Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Periayahan Masalah Gizi dalam Islam

Thursday, February 06, 2025 | Thursday, February 06, 2025 WIB



Oleh Komanah 

Aktivis Muslimah


Jakarta, CNBC Indonesia. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan keterlibatan pemerintah daerah dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Diperkirakan kontribusi daerah mencapai Rp5 triliun.

Keterlibatan daerah diharapkan bisa berlangsung setelah kepala Daerah terpilih dilantik, karena perlu ada penyesuaian dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). "Setelah itu mereka membangun sarana satuan pelayanan itu yang mungkin ada di sekolah-sekolah, ini jumlahnya lebih kurang kami aksesis antara 2 ribu kalau untuk dari APBD kabupaten Kota," terang Tito. Tito juga mengharapkan, tambahan anggaran dari provinsi.

Tito akan berkoordinasi secara intensif dengan BGN dan pemerintah daerah untuk menetapkan lokasi dari sarana dan prasarana MBG. Kontribusi masing-masing daerah akan berbeda, tergantung dari kondisi keuangannya. Daerah dengan penerimaan besar, tentu akan memberikan kontribusi yang lebih banyak dibandingkan daerah lain. 

Salah satu program yang selalu menjadi andalan dan selalu dikampanyekan oleh Presiden dan Wakil Presiden adalah program makan gizi gratis. Memang program itu telah terlaksana tetapi tidak merata, masih banyak wilayah yang belum menikmati program makan gizi gratis tersebut. Malah makin gencar terdengar kontradiksi terkait masalah makan gratis ini.

Kebijakan MBG memunculkan banyak masalah, mulai dari  sasaran,  makanan tidak berkualitas sampai yang keracunanpun ada, bahkan yang lebih serius lagi yaitu masalah pendanaan. Karena dalam masalah pendanaan, pemerintah mulai kewalahan sehingga meminta rakyat sendiri untuk berpartisipasi dalam masalah ini. Yang lebih miris lagi, ada wancana bahwa dana zakat akan dipakai untuk biaya makan bergizi gratis. Hal ini  menggambarkan bahwa negara tidak becus dalam mengurus rakyatnya.  Kebijakan ini pada dasarnya tidak menyentuh akar masalah, banyak generasi yang belum terpenuhi kebutuhan gizinya bahkan masih banyak kasus stanting di negeri ini. Inilah kenyataan  hidup di negeri yang kaya dengan Sumber Daya Alamnya, tetapi masih banyak rakyat yang kekurangan makanan yang layak dan sehat.

Program Makan Bergizi Gratis sebenarnya dilakukan bukan untuk kesejahteraan rakyat. Namun, salah satu modus atau pencitraan untuk melancarkan kepentingannya, dan ujung-ujungnya rakyat juga yang terbebani. Program ini sebenarnya untuk menarik suara rakyat  dan pada kenyataanya koprasilah dan pihak-pihak tertentu yang diuntungkan. Pengadaan makanan gizi gratis sudah tentu menggandeng pihak swasta untuk mengelolanya. Sudah pasti ini menambah  ladang usaha bagi para kapitalisme,  yang tujuannya mendapat keuntungan bukan memberikan pelayanan pada masyarakat.

Inilah ciri dari demokrasi, negara seakan lepas tangan dalam mengurus rakyatnya. Negara hanya berfungsi sebagai regulator saja, dan segala sesuatunya diserahkan kepada pengusaha dan oligarki. Tetapi anehnya, negara membuat kebijakan Makan Bergizi Gratis dengan tujuan mencetak generasi yang berkualitas, tetapi pada faktanya hanya menguntungkan para kaum kapitalis saja.

Sungguh bertolak belakang dengan Islam, khilafah akan menjamin kebutuhan gizi generasi dengan mekanisme syariat Islam, sehingga tidak ada masalah stunting  sehingga rakyat sehat karena terpenuhi gizinya. Oleh karena itu, dalam Islam negara wajib menyediakan lapangan kerja yang luas, membangun kedaulatan pangan di bawah Departemen kemaslahatan umum. Departemen ini menjaga kualitas pangan di tengah masyarakat. 

Masalah stunting dan pangan  berkaitan erat dengan kualitas generasi yang akan datang. Walaupun solusi demi solusi telah disodorkan, tetapi tidak menemukan titik terang, malah menambah permasalahan baru. Sudah saatnya kita kembali kepada syariat Islam, karena dalam Islam khilafah akan melibatkan pakar dalam membuat kebijakan  baik dalam pemenuhan gizi, pencegahan stunting maupun dalam mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan. Khilafah mempunyai dana yang besar dari sumber yang beragam. Oleh karena itu, sudah saatnya kita kembali pada syariat Islam, karena segala aturannya datang dari Allah SWT. Syariat Islam akan menuntaskan segala problematika umat dalam segala aspek kehidupan, yang akan membawa keberkahan di dunia dan akhirat.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update