Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Masjid Al Aqsa dalam Cengkeraman Zionis, Umat Islam Tidak Boleh Diam

Monday, March 10, 2025 | Monday, March 10, 2025 WIB

 


Oleh Ummu Kholda 

Pegiat Literasi



Selama Bulan Ramadan, kelompok Hamas mengajak warga Palestina untuk beribadah di Masjid Al-Aqsa. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perlawanan atas pendudukan Zionis terhadap rakyat Palestina. Dilansir Antara, Sabtu (1/3/2025), Hamas menyampaikan pernyataannya agar warga Palestina menjadikan hari-hari dan malam-malam Ramadan yang penuh berkah didedikasikan untuk ibadah, keteguhan hati, dan perlawanan terhadap musuh dan pemukim (ilegal), serta untuk mempertahankan Yerusalem dan Al-Aqsa sampai terbebas dari pendudukan.


Tak hanya itu, warga Palestina di seluruh dunia juga diimbau untuk mendukung saudara-saudara mereka di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem sebagai bentuk solidaritas. Parahnya lagi akses ke Masjid Al-Aqsa pun diduga dibatasi oleh otoritas Zionis melalui karantina wilayah dengan alasan keamanan. Pernyataan ini disampaikan oleh khatib Masjid Al-Aqsa, Sheikh Ekrima Sabri, pada Jumat malam (28/2/2025). Karantina terhadap suatu wilayah atau daerah tertentu dilakukan untuk mencegah orang masuk atau keluar wilayah Al-Aqsa. Pembatasan kepada kaum muslim ini juga dilakukan selama bulan Ramadan, setiap tahunnya terlebih bagi warga Palestina yang datang dari wilayah Tepi Barat. (Nomorsatu.kaltim.disway.id, (1/3/2025) 


Belenggu Nasionalisme


Sejatinya, upaya Zionis menerapkan pembatasan jamaah salat di Komplek Masjid Al-Aqsa, menunjukkan bahwa wilayah tersebut masih dalam penjajahan, karena keamanan kaum muslimin masih di tangan orang kafir. Jelas ini tidak adil bagi kaum muslimin yang hendak melaksanakan salat jamaah di masjid suci, di bulan mulia dan istimewa tapi dihalang-halangi Zionis dengan tindakan keji mereka. Bagi kaum muslim, Masjid Al-Aqsa memiliki banyak arti. Di antaranya: pertama, pernah menjadi kiblat pertama kaum Muslim untuk melaksanakan salat selama 16 bulan. Kedua, Masjid Al-Aqsa dan Syam (Palestina) adalah tanah yang diberkahi Allah Swt. Ketiga, merupakan tanah suci yang telah Allah berkahi dengan banyaknya nabi yang diutus ke sana. Syariat yang mereka bawa telah menyebar ke seluruh dunia. Nabi saw. juga telah mendorong kaum muslim untuk beribadah di Masjid Al-Aqsa, karena besarnya keutamaan yang Allah Swt. limpahkan. Sabda Nabi saw.: "Janganlah mengencangkan pelana (untuk melakukan suatu perjalanan) kecuali menuju tiga Masjid, yaitu Masjid Al-Haram (di Makkah), masjidku (Masjid Nabawi di Madinah), dan Masjid Al-Aqsa (di Palestina)." (HR. Bukhari dan Muslim) 


Semangat warga Palestina untuk menjalankan Ramadan di Masjid Al-Aqsa secara tenang dan nyaman harusnya di dukung juga oleh kaum muslim di luar Palestina. Karena Islam mengajarkan bahwa sesama muslim bersaudara. Sudah seharusnya kaum muslim menolong mereka, membebaskan dari penjajahan Zionis. Namun hal itu sulit dilakukan, mengingat betapa kaum muslim saat ini tersekat oleh paham bernama nasionalisme. Kaum muslim menjadi lemah dalam memahami esensi ukhuwah Islamiyah. Kesadaran akan persatuan kaum muslim dianggap hal yang mustahil karena setiap negara kaum muslim dibatasi oleh batas-batas nasionalisme. Mereka merasa semua yang terjadi di Palestina adalah urusan dalam negerinya. Sehingga tidak mau ikut campur apalagi repot-repot mengirimkan tentaranya. 


Umat Islam Palestina juga tidak boleh gentar menghadapi kejahatan Zionis yang didukung Amerika Serikat di belakangnya. Apalagi saat ini adalah bulan Ramadan, semestinya digunakan untuk menguatkan azam dalam perjuangan melenyapkan penjajahan. Tak hanya itu, umat Islam juga tidak boleh berharap pada solusi Barat dan narasi-narasi sesat soal perdamaian. Karena pada dasarnya Barat tidak sepenuh hati menyolusikan konflik Palestina, melainkan hanya ada kepentingan di balik campur tangannya. Lebih tepatnya, Barat menginginkan umat Islam kalah dan semakin terpuruk. 


Kepemimpinan Islam Sebagai Perisai 


Islam memandang masalah Palestina sebagai urusan umat Islam, bukan sekadar urusan kaum muslim di sana. Sehingga umat Islam mempunyai tanggung jawab untuk bersuara, tidak boleh diam ketika saudaranya dizalimi. Rasulullah saw. bersabda yang artinya: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)." (HR. Bukhari dan Muslim) 


Perjuangan dan pembelaan kaum muslim terhadap Palestina merupakan keharusan dan menjadi amal saleh yang luar biasa pahalanya di sisi Allah Swt.. Umat Islam harus membebaskan bumi Palestina dari cengkeraman Zionis. Untuk itu perlu adanya kekuasaan dan kepemimpinan yang akan menolong mereka, yakni kepemimpinan Islam (khilafah). Kepemimpinan Islam ini akan benar-benar melindungi umat Islam dari musuh-musuhnya serta menjadi junnah (perisai) bagi umatnya. Ia akan menyatukan negeri-negeri muslim di seluruh dunia, baik wilayahnya, rakyatnya, maupun militernya. Sabda Rasul saw.: "Sesungguhnya imam (khalifah) adalah perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-Nya." (HR Muttafaqun 'alaih) 


Hadirnya negara Islam (khilafah) inilah yang akan menghancurkan entitas Zionis yang merupakan hariban fi'lan, yaitu pihak yang wajib diperangi secara nyata dengan jihad fii sabilillah. Oleh karenanya, penegakan kembali khilafah merupakan qadliyah mashiriyah (masalah paling penting) yang wajib menjadi agenda utama umat islam. Tanpa adanya jihad dan khilafah, penjajahan Zionis atas Palestina tidak akan pernah berakhir, bahkan semakin menjadi. 


Wallahu a'lam bi ash-shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update