Oleh: Ummu Nushaybah
(Aktivis Muslimah)
Gaza, Palestina masih membara. Serangan Zionis Yahudi bertubi-tubi meluluhlantakkan Gaza. Genosida itu sudah dimulai sejak keruntuhan Khilafah tahun 1924. Watak menipu dan khianat dari Zionis menjadi ciri khas yang tak pernah lepas.
Masyarakat Gaza sudah apatis dan skeptis terhadap usaha dunia internasional yang ingin menuntaskan masalah Gaza. Pengkhianatan pemimpin negara-negara Arab terdekat seperti Yordania dan Mesir telah nampak jelas. Dua negara tersebut berada di pihak Trump. Para pemimpin Mesir dan Yordania menyatakan mereka tidak akan berpartisipasi dalam pemindahan warga Palestina (Sindonews.com, 31/1/2025).
Sistem kapitalisme sekuler yang saat ini diterapkan seharusnya membuka mata dunia bahwa sistem buruk ini sama sekali tidak berfungsi. Perdamaian dunia yang diharapkan setiap negara hanyalah ilusi. Kecaman para pemimpin dunia dan solusi lembaga internasional hanyalah basa-basi yang tak mengubah keadaan Gaza sedikitpun.
Ideologi kapitalisme dan sistem demokrasi sejatinya meluaskan penjajahan. Penjajahan tak hanya fisik namun juga non fisik (pemikiran). Hingga kerusakan penjajahan di depan mata, tapi pemikiran beku (jumud).
Pemikiran beku melahirkan pola "pengecut, lari dan kabur" dari pembebasan Palestina secara hakiki. Mereka bungkam dalam menyerukan jihad dan mengirimkan tentara untuk perlawanan mengusir Zionis.
Pola pemikiran yang diadopsi penjajah ini terus di langgengkan, sehingga mencegah dan mempersulit pembebasan tanah Palestina. Para pemimpin negara terjebak dalam drama politik negara-negara kapitalis. Pembelaan terhadap kaum tertindas hanya sebatas ucapan, tanpa tindakan militer yang nyata.
Negara-negara terjajah dan terdampak perang seprti Gaza, Yaman dan Lebanon membutuhkan pembelaan nyata bukan hanya kecaman atau sekadar ucapan. Islam bukan hanya agama ritual melainkan juga ideologi yang memiliki solusi paripurna. Pembebasan Gaza butuh kekuatan militer. Kebijakan ini hanya mampu dijalankan oleh negara Khilafah.
Di dalam Islam, setiap individu berhak mendapatkan jaminan keamanan dan perlindungan secara menyeluruh. Khilafah akan menetapkan strategi dan mekanisme untuk membebaskan tanah kaum muslim dari penjajahan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Sesungguhnya al-Imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR. Muttafaqun ‘alayh)
Di dalam Islam yang bisa mengikat ummat hanya lah ikatan akidah Islam. Ikatan tersebut mempersatukan kaum muslim dengan ukhuwah tanpa memperhatikan batas ilusi negara.
Dengan kekuatan ukhuwah, Khilafah dapat menetapkan kebijakan militer yang kuat dalam membela umat Islam. Selain itu, Khilafah juga berperan dalam membangun kesadaran ideologis dalam tubuh umat terkait kewajibannya membela saudara muslim yang tertindas. Dengan konsep inilah, akidah Islam dapat mengikat kekuatan ukhuwah kaum muslim.
Melalui strategi ideal yang disandarkan pada hukum Syara', Khilafah akan membina umat agar memiliki pemahaman politik Islam yang menyeluruh. Kesadaran politik ini akan membangkitkan semangat dakwah dan jihad fi sabilillah. Pemahaman akidah yang sempurna akan menyatukan umat melalui pemikiran dan perasaan yang sama. Hal inilah yang menciptakan kekuatan nyata untuk melawan penjajahan dan mewujudkan perdamaian hakiki. Wallahu'alam bi shawab.

No comments:
Post a Comment