Oleh Widya Amidyas Senja
Pendidik Generasi
Masalah kesehatan mental tidak
menentukan siapa dirimu. Itu adalah sesuatu yang kamu alami. Kamu berjalan di
hujan dan merasakan hujan, tetapi, yang penting, kamu bukanlah hujan itu
sendiri. — Matt Haig
Kesehatan mental remaja adalah isu yang semakin mendapat perhatian, terutama di era modern yang penuh dengan tekanan sosial, akademik, dan teknologi. Akhir-akhir ini marak terjadi isu remaja yang menderita gangguan kesehatan mental. Hal ini menjadi sorotan publik termasuk pemerintah. Dilansir dalam tempo.co bahwa Remaja yang menderita kesehatan mental mencapai 15,5 juta orang dari total remaja Indonesia. Wamen Kementerian Kependudukan Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka mengatakan generasi muda saat ini memang menghadapi tantangan yang semakin kompleks salah satunya adalah kesehatan mental di kalangan remaja.
“Hal ini tentu saja menjadi keprihatinan kita bersama, mengingat Indonesia adalah negara yang besar dan penduduk merupakan modal dasar dari pembangunan itu sendiri,” kata Isyana dalam acara Konsolidasi Nasional Pemimpin Muda Hindu di Pusat Pendidikan dan Letihan Kementerian Agama, kawasan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten seperti dikutip dari pernyataan resmi kementerian, pada Jumat (14/02/2025).
Penyebab Kesehatan Mental yang Buruk pada remaja
Beberapa
faktor yang menyebabkan gangguan kesehatan mental pada remaja antara lain:
1.
Tekanan Akademik dan Sosial
Remaja sering mengalami tekanan untuk berprestasi di sekolah
dan memenuhi ekspektasi keluarga serta masyarakat. Persaingan yang ketat bisa
menyebabkan stres, kecemasan, bahkan depresi.
2.
Pengaruh Media Sosial
Era digital membuat remaja lebih terpapar pada standar
kecantikan, gaya hidup, dan kesuksesan yang tidak realistis. Hal ini bisa
menyebabkan rendahnya harga diri dan kecemasan sosial.
3.
Kurangnya Dukungan Keluarga
Ketidakharmonisan dalam keluarga, kurangnya komunikasi
antara orang tua dan anak, serta pola asuh yang keras bisa membuat remaja
merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita dan mencari dukungan.
4.
Kurangnya Pemahaman tentang Kesehatan Mental
Banyak stigma dalam masyarakat bahwa gangguan mental adalah
kelemahan iman. Hal ini membuat banyak remaja enggan mencari bantuan dan justru
semakin terpuruk dalam masalah mereka.
5.
Jauh dari Nilai Spiritual dan Agama
Ketika remaja kurang memahami nilai-nilai Islam atau merasa
jauh dari agama, mereka bisa kehilangan arah hidup dan mudah terjebak dalam
kecemasan serta stres.
Islam memiliki prinsip-prinsip yang dapat membantu remaja dalam menjaga kesehatan mental, diantaranya :
1. Meningkatkan Hubungan dengan Allah (Spiritual Healing)
- Shalat, doa, dan dzikir dapat memberikan
ketenangan hati.
- Memahami bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan
dan cara untuk meningkatkan iman.
- QS. Ar-Ra’d: 28: “Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
2. Menanamkan Konsep Tawakal dan Qada’ Qadar
- Memahami bahwa segala sesuatu di dunia
ini adalah ketentuan Allah dan ada hikmah di balik setiap kejadian.
- Mengajarkan remaja untuk berusaha, tetapi
juga menerima hasil dengan lapang dada.
3. Menjalin Hubungan yang Baik dengan Keluarga dan Teman
- Orang tua sebaiknya lebih terbuka dalam
berkomunikasi dengan anak.
- Remaja perlu memilih lingkungan pergaulan
yang baik agar mendapatkan dukungan emosional yang positif.
4. Menjaga Pola Hidup Sehat (Seimbang antara Jasmani dan Rohani)
- Islam mengajarkan untuk menjaga tubuh
sebagai amanah dari Allah, termasuk dengan mengonsumsi makanan halal dan
bergizi serta berolahraga.
- Tidur yang cukup dan menghindari
kebiasaan buruk seperti begadang.
5. Menghindari Media Sosial Berlebihan
- Islam mengajarkan keseimbangan dalam
kehidupan, termasuk dalam penggunaan teknologi.
- Sebaiknya remaja lebih banyak melakukan aktivitas
positif di dunia nyata dibanding menghabiskan waktu di dunia maya.
6. Mencari Ilmu dan Bantuan yang Tepat
- Islam sangat mendorong umatnya untuk
mencari ilmu, termasuk ilmu psikologi dan kesehatan mental.
- Jika mengalami gangguan mental, remaja
harus mencari bantuan dari psikolog atau orang yang lebih berpengalaman,
tanpa takut stigma.
Beberapa solusi di atas hanya dapat dilaksanakan secara
total jika pengaturan sistem dalam negara sesuai dengan landasan Islam yang
bersandar pada hukun-hukum sarak. Bahkan Islam memiliki cara yang efektif dalam
mencegah adanya gangguan kesehatan mental, yakni menerapkan standar kebahagian
hanya pada harapan untuk meraih ridla Allah Swt. Dengan menharap ridla-Nya,
maka segala rahmat akan ia peroleh. Menyakini bahwa apa yang diridlai Allah
Swt., maka akan mendatangkan kebaikan dan rahmat bagi manusia, kehidupan bahkan
alam semesta. Sebaliknya, jika sandarac kebahagian hanya pada materi dan
manfaat saja, maka tunggulah kehancurannya, baik mental maupun aspek
kehidupannya yang lain.
Wallaahu a’lam bissawab

No comments:
Post a Comment