Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ramadhan Wujudkan Totalitas Ketakwaan

Monday, March 10, 2025 | Monday, March 10, 2025 WIB Last Updated 2025-03-10T03:51:48Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta menggelar kultum bada Sholat Dzuhur di Masjid Raudhatul Jannah sebagai rangkaian program Ramadan 1446 H. Dalam kultumnya, Adib menyampaikan bahwa Ramadan bukan hanya bulan puasa, tetapi juga bulan diturunkannya Al-Qur'an. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk semakin mendekatkan diri kepada Al-Qur'an dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. "Bulan suci Ramadan ini adalah bulan Al-Qur'an. Jika kita ingin hidup mulia dan bahagia, maka hiduplah bersama Al-Qur'an," ujar Kakanwil di hadapan jamaah, Senin (03-03-2025).

Memang benar,  Ramadhan adalah bulan Istimewa. Pada bulan ini tidak hanya diwajibkan puasa tetapi  juga diturunkan Al-Qur’an yang harus dibaca, dipahami maknanya dan tak kalah penting adalah mengamalkan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. 

Dalam hal ini, pengamalan Al-Qur’an bukanlah hanya sekadar  mengetahui nilai-nilainya saja, namun harus disertai dengan menerapkan hukum yang terkandung di dalamnya secara formal. Sehingga butuh supra sistem yaitu negara yang mengimandonya karena Al-Qur’an adalah “Huda” yang akan menunjuki umat manusia ketika mengarungi kehidupan dunia sebagai mazratul amal. 

Mengapa membutuhkan peran Negara?  Hal ini tersebab banyak khitob di dalam Al-Qur’an yang ditujukan kepada Imam. Dan Imam berada di posisi kepemimpinan negara.

Seorang imam menempati posisi dalam menjaga agama serta politik yang sifatnya duniawi 

الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا به

Jika ini dilakukan, di mana Negara meriilkan penerapan Al-Quran sebagai Huda/petunjuk, niscaya dapat dipastikan akan membawa keberkahan bagi seluruh Alam (QS. Al – A’raf : 96).

Ramadhan dan Ketha'atan 

Ramadhan seharusnya mengantarkan kepada ketaatan total dalam semua aspek. Ketika makan, minum, dan hubungan suami/istri di siang hari dihalalkan namun karena ada perintah menjauhinya maka umat Islam menta’atinya. Demikian juga seharusnya sikap umat Islam terhadap syariat Islam lainnya seperti menjauhi larangan perzinaan, larangan pencurian termasuk di dalamnya koraupsi, larangan riba, larangan menyerahkan SDA kepada swasta apalagi swasta asing. 

Demikian juga ketika diperintahkan satu perkara maka seharusnya menjalankan dengan penuh ketha'atan karena yang memerintahkan adalah yang menciptakan dirinya. Inilah gambaran ketakwaan totalitas yang harus diperjuangkan oleh siapa pun terlebih para ulama dan mubalighah dalam setiap ceramah yang disampaikannya. 

Ramadan adalah bulan istimewa dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Di dalamnya, kaum mukmin diwajibkan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, sebagaimana firman Allah Swt., “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 183).

Takwa sebagai buah dari pelaksanaan puasa Ramadan adalah derajat yang istimewa. Sebabnya, ketakwaan adalah sebaik-baik bekal kehidupan di dunia bagi seorang muslim dan bekal keselamatan di akhirat. Ini sejalan dengan firman Allah Swt., “Berbekallah kalian. Sungguh, sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kalian kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.” (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Imam Ibnu al-‘Arabi di dalam Kitab Ahkâm Al-Qur’ân memberikan penjelasan atas frasa la’allakum tattaqûn (agar kalian bertakwa) dengan tiga penjelasan. Pertama, mukmin yang telah meraih derajat takwa, akan terbentuk dalam dirinya sikap untuk selalu menjauhi perbuatan dan perkataan yang Allah haramkan, baik selama menjalankan puasa Ramadan maupun setelah Ramadan berakhir.

Sungguh, mukmin yang meraih takwa sebagai buah dari puasa Ramadan juga akan selalu menjauhkan diri dari perbuatan meniru-meniru perilaku kaum kafir. Puasa adalah wahana untuk membentuk loyalitas hanya kepada Allah Swt., Rasul-Nya, dan kaum mukmin. Loyalitas inilah yang akan menghindarkan seorang muslim dari upaya meniru-niru pemikiran, adat-istiadat, dan peradaban kaum kafir yang bertentangan dengan Islam.

