Oleh Adila Zuhra
Aktivis Muslimah
Bulan Ramadan merupakan momen penting bagi umat Muslim untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dalam sebuah pernyataan, Bupati Bandung, Dadang Supriatna, mengajak masyarakat untuk tidak hanya merayakan hari raya Idul Fitri sebagai puncak kegembiraan, tetapi juga menjaga semangat Ramadan dalam kehidupan sehari-hari setelah bulan tersebut berakhir. Ia menyatakan bahwa nilai-nilai ketakwaan dan kebersamaan harus tetap terpelihara setelah Ramadan.
Namun, dalam kerangka sekularisme yang seringkali mengaburkan esensi syariat Islam, menjaga spirit Ramadan harus lebih dari sekadar menghindari makan dan minum di siang hari. Takwa yang sejati tidak hanya terlihat dari pelaksanaan ibadah mahdhah seperti salat dan puasa, tetapi juga dalam menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Mengamalkan syariat secara menyeluruh, baik dalam urusan pribadi maupun sosial, adalah wujud dari ketakwaan yang hakiki.
Seorang yang hanya melaksanakan salat, puasa, atau bahkan ibadah haji, namun terus melakukan riba, suap, atau mengabaikan keadilan sosial, tidak bisa disebut sebagai orang yang bertakwa. Spirit Ramadan yang sejati akan membawa seseorang untuk memegang teguh prinsip keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab terhadap masyarakat. Oleh karena itu, menjaga spirit Ramadan dalam kerangka sekulerisme tidak akan membawa kita pada takwa yang sesungguhnya. Takwa yang benar adalah ketika setiap amal perbuatan kita didasarkan pada ketundukan sepenuhnya kepada Allah Swt., tidak hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam tindakan sosial dan kebijakan yang adil.
Wallahu'alam bishawab

No comments:
Post a Comment