Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam adalah Solusi Hakiki, atasi Bencana Banjir

Tuesday, May 20, 2025 | Tuesday, May 20, 2025 WIB Last Updated 2025-05-20T13:05:38Z

 




Oleh Sujilah

Pegiat Literasi



Hujan adalah berkah buat semuanya, tapi tidak buat  warga Bandung.  setiap musim hujan selalu dihantui kecemasan dan kewaspadaan, karena selalu sebagai langganan banjir.


Beberapa daerah  di Kota Bandung  dilanda banjir besar, yang  menyebabkan 34.826 jiwa atau 11.032 kepala keluarga terdampak dan 246 kepala keluarga mengungsi. Serta fasilitas umum lainnya seperti sekolah, tempat Ibadah, terendam banjir yang ketinggian  antara 30 hingga 120 cm. Kecamatan yang sering menjadi langganan banjir diantaranya, Dayeuhkolot Baleendah, Bojongsoang, Rancaekek dan  Cimaung  yang biasanya tidak banjir. (Radarbandung.Id.com, 8/5/2025)


Menurut Hannah, Manajer Advokasi dan wahana lingkungan hidup  indonesia (Walhi)  mengatakan bahwa bencana banjir yang sering melanda Jawa Barat karena minimnya kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) serta regulasi pembangunan yang longgar dan juga dikarenakan alih fungsi lahan secara masif dari ruang terbuka hijau pertanian menjadi kawasan pemukiman sehingga mengurangi daya serap air di kawasan hulu. Dengan adanya  perubahan fungsi lahan membuat air hujan tidak lagi terserap secara maksimal, sehingga banjir dimana-mana.


Akar Masalah Banjir

Banjir yang sering terjadi bukan semata karena curah hujan tinggi atau faktor geografis. Semua ini karena alih fungsi lahan sebagai daerah resapan air hilang, serta banyaknya pembangunan infrastruktur yang melanggar Amdal atau (lebih mengutamakan para kapital). Lingkungan masyarakat yang tidak sadar yaitu  dengan membuang sampah sembarangan adalah faktor penyebab terjadinya banjir.  Sebetulnya akar masalahnya adalah kebijakan   para kapitalistik yang membuat aturan sendiri, sehingga rakyat diabaikan  hanya  demi keuntungan materi.  Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengatakan bahwa kerusakan akibat alih fungsi lahan dijadikan tempat pemukiman/hunian.


Apalagi  sekarang dalam menjalani kehidupan kita dijauhkan dari agama, karena diterapkannya sekularisme-kapitalisme oleh negara. Sistem  ini yang melahirkan paham liberalisme   sebagai keturunannya  yaitu memberikan kebebasan kepada para pengusaha (pemilik modal) untuk membuka lahan-lahan baru.  Yang dialihfungsikan menjadi pabrik atau perumahan, tanpa memperdulikan kondisi lingkungan jika musim hujan tiba.

Para pemilik modal  mendirikan pemukiman hanya  untuk mencari keuntungan semata. Dan tidak memperhitungkan dampak yang terjadi. Seharusnya pemerintah bertindak tegas dalam pemberian perizinan alih fungsi lahan. Sehingga tampak sekali kebijakan pemerintah lebih memihak pada pengusaha dan tidak memperdulikan penderitaan rakyat.


Bencana banjir terjadi, jelas bukan karena  faktor alam saja. Semua ini tidak lepas dari kebijakan penguasa yang salah kaprah dalam pembangunan  tanpa memperhatikan efek negatifnya terhadap manusia dan lingkungan. Dengan memenuhi kepentingan para kapitalis,  semua ini justru menjadi faktor dominan penyebab banjir yang terus-menerus.


Islam Mengatasi Banjir

Islam selalu memperhatikan setiap permasalahan yang terjadi  dalam kehidupan, bahkan menawarkan  solusi yang tepat untuk mengatasi banjir.


Sekarang kita melihat adanya bencana yang demikian parah,  maka patut sadari bahwa itu merupakan kerusakan yang disebabkan oleh manusia, karena  tidak mau menjalankan syariat Allah.  

Sebagaimana dalam firman Allah Swt: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs.Ar-Rum[30]: 41)


Mereka selalu mengabaikan bahkan mencampakkan hukum Islam dalam kehidupan, sehingga bencana alam sering terjadi.

Di dalam sistem Islam  negara akan melakukan mitigasi bencana banjir sebelum (pencegahan) dan sesudah terjadi bencana.  Bahkan negara juga akan mengatur kebijakan pengelolaan tata ruang, dengan  kondisi alam  serta melarang siapa pun memperhatikan yang akan mendirikan bangunan di daerah rawan banjir. Pemerintah  akan membangun  sistem drainase yang baik, membangun sumur-sumur resapan yang bisa di manfaatkan bila musim kemarau tiba, membangun kanal dan sungai buatan, dan membangun bendungan yang bisa menampung volume air hujan secara efektif.


Negara  juga melarang pembukaan lahan  yang besar-besaran yang bisa menimbulkan erosi. Bahkan siapa pun yang melanggar akan ditindak tegas, melalui sanksi yang  bisa memberi efek jera.


Di samping itu negara akan membentuk  badan yang menanggulangi bencana  dan memfasilitasi peralatan yang memadai dan menetapkan daerah-daerah  tertentu sebagai cagar alam yang dilindungi  dan tidak boleh dimanfaatkan tanpa tidak ada izin.


Dalam Islam juga negara akan mengedukasi masyarakat untuk turut bertanggung jawab terhadap lingkungan, dengan  menjaga dan merawatnya,  misalnya dengan tidak membuang sampah di sungai dan saluran air.


Bilamana pencegahan udah dilakukan semaksimal mungkin, ternyata masih tetap banjir maka negara akan melibatkan seluruh komponen untuk mengevakuasi warga  dengan kekuatan yang optimal. Yang sebelumnya masyarakat sudah mendapatkan edukasi dan menghadapi bencana dengan selamat.


Dengan Kembali ke aturan yang benar yaitu menerapkan Islam secara menyeluruh adalah solusi tuntas dalam menyelesaikan masalah kehidupan manusia. Salah satunya mengatasi banjir. Yaitu ada aturan yang harus diperhatikan agar seluruh manusia dan alam semesta tetap dalam keadaan  sejahtera, aman dan penuh dalam keberkahan.  Hanya dengan aturan Islam sejatinya yang bisa menjadi pengatur kehidupan  manusia di dunia bahkan di semua aspek kehidupan.



Wallahu’alam bisshowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update