Apa kabar sakitmu wahai saudaraku? Terlanjur parah atau mati rasa?
Entah kabar buruk atau biasa..
Kau masih harus terus menahan derita dikesendirian.
Kau masih harus terus menyaksikan KAMI yang terperangkap oleh kutukan dunia.
Lagi, kata maaf yang kau tak perlu yang KAMI bisa berikan, di tengah harapan besarmu akan pergerakan KAMI untuk ada bersamamu 💔
Ibarat, menabur garam di bagian luka. Adanya hanya membuat bertambah sakit 💔
Sepenggal isi hati yang pastinya tak mampu mewakili kepedihan Palestina. Semua orang di sana menderita, dengan penderitaan maksimal, menyayat hati. Tentu bertambah menyayat hati jika penderitaan itu harus dirasakan anak-anak. Mereka adalah pihak yang paling lemah, belum bisa berdiri sendiri, dan wajib merasakan perlindungan, kasih sayang, dan terpenuhinya hak-hak mereka.
Tetapi, makhluk yang lemah ini justru merasakan hal keji yang dirasakan level manusia dewasa. Berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya di tengah krisis dan tidak ada tempat aman untuk hidup. Dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (3/4/2025), malam menjelang Hari Anak Palestina, dikatakan bahwa 39.384 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya setelah 534 hari serangan Israel, yang telah menghancurkan daerah kantong kecil itu dan membuat sebagian besar dari 2,3 juta penduduknya mengungsi. Di antara mereka ada sekitar 17.000 anak yang telah kehilangan kedua orangtuanya sejak Oktober 2023, ketika Israel melancarkan serangan genosida.
Sampai di titik ini, apa yang dunia lakukan?
Salah satu prinsip dunia internasional yang tak berfungsi adalah nilai Hak Asasi Manusia (HAM) atau Human Right bagi palestina. Bagaimana tidak, terbentuknya HAM dengan asal-usul yang panjang dan kompleks, mulai dari peristiwa Magna Carta (1215) hingga Deklarasi Universal HAM (1948) yang ditetapkan oleh Majelis Umum PBB, ini menjadi landasan internasional bagi perlindungan HAM dan menegaskan prinsip-prinsip universalitas, kesetaraan, dan martabat manusia. PBB pun telah "berupaya" mulai dari mengusulkan solusi pembagian wilayah (Resolusi 181) hingga menyediakan bantuan kemanusiaan dan memfasilitasi negosiasi damai. Tapi tak mampu menghentikan misi genosida Israel la'natullah.
Lembaga besar internasional layaknya PBB saja tak mampu memberikan angin segar bagi rakyat Palestina, lantas siapa lagi atau oleh siapa lagi Palestina bisa hidup aman tenteram di tanahnya sendiri?
Ini membuktikan bahwa peradaban dunia hari ini tidak memihak umat Islam. Dengan kemudahan Israel membombardir Palestina, dengan dukungan penuh AS, kita tak bisa berharap banyak pada pihak-pihak Barat karena mereka saling berafiliasi. Sebaliknya, tersisalah kita yang diikat dengan akidah yang sama, pedoman hidup yang sama, dan junjungan suri tauladan yang sama. Maka satu-satunya cara membebaskan tanah Palestina adalah mewujudkan kepemimpinan politik Islam atau khilafah yang semestinya sungguh-sungguh diperjuangkan. Karena umat Islam akan kehilangan haknya atas tanah Palestina sebab sejatinya tanah itu milik seluruh kaum muslim.
Akar konflik ini tidak akan pernah selesai sebab masalah sesungguhnya adalah penjajahan dan keberadaan Zion*s di atas tanah kaum muslim. Selama itu masih ada, masalah tidak akan selesai. Islam memiliki petunjuk untuk menuntaskan problem ini. Syariat Islam memerintahkan agar tanah milik kaum muslim yang dirampas oleh penjajah, direbut kembali dan dibebaskan dari penjajahan. Tanah Palestina wajib digabungkan ke dalam kekuasaan Islam (Khilafah). Khalifah, mengomandoi pengiriman pasukan jihad untuk mengusir penjajah dan mengembalikan Palestina ke pangkuan Islam sebagaimana yang dilakukan Khalifah Umar bin Khaththab dan Shalahuddin al-Ayyubi yang membebaskan tanah Palestina dengan jihad, bukan dengan diplomasi atau kompromi.
Tentu semua itu hanya bisa dilakukan setelah Khilafah ala minhaj nubuwwah tegak kembali atas upaya kaum muslim yang sungguh-sungguh dan menjadikan usaha ini sebagai prioritas. Karena betapa sangat kompleksnya problematika umat, termasuk didalamnya masalah Palestina, maka wajib bagi kaum muslim menentukan skala priorotas dalam upaya penyelesaiannya.
Langkah pertama yang dilakukan adalah aktivitas perjuangan untuk mengembalikan aturan hidup manusia dengan penerapan Islam kaffah dengan membangun Khilafah sebagai pemersatu kekuatan umat dan pembebas manusia dari kejahatan sistem buatan manusia.
Persoalan anak-anak Gaza akan selesai ketika persoalan Palestina juga terselesaikan secara tuntas. Dan solusi tuntas hanya dapat terwujud dengan jihad dan khilafah. Ini adalah agenda utama umat Islam yang harus diiringi dengan keimanan yang kukuh, yakin akan janji-Nya, sesuai firman-Nya dalam surah Al-Hajj ayat 40—41, “Dan sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.
Wallahu 'alam
No comments:
Post a Comment