Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Derita Palestina Di Mata Dunia

Sunday, April 13, 2025 | Sunday, April 13, 2025 WIB
Derita Palestina Di Mata Dunia

Oleh : Anna Ummu Maryam 
Pegiat Literasi Peduli Negeri Dan Generasi


Beberapa ulama Muslim terkemuka mengeluarkan fatwa keagamaan yang langka terkait Israel. Mereka menyerukan kepada semua Muslim dan negara-negara mayoritas Muslim untuk melancarkan jihad melawan Israel setelah 17 bulan perang yang menghancurkan terhadap warga Palestina yang tinggal di Jalur Gaza, daerah kantong yang terkepung itu.

Sekretaris Jenderal Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS), organisasi yang sebelumnya dipimpin oleh Yusuf Al-Qaradawi, Ali Al-Qaradaghi, menyerukan kepada semua negara Muslim pada Jumat (4/4), "Untuk segera campur tangan secara militer, ekonomi, dan politik untuk menghentikan genosida dan penghancuran menyeluruh ini, sesuai dengan mandat mereka."

"Kegagalan pemerintah Arab dan Islam untuk mendukung Gaza saat sedang dihancurkan dianggap oleh hukum Islam sebagai kejahatan besar terhadap saudara-saudara kita yang tertindas di Gaza," katanya dalam fatwa yang terdiri dari sekitar 15 poin.(MediaIndonesia,Com. 06/04/2025).

Tentu saja hal ini bukan tanpa sebab karena tindakan yang dilakukan oleh Zionis-Israel laknatullah yang telah melakukan pembunuhan secara brutal. Berbagai konferensi pers yang dilakukan yang mengatakan bahwa mereka ingin mengejar para brigadir Hamas namun faktanya bahwa mereka membunuh warga sipil dan mengatakan mereka adalah pasukan Hamas.

Kebohongan yang mereka katakan dimedia telah kian membuka mata kita bahwa kebencian yang mereka katakan dari mulut mereka adalah pengalihan dan seolah kewajaran aksi mereka untuk mengejar dan membunuh pasukan Hamas. Seolah mereka mempertontonkan kepada kita bahwa tidak ada negara yang bisa membalas aksi mereka.

Racun  Sistem Kapitalis itu Nyata

Gelombang protes yang berfokus di kampus bukan hanya berada secara nasional tapi juga internasional di beberapa negara secara bersamaan. Fenomena ini menandakan masih terpeliharanya semangat aktivisme antiperang yang terus subur di kalangan sivitas akademika dunia.

Hal ini sebagai reaksi atas kekejaman pembunuhan yang dilakukan zionis Israel terhadap warga sipil Gaza. Bahkan tidak jarang aksi mahasiswa internasional tersebut berakhir dengan penahanan dan deportasi dari kampus mereka. Namun kemanusiaan mereka sangat tinggi sehingga siap dengan resiko apapun demi kebebasan warga Gaza.

Reaksi serta respon atas permasalahan Gaza juga telah menyita perhatian sebagaimana yang disampaikan Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto  konferensi tingkat tinggi “Call for Action: Urgent Humanitarian Response for Gaza” (“Seruan untuk Bertindak: Tanggap Darurat Kemanusiaan untuk Gaza”), di Amman, Yordania, Selasa (11/6). 

Mengatakan ada empat langkah yang akan ditempuh untuk perang Gaza yaitu :
Pertama, indonesia berkomitmen untuk meningkatkan kontribusi kepada Bantuan dan Lembaga pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina.

Kedua, akan lebih banyak lagi mengirim tim medis dan rumah sakit lapangan serta mengirim kapal rumah sakit dan bantuan udara. Ketiga, indonesia siap menerima pasien 1.000 pegungsi Gaza dan mengembalikan mereka setelah sembuh.

Berbagai solusi ditawarkan namun kita mendapati belum sampai pada akar permasalahan yang dapat menyelesaikan masalah warga Gaza. Mengapa hal ini bisa terjadi?. Hal tersebut kian sembraut karena akar masalah yang salah dianalisa.

Akar masalah adalah karena penerapan sistem kapitalis yang telah melahirkan orang orang serakah dan haus darah. Dalam sistem kapitalis negara dikendalikan oleh para para pengusaha modal besar. Merekalah yang sejatinya yang mengusung dan mendanai calon kandidat penguasa.

Sehingga dalam sistem ini keberadaan penguasa harus sejalan dengan para pengusaha yang telah mengusungnya. Maka wajar aspirasi rakyat hanya isapan jempol belaka walaupun demokrasi adalah sesuatu yang amat diagung-agungkan dalam sistem ini.

Semua kebijakan sudah disetting sedemikian rupa agar selaras dengan kepentingan dan keuntungan pihak pihak tertentu. Sistem inilah yang telah memandulkan fungsi negara yang mandiri dan memiliki integritas yang tinggi.

Tentara hanya barisan pasukan berbaris tanpa ada posisi strategis didalam dan luar negeri. Mereka dilatih tapi seolah hanya untuk tampil tapi minim fungsi. Mereka dilengkapi senjata tapi hanya untuk disangkut dibahu saja. Nyali mereka hanya sampai dinegerinya tapi ciut tanding diluar sana.

Lagi lagi ini ulah sistem demokrasi. Kepedulian dalam sistem ini hanya ilusi. Hati dan jiwa bukan berpihak pada kebenaran sehingga mata dan hati seolah terkunci melihat derita sesama muslim di Gaza.

Solusi Tuntas Untuk Gaza

Solusi yang mengakar pada perang genosida Gaza adalah kembalikan kemerdekaannya yaitu mereka hidup dalam peraturan Islam yang sempurna. Kehidupan dalam ketenangan itu hanya mereka dapatkan dalam Islam semata. Mengembalikan apa yang dirampas dan membalas perlakuan setimpal ada zionis Israel terhadap warga Gaza.

Selama sistem selain Islam yang ditawarkan dan diterapkan disana maka konflik akan senantiasa mewarnai wilayah tersebut. Mayoritas muslim menginginkan kehidupan dalam peraturan Islam namun Barat tidak menginginkannya. 

Sehingga ia berusaha memporak-porandakan negeri tersebut agar kembali dibuat sesuai keinginan mereka. Kekejaman ini harus dihentikan dan yang dapat menghentikan adalah adanya penguasa Khalifah di negeri muslim.

Negara inilah yang akan mengakomodir para tentara untuk bersatu untuk berjihad melawan Zionis-Israel dan negara besar yang menjadi penyokongnya. Inilah pertarungan yang seimbang bukan membunuh warga sipil yang tidak tahu menahu permasalahan dan tidak memegang senjata.

Maka keberadaan khilafah sebagai sebuah negara adalah kebutuhan mendesak karena penguasa yang ada telah telah berjalan demi kepentingan mereka. Hanya Khalifah yang amat peduli pada urusan umat. Ia akan berusaha menjaga penerapan Islam dan kesejahteraan hidup seluruh manusia.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update