Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Washington telah menolak usulan Mesir mengenai Gaza pascaperang yang diajukan oleh negara-negara Arab pada pertemuan puncak di Kairo minggu ini, yang memperkuat visi Presiden AS Donald Trump mengenai pengusiran warga Palestina dan pengambilalihan jalur tersebut. Sebelumnya negara-negara Arab mendukung rencana Mesir untuk membangun kembali Gaza yang menolak pemindahan penduduk Palestina. "Usulan saat ini tidak membahas kenyataan bahwa Gaza saat ini tidak dapat dihuni dan penduduknya tidak dapat hidup secara manusiawi di wilayah yang tertutup puing-puing dan persenjataan yang belum meledak," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS Brian Hughes dalam sebuah pernyataan pada tanggal 4 Maret (tribunnews.com, 06-03-2025).
Sungguh Trump telah menipu Mesir dan Yordania dalam pidato atau pernyataan sebelumnya bahwa mereka akan membangun kembali Gaza. Tampak nyata saat Mesir membuat proposal membangun kembali Gaza, Trump dengan pongahnya menolakm. Trump yang sejak awal berubah-ubah dalam pernyataannya telah menunjukkan kekonsistenannyqla pada satu hal yaitu mengambil alih Gaza dan memberikannya kepada Zionis Yahudi.
Duo monster ini melebihi monster jahanam di manapun. Amerika dan Yahudi terikat kuat dengan kejahatan yang dibangunnya. Ambisi Trump telah menunjukkan seluruh niatan busuknya. Trump tidak pernah berpihak pada rakyat Palestina. Trump terlalu bengis sebagai manusia.
Meletakkan Kembali Palestina Sebagai Tanah Kaum Muslimin
Bumi Allah telah dihamparkan dengan nilai kemuliaan dari-Nya untuk kaum Muslimin. alestina adalah bagian dari negeri Syam. Syam tidak bisa dipisahkan dari ajaran Islam. Syam adalah negeri yang terdiri dari Suriah, Yordania, Lebanon, dan Palestina (termasuk yang diduduki Isr4el) saat ini. Rasulullah saw. memberikan banyak pujian pada negeri Syam. Di antaranya:
طُوبَى لِلشَّامِ فَقُلْنَا لِأَيٍّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا
“Keberuntungan bagi penduduk Syam,” Kami bertanya, “Karena apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada mereka (penduduk Syam).” (HR At-Tirmidzi).
Syam juga adalah negeri para nabi. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Para nabi tinggal di Syam. Tidak ada sejengkal pun Kota Baitulmaqdis, kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana.” (HR At-Tirmidzi).
Di Palestina, sebagai bagian dari negeri Syam, juga terdapat Masjidilaqsa. Masjid ini merupakan kiblat pertama kaum muslim dan tempat singgah perjalanan Isra Mikraj. Wilayah di sekitarnya juga tempat yang Allah berkahi (Lihat: QS Al-Isra’ [17]: 1). Khusus terkait keutamaan Masjidilaqsa, Rasulullah saw. bersabda,
ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ
“Datangilah Masjidilaqsa. Lalu salatlah di dalamnya karena sungguh salat di sana seperti seribu kali salat di tempat lain.” (HR Ahmad).
Rasulullah saw. pun bersabda, “Sekali salat di Masjid al-Haram sama dengan 100.000 salat. Sekali salat di Masjidku (di Madinah) sama dengan seribu salat. Sekali salat di Masjidilaqsa sama dengan 500 salat.” (HR Ath-Thabrani dan Al-Bazzar).
Masjidilaqsa adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang rasulullah saw. rekomendasikan untuk dikunjungi. Beliau bersabda, “Tidaklah diadakan perjalanan dengan sengaja kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidilharam (di Makkah) dan Masjidilaqsa.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Selain itu Al-Quds di Syam juga merupakan tanah ibu kota Khilafah. Yunus bin Maisarah bin Halbas bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Perkara ini (Khilafah) akan ada sesudahku di Madinah, lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Irak, lalu di Madinah, lalu di Al-Quds (Baitulmaqdis). Jika Khilafah ada di Al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksa ibu kotanya keluar dari sana (Al-Quds), Khilafah tak akan kembali ke sana selamanya.” (HR Ibn Asakir).
Fakta lainnya, Palestina adalah tanah air kaum muslim dan telah berabad-abad menjadi bagian dari wilayah Islam. Kaum muslim pun terikat dengan Palestina serta Yerusalem karena dua alasan. Pertama, wilayah Yerusalem telah menjadi bagian dari negeri-negeri Islam dengan status sebagai tanah kharaj sejak era Kekhilafahan Umar bin al-Khaththab ra. pada 637 M. Setelah peperangan yang berkecamuk selama berbulan-bulan, akhirnya Uskup Yerusalem, Sophronius, menyerahkan kunci Kota Yerusalem kepada Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. secara langsung.
Kedua, kaum muslim terikat dengan kaum Nasrani Yerusalem untuk melindungi negeri tersebut lewat Perjanjian Umariyah. Dalam perjanjian tersebut, Khilafah berkewajiban memberikan jaminan kepada kaum Nasrani baik terkait harta, jiwa, dan ibadah mereka. Khilafah juga diminta untuk tidak mengizinkan orang-orang Y4hud1 tinggal bersama kaum Nasrani dan kaum muslim di Yerusalem. Khalifah Umar kemudian menjamin tidak ada satu pun orang Y4hud1 yang lewat dan bermalam di wilayah tersebut. Perjanjian Khalifah Umar dengan kaum Nasrani Yerusalem ini mengikat kaum muslim hari ini bahkan hingga akhir zaman.