Terkait makna takwa pula, Imam Ath-Thabari, saat menafsirkan QS Al-Baqarah: 183 di atas, antara lain mengutip Imam Al-Hasan yang menyatakan, “Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang telah Allah haramkan atas diri mereka, sekaligus melaksanakan perkara apa saja yang telah Allah titahkan kepada mereka.” (Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân li Ta’wîl al-Qur’ân, I/232-233).

Allah Swt. menggambarkan karakteristik orang-orang yang bertakwa dengan beberapa sifat sebagaimana yang difirmankan di dalam Al-Qur’an, “Alif Lâm Mîm. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang mengimani perkara gaib, yang mendirikan salat, yang menafkahkan sebagian rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka, yang mengimani Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepada kamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum kamu, serta mereka meyakini adanya (kehidupan) akhirat.” (QS Al-Baqarah [2]: 1–4).

Allah Swt. pun berfirman, “Bersegeralah kalian meraih ampunan dari Tuhan kalian dan meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik pada waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang biasa menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain—Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan, (juga) orang-orang yang jika mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka—siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah—dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sementara mereka mengetahui.” (QS Ali Imran [3]: 133–135).

Ramadan dan Optimalisasi Peran Perempuan 

Telah sangat nyata bahwa Ramadan adalah bulan istimewa bagi perempuan, terlebih bagi para ibu. Bahkan ketika pun mereka mendapatkan haid saat Ramadan, mereka tetap memiliki banyak peluang pahala. Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita berupaya memaksimalkan peran kita sebagai ibu saat Ramadan ini. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh para ibu saat bulan yang mulia ini agar Ramadan yang dijalani bisa begitu bermakna, di antaranya, 

Pertama, menyediakan dan memasak makanan yang halal dan tayib untuk berbuka dan sahur.

Seorang ibu bisa mendapatkan pahala yang lebih banyak lagi, yakni dengan menyediakan makanan yang halal dan tayib untuk keluarganya ketika sahur dan berbuka sehingga keluarganya bisa tetap sehat dan fit menjalankan ibadah puasa.

Semua amal kebaikan apa pun bernilai pahala, bahkan sekadar memberi seteguk air kepada orang berpuasa, pahalanya sama seperti orang berpuasa. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad).

Orang yang memberi makan saat berbuka puasa juga dijanjikan untuk masuk surga. Nabi saw. pernah berkata kepada seorang sahabat, “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Nabi Muhammad saw. pun ditanya, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan, wahai Rasulullah?” Kemudian Nabi saw. menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan salat pada malam hari pada waktu manusia pada tidur.” (HR Tirmidzi).

Kedua, membangunkan anggota keluarga untuk sahur.

Membangunkan anggota keluarga kita untuk sahur bersama merupakan bentuk khidmat atau pelayanan kita terhadap anggota keluarga dan ini merupakan amal kebaikan. Banyak hadis yang menjelaskan hal ini, di antaranya hadis dari Jabir bin Abdullah, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kebaikan adalah sedekah. Dan di antara bentuk kebaikan adalah kamu menjumpai saudaramu dengan wajah yang menyenangkan. Dan kamu menuangkan air dari embermu ke dalam bejana milik saudaramu.” (HR At-Tirmidzi).

Imam Muslim meriwayatkan, dari Anas ra., ia berkata, “Dahulu kami pernah bepergian bersama Nabi dan di antara kami ada yang berpuasa dan ada pula yang tidak. Maka, orang-orang yang berpuasa pun berjatuhan. Maka, orang yang tidak berpuasa bangkit, kemudian mendirikan tenda dan memberi minum hewan tunggangan mereka.” Rasulullah saw. pun bersabda, “Hari ini mereka yang berbuka telah menuai pahala.” (HR Muslim).

Ketiga, memperbanyak amalan sunah.

