Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir Menerjang, Buah Kebijakan Kapitalistik

Wednesday, March 19, 2025 | Wednesday, March 19, 2025 WIB Last Updated 2025-03-19T13:50:16Z

 

Oleh Neneng Hermawati, S.pdi 

Pendidik Generasi Cemerlang 


"Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan yang dengannya kamu menggembalakan ternakmu." (TQS. An-Nahl[16]: 10)


Allah Swt. menurunkan hujan sebagai salah satu rahmat-Nya untuk kehidupan manusia. Hujan merupakan fenomena alam yang memegang peranan penting dalam siklus kehidupan di bumi, bahkan suatu tempat dikatakan terdapat kehidupan kalau di sana ada air, seperti planet bumi yang satu-satunya planet yang memiliki kehidupan.


Turunnya hujan menjadikan tanah tandus menjadi hidup kembali, menyuburkan tumbuhan dan juga sangat besar manfaatnya bagi hewan dan manusia.

Namun, bagaimana mungkin di tengah berkahnya hujan bagi kehidupan manusia ternyata curah hujan dengan intensitas yang tinggi dapat menyebabkan aliran air meluap sampai terjadi banjir bandang? Sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini, banyak wilayah di Indonesia dilanda banjir dahsyat, yang terparah adalah banjir di Jabodetabek terutama di wilayah Bekasi Raya. Banjir tersebut terjadi sejak Selasa (4-3-2025) dini hari.


Akibatnya rumah-rumah penduduk, kendaraan, jembatan, pusat-pusat kegiatan ekonomi, fasilitas umum semuanya terendam air. Gelombang banjir pun melanda di wilayah lain, seperti Sukabumi, Bandung, Cimahi, Sumedang bahkan Sumatera, Sulawesi, dan  Kalimantan.


Saat ini, pemerintah pusat dan daerah masih menjadikan curah hujan yang ekstrim sebagai faktor utama penyebab dari banjir. Wilayah Jabodetabek, menurut BMKG memang sudah diperingatkan jauh-jauh hari bahwa curah hujan tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Untuk menangani bencana tersebut akhirnya pemerintah melakukan upaya modifikasi cuaca agar mengurangi curah hujan yang ekstrim, sedangkan menurut Yus Budiono, peneliti ahli madya dari pusat riset limnologi dan sumber daya air BRIN mengatakan bahwa ada empat faktor banjir di wilayah Jabodetabek, yakni penurunan muka tanah, perubahan tata guna lahan, kenaikan muka air laut, dan fenomena cuaca ekstrem.


Senada dengan hal itu, menurut Firman Soebagyo, sebagai anggota IV DPR RI dari fraksi partai Golkar bahwa program pembukaan lahan 20 juta hektar hutan menjadi lahan untuk pangan, energi, dan air, pemicu terjadinya banjir di Jabodetabek. (tirto.id 6/3/2025)


Dengan demikian, jelaslah bahwa banjir yang menimpa di berbagai daerah bukanlah semata karena curah hujan yang tinggi, melainkan karena pengelolaan SDA dan perubahan tata guna lahan di wilayah hulu ataupun di perkotaan yang salah.


Jika kondisi ini terus menerus dibiarkan maka bencana banjir akan terus berulang. Permasalahan bukan hanya pada masalah teknis tapi juga secara sistemis, dimana kebijakan pemberian izin pembangunan, tempat wisata, deforestasi dan alih fungsi lahan sangat mudah diperoleh pengusaha. Kebijakan tersebut berparadigma kapitalistik yang menghantarkan pada konsep pembangunan yang abai pada pelestarian lingkungan dan keselamatan manusia.


Saat ini proyek-proyek pembangunan hanyalah jalan para pemilik modal untuk memperoleh keuntungan yang besar meski harus merusak lingkungan dan melakukan alih fungsi hutan sehingga menghambat kemampuan tanah dalam menyerap air hujan. Biang kerok dari  rusaknya alam yang menyebabkan kehancuran dan bencana tiada lain adalah kebijakan sekuler-kapitalistik yang tidak mengenal prinsip halal dan haram. Keseimbangan alam yang seharusnya dijaga, malah dirusak atas nama pertumbuhan ekonomi dan juga pembangunan. 


Oleh karena itu, kondisi alam akan tetap terjaga dari kerusakan dan bencana jika penyelesaiannya  dikembalikan kepada sistem Islam. Negara yang menerapkan sistem Islam akan memiliki visi sebagai rahmatan lil 'alamiin. Kebijakan yang dikeluarkan oleh penguasa berparadigma sebagai raa'in (pengurus) urusan rakyat. Ia akan selalu memperhatikan tercapainya kesejahteraan rakyat, keamanan, dan juga melakukan mitigasi yang kuat untuk mencegah terjadinya bencana longsor atau banjir.


Penguasa menetapkan Islam sebagai azas konsep pembangunan yang tidak merusak alam, dan menjaga kelestariannya. Sepanjang kepemimpinan dalam Islam telah terbukti mampu mengatasi berbagai bencana. Tata kota pada masa Abbasiyah di Baghdad dan Utsmaniyah di Turki, misalnya adalah salah satu bukti kemampuan khilafah dalam mengatasi bencana termasuk banjir.



Wallahu a'lam bishshawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update