Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Palestina Tak Bisa Diputus Asa

Saturday, March 08, 2025 | Saturday, March 08, 2025 WIB

 

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Allah Ta'ala berfirman, 

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.“ (QS. Al hujurat:10)

Firman Allah Ta'ala ini seakan tidak lagi dipedulikan. Para penguasa muslim telah “buta, tuli, dan bisu” sehingga tidak menjawab seruan-Nya. Permintaan tolong dari anak-anak Palestina yang terluka, kelaparan, dan kehilangan keluarganya tak membuat munculnya rasa iba. Pengkhianatan dilakukan. Nasionalisme sekat negara bangsa telah membelenggu sehingga tidak merasa urusan Palestina sebagai urusan mereka. 

Gencatan senjata hanya topeng raja pati zi*nis terhadap saudara Palestina. Basa basi yang penuh dengan benci. Biadab sudah pasti.

Yang tak kurang membuat malu, para penguasa muslim hanya  menyibukkan diri dengan urusan internal negaranya. Para penguasa muslim enggan bergerak untuk membela Palestina. Jangankan mengomando seruan pembelaan secara nyata,  mengerahkan militer untuk jihad fisabilillah pun tak ada niat.

Sungguh persepsi, standar, dan ketundukan umat Islam tidak lagi pada Islam,  sehingga sebagian dari mereka tidak peduli terhadap penderitaan yang dialami saudara sesama muslim di Palestina. Kepedulian hilang secara nyata.

Menyedihkan. Suatu hal yang sangat tidak manusiawi. Saat Muslim Palestina meregang nyawa,  di Alexandria Mesir penyelenggaraan konser musik Tamer Hosny pada Jumat (18-10-2024) digelar dan dihadiri ratusan ribu muslim.

Nasionalisme Mendominasi Ego 

Rasulullah saw. bersabda, 

Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada asabiah (nasionalisme/sukuisme), orang yang berperang karena asabiah, dan orang-orang yang mati karena asabiah.” (HR Abu Dawud). 

Hadits ini sangat jelas menentang nasionalisme yang memunculkan pandangan persoalan Palestina tak lagi sebagai persoalan bersama umat Islam.

Shabir Ahmed dan Abid Karim dalam buku Sejarah Nasionalisme di Dunia Islam menjelaskan bahwa Barat telah menancapkan sebuah mekanisme yang menyebabkan kaum muslim tetap terpecah-belah. Mekanisme itu adalah keberadaan para penguasa antek penjajah di tengah kaum muslim. Mereka memperoleh kekuasaannya setelah melakukan kolusi dengan Barat, bukan karena pilihan rakyat. Setelah berkuasa, mereka menjunjung tinggi batas-batas wilayahnya yang telah merobek-robek tanah kaum muslim. Bahkan mereka rela berperang dengan sesama muslim demi meluaskan wilayah kekuasaannya.

Tirani dan intimidasi terhadap orang-orang yang hendak menegakkan Islam di panggung politik dilakukan di bawah pengaruh dan kontrol kaum kafir penjajah. Kecintaan terhadap kekuasaan dan jabatan membuat para penguasa tersebut mati rasa terhadap penderitaan muslim Palestina.

Mengharap pada para penguasa untuk membebaskan Palestina sulit dirasa.  Pembelaan mereka terhadap Palestina sebatas retorika saja. Kecaman tanpa  mengirimkan pasukan,  padahal mereka punya militer yang kuat dengan senjata yang canggih, nihil aksi. Tragisnya mereka malah berhubungan mesra dengan Z1on*s Israel.

Mengharap pada organisasi-organisasi negara muslim seperti Liga Arab dan Organisasi Konferensi Islam (OKI), pun bagai pungguk merindukan bulan. Hanya mengecam tanpa upaya riil mengomando dunia Islam untuk melakukan jihad pembebasan, itulah yang mereka lakukan.

Perjuangan Pembebasan Palestina, Urgen!

Sungguh genosida di Palestina adalah urusan umat Islam.

Sabda Rasulullah Saw.,

 “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Bukhari dan Muslim).

Tanggung jawab untuk terus bersuara tanpa kenal lelah dan menuntut para pemimpin negeri muslim agar segera mengirimkan pasukan dengan kekuatan penuh untuk berjihad di bumi Palestina adalah tanggungjawab kaum Muslim di mana pun berada termasuk Indonesia. Militer muslim wajib datang untuk membebaskan Palestina, bukan sebagai pasukan perdamaian di bawah komando PBB yang tidak melakukan aksi nyata untuk membebaskan Palestina. 

Kejumawaan Israel tak bisa dibungkam dengan retorika. Mereka hanya mengerti jihad dan perang. 

Umat Islam harus terus semangat menyuarakan pembebasan Palestina meski banyak intrik Barat untuk memadamkannya. Umat tidak boleh bungkam berdiam diri karena perjuangan dan pembelaan umat Islam terhadap Palestina merupakan amal saleh yang luar biasa besar pahalanya di sisi-Nya. 

