Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

BUKAN UTOPIA

Friday, May 02, 2025 | Friday, May 02, 2025 WIB Last Updated 2025-05-02T00:05:12Z

 

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Senin (21/4/2025) malam bahwa dia tidak akan menerima pembentukan kekhalifahan mana pun di pantai Mediterania. Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa respons Israel tidak akan terbatas pada Yaman, tetapi akan meluas ke Lebanon dan wilayah lainnya (arrahmah.id, 23-04-2025).

Tampak melalui pernyataan ini, Netanyahu sedang menegaskan tekad kuatnya untuk terus melakukan penyerangan militer dan memenangi perang di Gaza, sekalipun dunia mengecamnya. Dia  menangkap sinyal kuat terkait tegaknya kekhalifahan yang  sudah menjadi tuntutan global. Aksi-aksi masif bela Palestina di berbagai belahan dunia kian didominasi kibaran ar-rayah dan al-liwa’. Begitu pun narasi pembelaan yang mencuat ke permukaan, sudah mengarah pada tuntutan jihad yang disertai seruan penegakan Khilafah sebagai satu-satunya solusi menghentikan penjajahan.

Bagi Netanyahu tegaknya Khilafah adalah ancaman besar bagi kelangsungan hidup negaranya. Bahkan ia terus saja berusaha menarik dukungan negara-negara Barat, dengan menyebutkan bahwa jika hal itu terjadi bukan hanya negaranya yang terancam, tetapi juga negara-negara Barat.

Tegaknya Khilafah telah menjadi mimpi buruk yang sangat ditakuti Zion*s dan negara-negara adidaya lainnya, seperti Inggris, Prancis, dan Amerika. Bagi mereka Khilafah adalah satu-satunya institusi yang akan mampu menghentikan penguasaan meteka atas dunia. Mereka sangat mengerti bahwa Khilafah mampu melawan hegemoni ideologi dan peradaban kapitalisme yang mereka tancapkan. Bagi mereka tegaknya Khilafah sebagai musuh bersama. Serangan-serangan militernya di luar Gaza, seperti ke Lebanon, Suriah, dan Yaman, serta ancaman-ancamannya kepada Iran, sejatinya hanya merupakan alarm pengingat agar para penguasa Arab tetap berdiri di samping Zion*s dan menjadi pengikut setia sekutunya Amerika. Mereka setia mendukung Barat untuk memecah kekuatan umat Islam dan berada di garda terdepan menghalangi kembalinya  Khilafah. Sebagian mereka secara terbuka mendukung keberadaan negara ilegal Zion*s di Palestina dan sebagian menormalisasi hubungan dengannya. Mereka bahkan ada yang rela memberikan tanahnya untuk menjadi pangkalan militer Amerika. Mereka bersinergi merintangi bahkan memberangus dakwah Khilafah juga para pengembannya. 

Dalam kasus aneksasi Gaza, mereka bahkan pura-pura bersikap tuli dan buta. Para penguasanya bahkan ada yang begitu tega menutup perbatasannya agar Zion*s leluasa melakukan genosida dan membiarkan Zion*s dan Amerika merealisasikan proyek busuk menguasai penuh Gaza.

Dalam perjalanannya, Zion*s dan Amerika terus saja memastikan sepakterjangnya. Mereka berkolaborasi membangun kekuatan untuk hadapi gelombang dakwah penegakan Khilafah. Mereka faham, kekuasaan para pemimpin negara-negara Arab dulu tegak di atas puing-puing Khilafah yang mereka hancurkan dari dalam.

Selama ini dakwah Khilafah dinilai utopia. Tidak diminati sebagaimana mestinya. Namun  dakwah ini telah menggentarkan hati dan jantung para musuhnya. Bukan hanya orang per orang, melainkan hingga level negara adidaya. Berbagai cara dirancang musuh untuk menumbangkan dakwah Khilafah. Namun tak membuat pengembannya lari tunggang langgang meninggalkan apa yang sudah diawali demi kembalinya Islam sebagai sistem dalam kehidupan.

Oleh karena itu  para pengemban dakwah Khilafah harus bertambah yakin bahwa jalan sulit yang mereka tempuh selama ini pasti akan menemui ujungnya.  Terwujudnya janji Allah dan bisyarah Rasulullah tentang kembalinya Khilafah Rasyidah ‘ala minhajin nubuwwah menjadi ujrah yang membahagiakan.

Dakwah Khilafah harus terus bergema sebagai solusi tuntas atas semua persoalan dunia, termasuk penderitaan Gaza yang sampai saat ini belum usai.  Mengukuhkan akidah yang ada pada diri umat hingga melahirkan ketaatan pada syariat Islam secara kafah yang tidak mungkin tegak tanpa institusi Khilafah, harus terus menguat. Dan dakwah ini  hanya mungkin dilakukan oleh sebuah kelompok ideologis yang memiliki visi dan misi yang jelas, serta konsisten menapaki jalan dakwah Rasulullah saw., yakni dakwah pemikiran, tanpa kekerasan. 

Atas idzin Allah Ta'ala krisis Gaza telah membuka mata hati dan rasa dunia bahwa monster Z*onis biadab hanya bisa dibinasakan dengan kekuatan digjaya, dikomando pemimpin mukhlis Al khalis yang menjalankan aturan Allah Ta'ala dalam sebuah institusi mendunia, Khilafah Islamiyyah atas manhaj kenabian. Allaahu Akbar!!!

Wallaahu a'laam bisshawaab.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update