Oleh Pujiati
Aktivis Muslimah
Kita ikut merasakan gembira seperti yang dirasakan
rakyat Palestina ketika mendengar kabar genjatan senjata dan pengakuan
kekalahan pasukan zionis Israel yang disampaikan oleh kementrian pertahanan
keamanan Israel, Ben-Gvir. Namun, seiring pula datang kabar mengejutkan bagi
bangsa Indonesia dengan pesan terselubung melalui media Israel, The Times of
Israel. Negara Indonesia menjadi salah satu negara yang dibidik menjadi tempat
merelokasi sebagian dari 2 juta warga Gaza. Hal ini dilaporkan oleh tim
transisi Trump kepada media Israel tersebut. Sedangkan dari pihak Kementrian Luar Negeri Indonesia tidak pernah
mendengarnya, justru akan menolak perihal tersebut jika terjadi. Bahkan
Presiden Indonesia pun menyatakan bahwa warga Gaza, Palistina punya hak untuk
merdeka di tanahnya sendiri.
Akhibatnya wacana relokasi memunculkan perdebatan
pro-kontra dikalangan kaum muslimin di tanah air. Seperti halnya dukungan dari Ketua
Umum Barisan Kesatria Nusantara melalui salah satu channel youtube, menurutnya ini
peluang untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia negara yang demokratis dan
menjunjung nilai humanisme apalagi sesama saudara muslim. Atas nama perdamaian
ia berharap agar semua pihak baik pemerintah dan kaum muslimin tidak boleh
su’udzon (khusnudzon) dengan wacana alternatif ini dan langkah pelobian kepada PBB segera memberikan sanksi
bagi pihak yang curang pasca gencatan senjata.
Pemikiran pragmatis ini sangat tidak
realistis, jangankan merelokasi 2 juta warga Gaza, Indonesia saja keteteran merelokasi 2021 ribu jemaah haji,
belum lagi program makan bergizi gratis (MBG) terancam terhenti karena minimnya
anggaran, bahkan seandainya pun di tempatkan di IKN jelas itu belum layak untuk
dihuni. Selain mustahil dilakukan yang pasti wacana itu jauh dari akar
permasalahnya.
Seharusnya cara berpikir yang holistic bagi
seorang muslim dalam menghadapi kaum kafir harbi apalagi harus berkhusnudzon. Amerika dan Israel beserta sekutunya tergolong kaum kafir harbi yang
jelas terang-terangan memusuhi dan memerangi kaum muslimin di Palistina. Maka
wajib bagi kita kaum muslimin untuk angkat senjata memerangi mereka.
Namun, dukungan Ketua Umum BKN tersebut
disanggah oleh Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah MUI pusat menyebutkan beberapa
fakta, historis dan data sebagai bukti analisis real tantangan Gaza kedepannya sehingga ini bukan su’udzon belaka. Yakni ada sekitar 3016 pembantaian, 46 ribu lebih
warga Gaza meninggal, 100 ribu korban anak-anak dan perempuan serta banyak lagi
yang terluka. Secara historis sepanjang sejarah banyak catatan pelanggaran
gencatan senjata dilakukan oleh zionis Israel. Ketidak berdayaan peran lembaga internasional
baik PBB dan Makhkamah Internasional terbukti tidak ada penangkapan langsung kepada
Netanyahu meski surat penangkapan sudah dilayangkan.
Kekejaman zionis Israel beserta mandulnya lembaga internasional adalah
bukti tidak adanya solusi yang bisa diharapkan dari seluruh negeri di dunia
ini. Apalagi kepada para pemimpin
negeri-negeri muslim yang terdekat seperti Mesir, Yordania, dan negara arab
lainnya. Bentuk pengkhianatan membiarkan
musuh-musuh Allah memerangi saudara seakidahnya. Demi Triliuan mengalir ke
negeri-negeri meraka tetapi ikatan akidah mereka gadaikan.
