Perlu diketahui bahwa sifat penjajah memanglah pengecut, licik dan biadab. Inilah wajah asli Zionis. Sampai dengan hari ini rakyat Gaza terus-menerus dibombardir tanpa ampun. Jasad-jasad korban genosida zionis semakin bergelimpangan, korban hidup dengan derita luka luar biasa semakin bertambah dan tak berdaya. Hal ini menjadi pemandangan yang menyakitkan hati. Namun, derita yang dialami rakyat Gaza oleh zionis bukan hanya genosida saja. Perut-perut kosong kelaparan berteriak dalam nestapa. Kelaparan yang terjadi bukan karena tidak ada makanan tapi sengaja ditiadakan atau disulitkan untuk mendapatkan makanan. Dan ini dijadikan sebagai amunisi genosida yang menghabisi rakyat Gaza pelan-pelan tanpa suara.
"Pendudukan Israel sedang merekayasa kelaparan yang membunuh warga sipil. Mereka melanjutkan kejahatan sistematis terhadap 2,4 juta warga Palestina dengan menutup penyeberangan dan memblokir 39.000 truk bantuan yang membawa makanan, bahan bakar, dan obat-obatan, dalam pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional," kata Kantor Media Gaza dalam sebuah pernyataan seperti Anadolu.
"Lebih dari 65.000 anak-anak Palestina sekarang menghadapi kematian karena kelaparan akibat kekurangan gizi karena Israel menjadikan kelaparan sebagai senjata untuk melawan warga sipil," mereka menegaskan.
Pernyataan tersebut mencatat bahwa penutupan total penyeberangan oleh Israel selama 70 hari telah memperburuk runtuhnya sistem kemanusiaan dan kesehatan di Gaza. (10-5-2025, tempo.co )
Perbuatan zionis sungguh sangat diluar akal sehat, hanya penjajah zionis yang menggunakan kelaparan sebagai alat perang. Blokade sengaja dilakukan zionis untuk menghalangi bantuan makanan dan membiarkan kaum muslim di Gaza dalam keadaan kelaparan akut. Benar-benar licik dan pengecut! Inilah sejatinya kelemahan zionis, mereka tak mampu melawan secara fisik dengan darah dan nyawa. Hebatnya rakyat Gaza tak gentar dengan berbagai serangan yang dilancarkan oleh zionis, maka zionis menggunakan kepengecutannya untuk menghabisi rakyat Gaza secara pelan-pelan dengan menghalangi pasokan pangan.
Memang betul, Gaza dibuat berlumuran darah oleh zionis hingga kehilangan ruang untuk hidup. Namun luar biasanya rakyat Gaza, sekalipun gempuran zionis meluluhkan lantakan semuanya, keimanan mereka tetap teguh dan sabar dalam menjaga tanah suci Palestina. Mereka bersabar dalam penderitaan, ikhlas terhadap qodo yang menimpa. Mereka terus berjihad hingga akhir hayat dalam melawan zionis.
Para penguasa negeri muslim hingga saat ini masih bergeming. Tak ada aksi nyata untuk membela Palestina dengan mengirimkan pasukan untuk membantu mengusir penjajah zionis dari tanah Palestina. Berkali-kali seruan jihad dikumandangkan di seluruh penjuru dunia namun tak mampu menggugah nurani para pemimpin muslim. Mereka memilih acuh yang mengindikasikan sinyal kemesraan dengan penjajah. Mereka justru bekerja sama dan memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat (AS) dan patuh dibawah arahan AS, bahkan menormalisasi hubungan dengan zionis. Para penguasa negeri muslim ini enggan kehilangan gemerlap kekuasaan sehingga kewajiban menolong saudara sesama muslimnya di abaikan.
Gaza yang semakin merana butuh solusi hakiki untuk mengakhiri kejahatan zionis. Bukan hanya kecaman atau gertakan sekedar ikut-ikutan. Gaza harus ditolong dengan kekuatan militer. Tidak ada jalan lain selain jihad Fii sabilillah, para penguasa muslim harus bersatu dengan satu suara dan tujuan yang sama yaitu membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah. Mengusir Zionis dari tanah Palestina. Sebagaimana yang pernah dilakukan Rasulullah SAW dalam mengusir yahudi Bani Qainuqa di Madinah, karena mereka telah melanggar perjanjian dan membunuh seorang muslim.
Maka seharusnya para penguasa negeri muslim mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah SAW, manakala menghadapi penjajah.
Oleh karena itu dalam mewujudkan kebebasan palestina, dibutuhkan satu kendali dari seorang Khalifah. Dengan hadirnya Khalifah dalam Daulah khilafah, negara mampu untuk mengerahkan militer dalam pembebasan Palestina. Namun kebutuhan ini jelas menuntut persatuan umat di seluruh penjuru dunia dalam sebuah institusi politik Daulah Khilafah. Seharusnya Gaza tak perlu merasakan kepedihan jika umat Islam memiliki perisai berupa Daulah khilafah. Sebab sudah pasti khilafah akan menjalankan perannya sebagai pelindung umat dan pengurus, sehingga penjajahan dalam bentuk apapun tidak akan ada.
Dengan berjuang dalam menegakkannya dan membangun kesadaran umat betapa sejatinya umat muslim butuh aturan Islam kembali ke tengah-tengah masyarakat.
Maka, kembali pada aturan Islam dalam naungan Daulah khilafah adalah solusi satu-satunya agar mampu membebaskan Palestina.
Wallahu a'lam bishawaab

No comments:
Post a Comment