Ramadan yang bertabur pahala ini sungguh sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja tanpa kita memperbanyak ibadah sunah. Upayakan untuk mengerjakan salat sunah rawatib, tarawih berjamaah, dan Tahajud setiap malamnya. Jangan lupa pula selalu membaca Al-Qur’an dan bertadarus di masjid atau di rumah bersama buah hati, bahkan berusaha mengkhatamkannya minimal sekali selama Ramadan kali ini.

Ketika nanti Ramadan berakhir, kita bisa membiasakannya tadarus bersama anak-anak setelah subuh atau magrib. Kita bisa melanjutkan kebiasaan salat berjamaah di masjid setiap subuh dan isya, misalnya, dan sebagainya. Ini karena Allah menyukai ibadah yang kecil dan besar, tetapi konsisten dilakukan.

Keempat, mengajak anggota keluarga menuntut ilmu dan menghadiri majelis ilmu.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, bisa dengan mempelajari buku Islam ataupun mengikuti dan menghadiri majelis ilmu. Sebagai seorang ibu, kita harus terus meningkatkan ilmu dan pemahaman Islam kita. Tidak hanya sebagai pegangan dalam melangkah, tetapi juga menjadi bekal kita untuk mendidik anak-anak sehingga mereka menjadi saleh dan salihah.

Terlebih lagi bagi keluarga pengemban dakwah, tentu harus terus meningkatkan kualitas diri, salah satunya dengan memperkaya tsaqafah dan kemampuan untuk berdakwah. Memperbanyak membaca buku, menghafal ayat Al-Qur’an dan hadis, atau berguru untuk mempelajari berbagai tsaqafah Islam, hingga menghadiri majelis-majelis ilmu, adalah sebagian aktivitas yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas sebagai pengemban dakwah.

Apalagi jika program ini dilakukan bersama keluarga, tentu akan makin menyenangkan. Selain bisa mendapatkan pemahaman lebih banyak, kita juga bisa berdiskusi dengan anggota keluarga lainnya sehingga makin paham. Dalam momen ini pun, kita sebagai orang tua akan makin mudah untuk menguatkan pemahaman anak-anak kita. Mengikuti kajian rutin bersama juga bisa menjadi ajang pembinaan dan menjalin kedekatan di antara anggota keluarga.

Kelima, memperbanyak zikir dan sedekah.

Sebagai ibu, kita juga bisa mengajak anak-anak untuk menjaga amalan sunah lainnya yang sudah biasa dilakukan saat Ramadan, seperti banyak berzikir dan bersedekah. Ini agar kita terlindungi dari keburukan dan mendapatkan pahala besar, serta makin mendekatkan kita kepada Allah dan pada akhirnya akan meningkatkan ketaatan kita kepada Allah Taala.

Kita ajak keluarga untuk membiasakan menyisihkan sebagian harta, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Juga membiasakan membaca zikir pagi dan petang, zikir sebelum tidur, zikir keluar dari rumah, dan sebagainya. Manfaatkan waktu kosong ketika bekerja, berjalan, atau beraktivitas dengan memperbanyak zikir kepada Allah Taala.

Keenam, terus berjuang menyampaikan dakwah Islam.

Saat Ramadan, pada umumnya umat—termasuk kaum perempuannya—berada pada tingkat girah Islam yang tinggi sehingga mudah bagi kita mengajak umat untuk mengkaji Islam. Tentu saja kesempatan ini jangan sampai kita lewatkan. Saat girah ini masih melekat inilah saat yang amat mendukung untuk mengajak para ibu dan perempuan lainnya untuk kembali kepada ketaatan total kepada Allah Swt. dan memuliakan jalan Allah agama-Nya.

Bismillaahirrahmaanirrahiim, marilah kita menjadi hamba Allah yang istimewa, dengan mensyukuri kehadiran bulan istimewa ini dengan menghiasi setiap waktunya dengan berbagai amal saleh. Selain amalan individual yang sifatnya rutinitas, mari kita syukuri kehadiran bulan suci ini dengan meningkatkan amal dakwah dan amar makruf nahi mungkar untuk menghilangkan berbagai bentuk kezaliman, khususnya kezaliman penguasa, yang tentu pahalanya jauh lebih besar.

Mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum perubahan diri untuk makin istiqomah dalam ketakwaan hingga ujung kehidupan. Lebih dari itu, mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum untuk makin istiqomah sebagai pejuang Islam hingga terwujud penerapan Islam secara kâfah di muka bumi ini.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update