Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

MEMFOKUSKAN FASTABIIQUL KHAIRAAT

Sunday, February 02, 2025 | Sunday, February 02, 2025 WIB Last Updated 2025-02-01T23:54:37Z



Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al Baqarah:148).

Secara keseluruhan, ayat tersebut membahas tentang pengabdian umat Islam pada Allah melalui ibadah. Ayat dibuka dengan firman mengenai kiblat bagi setiap umat dan ditutup dengan janji Allah pada umatnya kelak.

Ketika kebaikan berwujud sebagai lomba maka kemungkinannya selalu ada dua. Kalah atau menang. Kita sudah tahu bahwa setiap lomba pasti menyisakkan si juara satu, dua, tiga, sisanya adalah si tidak menang atau maksimal dia hadir sebagai juara harapan. Dan silahkan mencoba lagi di ajang berikutnya.

Mungkinkah dalam kebaikan kita hanya mengukurnya sebagai lomba? Rasanya tdk cukup hanya menyatakan sebagai  lomba karena yg juara hanya satu yang utama, sedangkan dlm hal meraih kebaikan semua orang sudah berusaha keras utk meraihnya. Kiranya lebih tepat rasanya jika kita maknai dengan beradalah di depan dalam kebaikan tidak menunggu menjadi yang berikutnya. Tdak menunda untuk urutan berikutnya. Namun sungguh sungguh untuk menjadi terdahulu dalam kebaikan dan tidak melalaikan setiap peluang dan kesempatan dalam hidup.

Ketahuilah, hidup adalah modal yang diberikan Allah. Dan modal itu sangat terkait dengan waktu. Ya...waktu, dan usia kita itulah waktu yang Allah beri saat kita hidup di mana hidup ini terus berjalan semakin berkurang dan berkurang. Jadi tiada waktu lagi untuk  menunda.

Belajar dari kehidupan pada saat turun ayat tentang hijab, tanpa membuang tempo, para shahabiyah langsung mengambil kain-kain mereka dan melilitkan ke seluruh tubuhnya. Para shahabiyah yang berada di pasar-pasar lantas tidak langsung pulang ke rumah. Mereka memilih untuk bersembunyi di balik batu-batu besar, menunggu malam yang sepi barulah mereka pulang ke rumah. Ini adalah bukti, bahwa sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang memiliki budaya fastabiqul khairat, budaya tak mau menunggu dan selalu kompetisi dalam ketaatan.

"Mereka itu bergegas segera dalam meraih kebaikan, Dan merekalah orang-orang yang terdahulu memperolehnya,” (Al. Mu’minun : 61).

Namun apa yg terjadi saat ini. Faktanya, kondisi kekinian dalam masyarakat kita berbeda, budaya kompetisi ini lebih di gandrungi dalam ranah keduniaan. Berlomba-lomba dalam memperkaya diri, mempercantik rupa, menggagah-gagahkan sikap, mengejar jabatan, mencicil gelar demi gelar dan menumpuk atribut-atribut keduniaan lainnya. Sehingga wajar, Islam menjadi sebuah nilai yang binasa dan dibinasakan oleh kekuatan kapitalis yang mendunia. Materi menjadi tuhan yang disembah dan diserbu dalam setiap peelombaan duniawi. Kehidupan sekuler menjadikan fastabiiqul khairat tdk lagi bermakna hakiki dan mewujudkan kemenangan hakiki.

"Bukanlah kefaqiran yang sangat aku khawatirkan terjadi pada kalian, tetapi aku sangat khawatir jika (kemewahan, kesenangan) dunia dibentangkan luas atas kalian, kemudian karenanya kalian berlomba-lomba untuk meraihnya seperti dimana yang pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian. Maka akhirnya kalian binasa sebagaimana mereka juga binasa karenanya,” (Bukhari dan Muslim). 

Meraih dunia memang bukanlah sebuah larangan. Namun dunia yang didapat seharusnya untuk kemenangan Islam dan juga kemenangan kaum Muslimin.  Lalu cukup kah menjadi manusia biasa untuk menjadi manusia pilihan yang memiliki life style fastabiiqul khairat karena sesungguhnya fastabiiqulkhairat hanyalah dimiliki oleh orang orang pilihan

Dalam surah Al-Fatir ayat 32, Allah menggambarkan tiga prototipe manusia.

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba kami, lalu diantara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar".

Jenis Pertama adalah mereka yang zalim. Keburukan mereka lebih banyak daripada kebaikan yang mereka lakukan. Mereka menghabiskan usia pada perkara-perkara yang Allah tidak ridho.

Jenis yang kedua adalah mereka yang pertengahan. Disatu waktu mereka melakukan keburukan tetapi di waktu lain merekapun melakukan kebaikan. Merekalah orang yang ibadahnya jalan, keburukannya pun jalan.

Jenis yang ketiga adalah mereka yang selalu membangun budaya fastabiiqul khairaat, yang mereka senantiasa yang terdepan berlomba dalam ketaatan. Dan   karakteristik inilah yang nampak dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat pantas dikatakan “khairu ummah” atau generasi yang terbaik. Mereka tidak pernah melewatkan momentum untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Tak rela melepaskan kesempatan untuk mengisi setiap desahan nafas dalam ketaatan kepada Allah. Mereka selalu memaksimalkan setiap pintu kebaikan yang Allah bukakan. Senantiasa memperjuangkan Islam dalam setiap sendi sendi hidupnya.

Sudah saatnya kita memuhasabahi diri bahwa ada di jenis mana kita  saat ini. Seringkali kita tidak memiliki semangat untuk ber-fastabiqul khairat- berlomba-lomba terdepan  dalam kebaikan. Kita seolah merasa cukup dan baik-baik saja berada di luar arena, menjadi penonton atau bahkan komentator, pengeritik perlombaan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Pencela penghujat kebencian terhadap perjuangan penegakkan Islam. Terkadang kita menempatkan  diri sebagai komentator dan kritikus tanpa terlibat dalam perlombaan  meraih ridho Allah. Sebuah peran yang teramat melelahkan, membuang-buang waktu. 

Adalah sebuah musibah jika kita kehilangan kesempatan dalam ketaatan kepada Allah, lantas kita tenang-tenang saja tinggal menunggu goal terus bertepuk tangan saja sebagai sebuah eufhoria padahal penjegal penjegal goal kemenangan itu sudah berstrategi begitu hebat untuk menghalangi sebuah kemenangan. Musibah penderitaan kaum Muslimin terpapar jelas di bumi Allah ini. Tak cukup kah penderitaan saudara saudara kita di Palestina, Rohingya dll. Masih kah kita akan membiarkan proyek besar Barat menghadang kemenangan Islam dengan lontaran fitnah fitnah buruk terhadap ajaran Islam. Tak inginkankah kita meraih Surga seperti ukasyah dan shahabat lainnya yang selalu berusaha menjadi terdepan utk kejayaan Islam?

Sudah bukan saatnya lagi menimbang nimbang dengan pilihan mau berjuang atau tidak. Janganlah kita hanya jadi penonton dalam menunggu kemenangan yang dijanjikan. Segera lah  membangun sesuatu yang telah lama tertinggal dari karakter manusia pilihan...manusia yang senantiasa fastabiiqul khairaat. Yang Allah akan berikan kemenangan. Perwujudan tegaknya Khilafah Islamiyah yang dijanjikan. Laa haula walaa quwwata illaa billaah...

Wallaahu a’lam bi asshawaab.





No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update