Oleh Sri Yana, S.Pd.I.
Pegiat Literasi
Tak terbayangkan perasaan anak-anak Gaza yang sungguh memprihatinkan, karena kehilangan orang tuanya sejak masih kecil. Namun, anak-anak Gaza adalah anak-anak hebat yang memiliki akidah kuat yang ditananamkan oleh kedua orang tuanya sejak sini. Sungguh tidak berperikemanusian melakukan genosida kepada warga Gaza, apalagi terhadap anak-anak yang masih suci dan tidak berdosa. Selain menjadi korban jiwa, sebanyak 39.000 anak di Gaza kehilangan satu atau kedua orang tuanya disebabkan serangan Israel yang terus berlanjut sejak 7 Oktober 2023.
Berdasarkan Biro Statistik Palestina yang dikutip Al Mayadeen, Gaza kini menghadapi krisis yatim terbesar dalam sejarah modern. Dalam pernyataan yang dikeluarkan menjelang Hari Anak Palestina, biro tersebut mengonfirmasi bahwa 39.384 anak telah menjadi yatim sepanjang 534 hari pengeboman. Dari jumlah tersebut, sejumlah 17.000 anak kehilangan kedua orangtua dan sekarang "menghadapi kehidupan tanpa dukungan atau perawatan" (liputan6.com, 6 April 2025).
Miris sekali menyaksikan keadaan anak-anak Gaza. Semua fakta ini terjadi di tengah narasi soal HAM dan terkait aturan internasional dan perangkat hukum soal perlindungan dan pemenuhan hak anak. Buktinya aturan-aturan tersebut tidak mampu menangguhkan apalagi mencegah penderitaan anak-anak Palestina. Sehingga genosida yang terjadi menyebabkan anak-anak Gaza menjadi yatim piatu. Namun, keadaan tersebut tidak terelakkan bagi sebagian besar anak-anak Gaza.
Memang patut disadari bahwa hidup dalam naungan sistem kapitalisme-sekularisme adalah akar masalah dari kehidupan manusia. Hal ini tidak terlepas dari paradigma kapitalisme-sekularisme yang memisahkan kehidupan dengan Islam. Sehingga aturan agama tidak dipakai dalam kehidupan bahkan umat Islam dibuat takut dengan aturan-aturan Islam. Jadi bagaimana Islam dipandang baik bilamana sudah dianggap menakutkan? Pasti umat malah takut belajar Islam. Oleh karena itu, perlu memahamkan umat dengan benar tentang Islam.
Sejatinya, Islam yang dapat memecahkan problematika umat. Bukan berpangku tangan dengan lembaga-lembaga internasional dan semua aturan yang dilahirkannya. Masa depan anak-anak Gaza Palestina ada pada kepemimpinan politik Islam atau khilafah yang semestinya sungguh-sungguh mereka perjuangkan.
Tanpa khilafah hari ini, pemandangan orang meninggal di Bumi Palestina setiap waktu adalah hal biasa. Mereka mati dalam keadaan syahid. Menukil buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq oleh Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, mengatakan muslim yang wafat dalam keadaan syahid di tangan orang kafir ketika berperang di jalan fisabilillah maka jenazahnya tidak wajib dimandikan, walaupun jenazahnya dalam keadaan junub, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, " Tidak wajib untuk memandikan jenazah yang mati syahid dalam jihad karena setiap luka dan darah yang keluar akan beraroma kasturi pada hari kiamat." (HR Ahmad).
Berbahagialah orang yang mati syahid, walaupun tidak dimandikan jenazahnya, tetapi wangi minyak kasturi pada hari kimat. Namun, sebagai sesama muslim apa yang dapat kita lakukan untuk saudara sesama muslim di Gaza. Apakah hanya dengan memberi makanan, obat-obatan, dan doa saja? Tentu saja tidak. Sebagai muslim perlu memperhatikan urusan kaum muslim terutama Palestina, karena barang siapa yang menyelesaikan perkara orang lain Allah akan mudahkan urusannya juga.
Sejatinya, diperlukan bersatunya umat dalam satu bingkai khilafah rasyidah. Dengan khilafah persatuan umat akan terwujud dan kukuh karena dibangun di atas akidah Islam. Oleh karena itu, kita harus membangun seruan persatuan umat tersebut berdasarkan dalil dari Al-Qur'an dan Sunah. Selain itu, kita harus menyadarkan umat bahwa masalah Palestina adalah masalah umat Islam sedunia, bukan hanya masalah kaum Muslim di Palestina.
Khilafah berfungsi sebagai pemelihara dan perisai. Khilafah niscaya tidak akan pernah membiarkan kezaliman terjadi kepada rakyatnya. Khilafah nyata selama berabad-abad berhasil menjadi benteng pelindung yang kuat dan aman, serta memberikan dukungan terbaik bagi perkembangan anak-anak Gaza sehingga mereka dapat menjadi generasi hebat pembangun peradaban gemilang dari masa ke masa.
Setiap muslim wajib ikut serta dalam menegakkan kembalinya khilafah agar mereka memiliki hujjah bahwa mereka tidak bungkam seribu bahasa melihat anak-anak Gaza dan orang tuanya dizalimi oleh Zionis Yahudi dan sekutu-sekutunya. Masalah anak-anak Gaza akan selesai ketika masalah Palestina juga terselesaikan secara tuntas. Alhasil, solusi tuntas hanya dapat terwujud dengan khilafah dan jihad. Wallahu'Alam bissawab.
.jpg)
No comments:
Post a Comment