Berbeda pada masa Khalifah Umar mengirim pasukan pembebasan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, dilanjutkan Amru bin Ash, dan Abu Ubaidah ra (16-17 H). Dan Sultan Shalahudin Al Ayyubi berhasil merebut kembali Baitulmaqdis dengan mengerahkan pasukannya yang kuat dan menakutkan untuk membebaskan Palistina (583 H).
Sedangkan Pakar Hukum Hubungan
international UI pun menilai wacana relokasi terselubung ini merupakan sarkasme
atau sindiran halus maupun penghinaan ditujukan kepada Indonesia yang selama
ini paling getol membantu Palestina. Dan
tidak dapat dipungkiri lagi merelokasi adalah upaya halus untuk mengusir warga Gaza agar zionis Israel
mudah mencaplok tanah Palestina.
Meskipun gencatan senjata dengan 3 tahapan
memberi ruang bagi warga Gaza Palistina, ini bukan sebuah solusi permanen. Ibarat kembali ke titik 0 artinya warga
Palistina butuh waktu untuk merekontruksi wilayahnya. Meskipun rakyat Gaza mampu membangun kembali
wilayahnya, tapi adakah jaminan selama
proses dan setelah gencatan senjata zionis Israel tidak akan kembali menyerang dan
menghancurkannya. Sejak awal genjatan senjata zionis Israel sudah melakukan
pelanggaran menewaskan 82 jiwa warga
Gaza. Karena zionis Israel tidak akan
berhenti hingga menguasai seluruh tanah Palestina. Perlu kita ingat genjatan
senjata tidak muncul karena belas kasihan, tetapi karena Amerika negara
penyokong dana perang zionis Israel sedang
mengalami kerugian luar biasa pasca kebakaran di LA. Terlepas dari apa sumber
penyebab kebakaran tersebut, tapi semua pasti ada campur tangan Allah SWT.
Jika ada sebagian dari kaum muslimin
berkhusnudzon pada musuh-musuh Allah maka, maka perlu dipertanyakan akidahnya. Seberapa yakin ia pada
berita-berita yang Allah firmankan seperti Q.S Muhammad ayat 7, ”Hai
orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu
dan meneguhkan kedudukanmu”. Dan karakter musuh-musuh Allah tercantum pada Q.S Al Baqarah ayat 100, “Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka
melanggarnya?”.
Demikian pula Rasulullah mengingatkan dalam
sebuah hadis yang intinya tidak akan terjadi kiamat sampai nanti waktu batu
dan pohon berbicara lalu menunjukkan persembunyian yahudi kepada orang-orang muslim kecuali pohon
ghorqod.
Pelajaran yang bisa diambil dari perjuangan
rakyat Palistina bahwa dengan sumber kekuatan akidah Islam atau keimanan kepada
Allah telah mampu melewati segala kesedihan, kehilangan dan kehancuran.
Sekalipun mereka mati tempat kembali terbaik adalah surga. Keberanian menolong
agama Allah telah menguatkan kedudukan dan kehormatan kaum muslimin Palistina
walau seluruh negeri di dunia ini berada
di barisan musuh-musuh Allah. Atas izin Allah genjatan senjata menunjukkan
kemenangan bagi penjuang-pejuang Palistina dan seluruh warga Gaza, Palistina.
Sangat dibutuhkan kesadaran dan kesatuan
kaum muslimin akan pentingnya menguatkan akidahnya agar tak mudah goyah dengan
tawaran-tawaran duniawi yang menggiurkan.
Dengan satunya perasaan, satu
pemikiran dan satu aturan yang sama mampu membangkitkan umat yaitu dengan cara menjadikan
aturan Allah SWT diatas segala-galanya yaitu syariat Islam sebagai hukum negara, inshaAllah kehidupan umat akan terselimuti keberkahan
dan rahmatanlilalamin.
Dan kesempatan bagi pemerintah Indonesia
menjadi pelopor untuk menyeru kepada para penguasa negeri-negeri muslim
bersatu memberikan solusi permanen
kepada rakyat Palistina. Tidak ada cara lain kecuali jihad dan bersatu dalam
sebuah institusi yaitu Daulah khilafah Islamiyah.
Waallahuaalam bissawab.
No comments:
Post a Comment