Firman Allah Taala, 

"Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh) maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS Al-Maidah [5]: 41).

Pembebasan Palestina hanya akan terwujud dengan adanya sulthan[an] nashira (kekuasaan yang menolong), yaitu kekuasaan yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi dalam bentuk negara, sistem, dan penguasanya yang benar-benar telah menolong dan memenangkan Islam dan kaum muslim.

Kekuasaan ini akan menjadi junnah (perisai) yang melindungi umat Islam dari musuhnya. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’alaih).

Kekuasaan yang menjadi junnah itu adalah Khilafah. Khilafah akan menyatukan negeri-negeri muslim, baik wilayahnya, rakyatnya, maupun militernya. Selanjutnya Khilafah akan menjadikan pembebasan Palestina sebagai agenda utama segera setelah Khilafah tegak. Khilafah akan menolak solusi yang disodorkan lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan negara Barat (AS dan Eropa), yaitu solusi dua negara yang pada hakikatnya melanggengkan penjajahan terhadap Palestina. Khilafah juga akan memboikot semua produk dan pemikiran yang terafiliasi dengan Israel.

Khilafah akan melakukan aksi nyata membebaskan Palestina dengan mengirimkan pasukan dalam jumlah besar untuk menghancurkan entitas Israel hingga ke akarnya. Khilafah juga akan berjihad menghadapi negara lain seperti AS yang membela Israel.

Khilafah akan kembali membangun Palestina agar umat Islam di sana bisa hidup layak. Pembangunan itu mencakup insfrastruktur keras, yaitu bangunan, sarana transportasi, telekomunikasi, dan lainnya serta infrastruktur lunak berupa sistem pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Khilafah akan menempatkan pasukan dalam jumlah cukup untuk berjaga-jaga di tanah ribath (perbatasan) Palestina jika sewaktu-waktu ada serangan dari musuh umat Islam.

Agenda besar umat hari ini adalah menegakkan Khilafah. Umat Islam harus menyadari bahwa Khilafah adalah satu-satunya solusi atas penjajahan di Palestina.

Harus ada kelompok dakwah di tengah-tengah umat yang terus menyadarkan umat akan posisinya sebagai umat terbaik sebagaimana firman Allah di dalam QS Ali Imran ayat 110, “Kalian (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

Kelompok dakwah ini juga harus menyadarkan umat tentang kewajiban menegakkan Khilafah. Rasulullah saw. telah memberikan teladan tentang metode penegakan Khilafah yang menerapkan Islam kafah. Metode tersebut adalah:

1. Pengaderan (at-tatsqîf).

2. Interaksi dengan umat (at-tafâ’ul ma’al ummah), termasuk di dalamnya adalah pencarian dukungan dan pertolongan (thalab an-nushrah).

3. Penerimaan kekuasaan dari pemilik kekuasaan (istilâm al-hukmi).

Sirah Rasulullah saw. menunjukkan atas tiga tahapan tersebut dalam mendirikan Negara Islam di Madinah. Dengan demikian kita wajib mengikuti metode tersebut. Kita wajib terikat dan konsisten dengan tiga tahapan sebagaimana yang Nabi saw. contohkan.

Pada tahap yang kedua, yaitu interaksi dengan umat, salah satu perkara yang penting dilakukan adalah mewujudkan ra’yu amm (opini umum) di tengah umat. Tujuannya adalah agar masyarakat tidak lagi percaya pada sistem sekuler kapitalisme yang gagal melindungi Palestina dan mengalihkan kepercayaannya pada sistem Islam, yaitu Khilafah.

Caranya adalah dengan membongkar kebobrokan kapitalisme dan ide turunannya, yaitu nasionalisme sehingga tampak jelas kebatilannya dari sisi filosofis normatif, historis, maupun empiris. Selanjutnya adalah menawarkan sistem Islam sebagai solusi. Pemahaman bahwa Islam adalah mabda’ (ideologi) yang memiliki akidah rasional serta sistem (aturan) kehidupan yang mampu menyelesaikan problem kehidupan mesti terus diopinikan. Dengan demikian, rakyat sebagai pemilik kekuasaan yang hakiki akan memahami, mengamalkan, menginginkan, dan menuntut penerapan Islam kafah.

Masifnya opini umum yang meminta penegakan Islam kafah di tengah umat akan mendorong ahlul quwwah (simpul umat) untuk menumbangkan tiran tanpa kekerasan. Tidak boleh ada kekerasan fisik/bersenjata untuk menegakkan Khilafah. Sifat dakwah khilafah adalah fikriyah (pemikiran), siyasiyah (politis), dan la unfiyah (tanpa kekerasan). Inilah dakwah yang harus kita lakukan untuk mewujudkan Khilafah sebagai pembebas Palestina. 

Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update