Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PROBLEMATIKA SAMPAH HARUSKAH NEGARA MENYERAH?

Sunday, February 02, 2025 | Sunday, February 02, 2025 WIB Last Updated 2025-02-02T12:24:28Z


Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Jawa Barat akan mengalami ledakan sampah jika warga Bandung Raya tidak mengelola limbah yang mereka hasilkan dengan baik. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Herman Suryatman selepas meninjau Oxbow Cicukang, Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Selasa  (kompas.com, 28-01-2025).

Fakta sampah sebagai salahsatu penyebab banjir tidak terelakkan lagi. Tumpah ruahnya air menggenangi ruang hidup membawa kesulitan untuk beraktivitas. Sampah menggunung tentunya bukan tanpa sebab. Semua sangat berkaitan dengan ulah manusia. Sungguh jadi teringat akan ayat Allah: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."(QS. Ar Ruum41).

Fenomena alam yang saat ini dirasakan oleh kita semua saling kait mengait dengan sistem pengelolaan negara dalam menanganinya. Tidak bisa lagi hanya diserahkan pada rakyatnya untuk sadar diri tetapi perlu upaya strategis yang lebih serius karena keberadaan sampah ini bukan sebuah peristiwa biasa, negara tidak boleh menyerah dalam menangani nya.

Perlu Negara dalam Tata Kelola Sampah

Saat berbicara tentang sampah, tidak bisa kita pisahkan keberadaannya dalam lingkungan. Al-Quran ketika membahas alam atau berbicara masalah lingkungan, menggunakan beberapa term, yaitu al-‘alamin (seluruh spesies atau makhluk) disebut sebanyak 71 kali, al-sama’ (ruang dan waktu) disebut sebanyak 387 kali (210 bentuk jamak dan 177 bentuk tunggal), al-ardl (bumi) disebut sebanyak 463 kali, dan al-bi’ah (lingkungan) disebut sebanyak 15 kali. Dan menurut Islam (Al-Quran) alam bukan hanya benda yang tidak berarti apa-apa selain dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Alam dalam pandangan Islam (Al-Quran) adalah tanda (ayat) “keberadaan” Allah. Alam memberikan jalan bagi manusia untuk mengetahui keberadaan-Nya. Allah berfirman,

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin,”(QS Adz-Dzariyat [51]:20).

Dalam Al-Quran pun Allah menyatakan bahwa alam diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah berfirman,

"Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir,”(QS Al-Jatsiyah [45}:13). Ayat inilah yang menjadi landasan teologis bagaimana pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusi bukan hanya sesuai hawa nafsu belaka.

Ketika Allah mengutus manusia sebagai khalifah Allah, salah satu kewajiban atau tugasnya adalah membuat bumi makmur. Ini menunjukkan bahwa kelestarian dan kerusakan alam berada di tangan manusia. Dalam Islam (Al-Quran), hak mengelola alam tidak dapat dipisahkan dari kewajiban untuk memelihara kelestariannya (sinergi keduanya). Mengelola alam harus diiringi dengan usaha-usaha untuk melestarikannya. Banyaknya ayat Al-Quran yang membicarakan larangan merusak bumi, mengindikasikan kewajiban umat Islam untuk memelihara kelestarian dan keasrian bumi. Setiap perusakan lingkungan haruslah dilihat sebagai perusakan terhadap diri sendiri. Tuntunan moral Islam dalam mengelola alam adalah larangan serakah dan menyia-nyiakannya (baca; QS Al-A’raf [7]:31 dan QS Al-Isra [17]:27), serta banyak penjelasan tentang lingkungan ini melalui hadist-hadist Nabi Muhammad Saw.

Di sinilah  penguasa atau negara harus melakukan sesuatu.  Negara harus memahami realita persoalan terkait sampah  hingga mampu memahami pula akar penyebabnya. Apakah sekadar bermuara pada personal rakyatnya yang melakukan perusakan atau ada faktor lain yang harus dibenahi. Dan ini butuh penanganan struktural.

Di sinilah Negara harus menjadi pengelola terbaik dalam hal penanganan alamnya tidak terkecuali sampah. Negara punya peran strategis untuk segera menangani sampah agar segera terurai segala bencana akibat sampah. Bukan hanya menjadikan 'wacana' tangani sampah tapi perlu realisasi strategis baik yang terkait pola hidup warga negaranya juga bagaimana negara benar-benar menanganinya. Sudah saatnya sampah tidak lagi membawa bencana. 

Wallaahu a'laam bisshawaab.




No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update