan menyimpulkan bahwa Indeks Integritas Pendidikan di Indonesia mempunyai skor 69,50. Skor ini menunjukkan Indonesia masih di level. "Korektif". Artinya penanaman nilai integritas sudah mulai dilakukan, namun pelaksanaan dan pengawasannya belum merata, konsisten dan optimal.
Sungguh kondisi ini sangat memprihatikan. Ditengah perjuangan menuju cita-cita Indonesia emas. Wajah generasi menunjukkan akhlak yang tidak baik. Tidak memiliki rasa percaya diri yang kuat. Nilai kejujuran yang jauh, serta pembangunan karakter yang tidak sesuai harapan.
Tidak berlebihan jika disebutkan generasi hari ini hanya berorientasi pada hasil. Mereka tidak mau terikat dengan nilai kebaikan dalam meraih suatu tujuan. Kebahagiaan mereka diukur dengan keberhasilan sesuatu yang ingin mereka raih tanpa mengindahkan nilai -nilai akhlak sebagai siswa bahkan mahasiswa. Inilah buah dari sistem pendidikan yang berlandaskan asas sekularisme. Dimana nilai-nilai agama dipisahkan dari semua kehidupan di dunia.
*Generasi Tangguh hanya dalam Islam*
Berbeda dengan sistem Pendidikan Islam. Islam tidak memisahkan antara agama dan kehidupan dunia. Maka nilai-nilai kebaikan (agama) senantiasa mengiringi setiap aktivitas manusia.
Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membangun manusia yang memiliki kepribadian Islam yang kuat. Berpikir cerdas dan memiliki kecenderungan berbuat sesuai ajaran agama (kebaikan). Kebahagiaan tidak diukur dengan materi/hasil yang bisa diraih. Namun Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan tertinggi adalah ketika seorang bisa meraih ridha Allah SWT.
Sehingga dalam pemanfaatan teknologi yang ada hanya akan digunakan untuk kebaikan manusia dan kemajuan bangsa. Skill mereka akan terasah karena Sistem Pendidikan Islam mengajarkan untuk menggali potensi manusia untuk memakmurkan bumi.
Generasi berakhlak mulia akan terlahir karena Islam mengajarkan bahwa seorang muslim terikat dengan syariat Islam. Maka jika mereka melanggarnya, konsekuensinya tidak hanya di dunia tetapi pertanggung jawaban hingga akhirat.
Sungguh telah ditunjukkan bukti banyaknya generasi yang terlahir dalam sejarah peradaban Islam yang cemerlang. Siapa tak kenal Shalahuddin Al Ayyubi, sang penakluk Baitul Maqdis. Muhammad Al Fatih, pemuda penakluk Konstantinopel. Ibnu Sina, seorang ahli kedokteran yang tak ketinggalan dalam ilmu tsaqofah Islam. Al khawarizmi, penemu angka nol ditengah peradaban Romawi dengan angka-angka yang cukup sulit, Abbas Ibnu Firnas sang penemu pesawat udara. Dan masih banyak deretan nama ilmuwan cemerlang lainnya.
Mereka semua terlahir dari sistem pendidikan Islam yang berasal dari wahyu, Allah pencipta alam semesta.
Maka bagaimana generasi hari ini akan kita bangun? Tentu kita akan memilih sistem yang akan membawa kebaikan bagi negeri tercinta ini.

No comments:
Post a Comment