Dengan alasan inilah, haram hukumnya mengakui keberadaan negara Y4hud1 penjajah di Palestina. Haram pula mengambil solusi dua negara yang diusulkan PBB dan negara-negara Barat. Semua itu hakikatnya sama dengan mengakui keberadaan kaum Y4hud1 penjajah di tanah kaum muslim.
Ironinya, hari ini sejumlah penguasa Arab dan Islam malah mengakui keberadaan negara Isr4el serta menjalin hubungan diplomatik dan kerja sama lainnya, yaitu Mesir, Yordania, UEA, Arab Saudi, Maroko, Bahrain, Sudan, dan Turki.
Wajib Mendukung Jihad di Palestina
Pendudukan kaum Y4hud1 penjajah atas Palestina bukan sekadar mengakibatkan kematian ratusan ribu warganya, tetapi juga menciptakan penderitaan yang terus-menerus yang dialami jutaan warga lainnya. Dengan demikian masih bercokolnya kaum Y4hud1 penjajah inilah yang menjadi pangkal persoalan di tanah Palestina dan menyebabkan penderitaan kaum muslim berkepanjangan.
Oleh karena itu, kaum Y4hud1 penjajah wajib diusir dari tanah Palestina. Mereka hanya bisa diusir dari tanah suci tersebut dengan mengerahkan pasukan militer. Allah Swt. berfirman,
وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ
“Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (TQS Al-Baqarah [2]: 191).
Oleh karena itu, sudah sepantasnya para penguasa Arab dan muslim mengirimkan tentara mereka untuk membantu para mujahidin Palestina dalam mengusir kaum Y4hud1 penjajah dari negara itu.
Di sisi lain, jihad (berperang melawan musuh) di jalan Allah Swt. adalah amalan yang utama. Rasulullah saw. bersabda:
مَوْقِفٌ سَاعَةً فِي سَبِيل اللهِ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ عِنْدَ الْحَجَرِ اْلْأَسْوَدِ
“Berjaga-jaga satu jam di medan perang fi sabilillah adalah lebih baik daripada menghidupkan Lailatulqadar di dekat Hajar Aswad.” (HR Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).
Oleh karena itu pula, sudah sepantasnya kaum muslim di mana pun, khususnya para perwira dan prajurit muslim, menyambut panggilan jihad dari mana pun, termasuk dari Bumi Palestina. Tidak sepantasnya mereka berdiam diri dan berpangku tangan.
Pentingnya Khilafah
Jika dihitung sejak pendudukan Isr4el sekaligus pendirian negara Y4hud1 itu di Palestina pada 1948 hingga hari ini, maka tragedi Palestina sudah berumur sekira 75 tahun. Selama itu pula sudah tidak terhitung korban di pihak rakyat Palestina oleh kebiadaban Y4hud1 tersebut. Kekejaman demi kekejaman yang dilakukan oleh Y4hud1 terhadap rakyat Palestina seolah tidak pernah akan berhenti. Terus berulang dari waktu ke waktu. Bahkan hingga hari ini.
Di sisi lain, tanpa bermaksud meremehkan, jihad yang hanya melibatkan sebagian kaum muslim Palestina terbukti sampai hari ini belum berhasil mengusir kaum Y4hud1 penjajah dari Bumi Palestina. Di sisi lain, melibatkan pasukan kaum muslim dari seluruh dunia untuk membantu mujahidin Palestina juga tidak mudah. Tentu karena adanya penghalang berupa sekat-sekat negara-bangsa yang hakikatnya merupakan buatan kaum penjajah Barat.
Oleh karena itu, umat memang membutuhkan seorang khalifah, pemimpin kaum muslim sedunia. Rasulullah saw. telah bersabda,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Imam (Khalifah) adalah perisai, di belakangnya kaum muslim berperang dan berlindung.” (HR Al-Bukhari Muslim).
Khalifahlah yang akan menyerukan sekaligus memimpin langsung pasukan kaum muslim di seluruh dunia untuk membebaskan tanah Palestina dan menyelamatkan kaum muslim di sana. Bahkan Khilafah pula yang akan menyelamatkan kaum muslim di berbagai negeri di mana mereka ditindas. Di sinilah pentingnya umat ini untuk serius dan sungguh-sungguh untuk memperjuangkan kembalinya Khilafah ala minhaj Nubuwwah.
‘Ala kulli hal, haram kita membiarkan kaum muslim Palestina menderita tanpa pembelaan kita. Haram pula kita membiarkan Palestina tetap dikuasai kaum Y4hud1 penjajah. Sebabnya, jika kita hanya diam, berarti kita telah berkhianat kepada bangsa Palestina, saudara sesama muslim; berkhianat kepada Umar bin Al-Khaththab ra. yang telah membebaskan Tanah Palestina untuk pertama kalinya; berkhianat kepada Sultan Abdul Hamid II dan para khalifah yang beratus-ratus tahun mempertahankan Bumi Palestina; berkhianat kepada para syuhada yang telah mempersembahkan darah dan nyawanya demi kemerdekaan Palestina; bahkan berkhianat kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya yang telah menetapkan Palestina sebagai tanah milik kaum muslim. Ambsi Trump hanya bisa dihadapi dengan Jihad dan Khilafah. Allaahu Akbar!
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment