Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

BILA KEMUNKARAN DIBIARKAN

Sunday, February 02, 2025 | Sunday, February 02, 2025 WIB Last Updated 2025-02-02T13:26:31Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

"Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Isroil dengan lisan Daud dan ‘Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu". (QS. Al-Maidah [5]: 78-79).

     Saat membaca kembali ayat Allah ini, terbersit sebuah tanya, sudah tidak lagi kah ayat ini diindahkan? Mengapa? Sebuah pertanyaan yang harus mendapat jawaban tegas, lugas dan jelas.

     Jika kita mau jujur, saat ini pola hidup taqwa, yaitu taat kepada Allah dan tidak maksiat kepada-Nya, yang semestinya menjadi agenda hidup umat Islam supaya Allah Rabbul Alamin berkenan menolong dan memudahkan rezki, serta memberi solusi atas segala problema yang membelenggu hidup, sudah tidak lagi menjadi pola yang dipilih oleh kaum Muslimin. Pola hidup sekuler (memisahkan agama dengan kehidupan) lebih laku untuk dijadikan pakaian hidup dan bergaya dengannya. Pengaruh sekularisasi dan penyesatan politik sudah sedemikian parah mencengkeram umat ini. Sehingga nyaris setiap level masyarakat sudah kehilangan gambaran yang utuh tentang agama Islam. Bahkan tidak jeli lagi dalam menangkap sebuah ideologi sesat yang menyesatkan. Sekulerisasi telah melenggangkan aqidah sesat dengan teori HAM dan Demokrasi. Sampai-sampai kembali bangkit dan hidupnya komunisme di negeri ini pun dibukakan ruang hidupnya dengan berbagai alasan. Kebangkitan kembali ideologi komunis di Indonesia nampaknya memang bukan sekedar isapan jempol. Munculnya simbol-simbol, jargon-jargon, bahkan person dan komunitas-komunitas yang secara atraktif mengidentifikasi dirinya sebagai penganut ideologi ini menunjukkan bahwa komunisme memang sedang merintis jalan untuk kembali. 

     Sungguh miris, di tengah-tengah dielu-elukannya HAM dan Demokrasi betapa sulitnya kita menemukan kejujuran, keadilan, kebenaran, tanggung jawab, sikap tolong menolong serta sifat-sifat terpuji lainnya di masyarakat untuk peduli terhadap adanya bahaya di negeri ini. Bahkan jauh lebih mudah kita menemukan segala kemunkaran tumbuh pesat berpacu dengan kian merosotnya akhlak masyarakat.

     Saat ini, kerusakan yang sangat serius: kemiskinan, dekadensi moral, korupsi, narkoba, grativikasi seks, penipuan, juga penindasan dan kedzaliman, serta tak kalah rusaknya yaitu diterimanya kembali ideologi rusak dan menyesatkan (komunis) dan juga sang pelicin masuknya berbagai kesesatan (baca: sistem kapitalis sekularis) sudah dan masih terus terjadi. Padahal institusi negara dan pemerintah masih ada dan berkuasa, namun belum mampu merubah apalagi memperbaiki nasib rakyat yang terdegradasi dalam keyakinan asasinya dan juga kehidupan asasinya secara signifikan.

     Saat ini, seruan-seruan kebenaran dibungkam paksa, dipersekusi, dihina dengan kekuatan kekuasaan. Perppu dzalim digongkan utk menutup wujud dan perjuangan nahi munkar. Padahal Ad-diin Nashihah, agama itu nasehat, sikap seorang mukmin ketika melihat kemunkaran adalah berusaha semaksimal mungkin menghilangkannya, jika tidak bisa dgn tangan (kekuasaan), dengan lisan jika itupun tidak bisa maka celalah (ingkari) dalam hati-selemah lemahnya Iman-, tidak asyik masyuk duduk bersama, makan minum bersama dan lanjut bermaksiat bersama. Naudzu billaahi min dzaalik.

     Allah Swt dan Rasul-Nya telah menjelaskan dampak dari meninggalkan amar makruf nahi munkar baik dalam al Qur’an maupun As sunnah. Timbulnya kerusakan di muka bumi, turunnya adzab Allah, tidak dikabulkannya do'a, turunnya laknat Allah dan masih banyak lagi didapatkan ketika umat ini tidak mau melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar. Berkali-kali diingatkan dalam kitabNya dan juga hadits Rasulullah SAW. Masihkah kita meragukannya?

Ingatlah sabda Rasulullah SAW:

Demi zat yang jiwaku ditangan-Nya, hendaknya kalian betul-betul melaksanakan amar makruf nahi munkar atau (jika kalian tidak melaksanakan hal itu) maka sungguh Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya, akan tetapi Allah tidak mengabulkan doa kalian.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi. Dihasankan oleh Al Bani dalam shahihul jami’).

     Sudah saatnya kita bertaubat dan kembali kepada sistem Allah yang Kaaffah, sistem Khilafah 'ala minhajin Nubuwwah, sistem yang akan menyelamatkan seluruh manusia (Rahmatan lil 'aalamiin) di belahan dunia mana pun. Menyelematkan penderitaan saudara saudara kita di Palestina, Suriah, Yaman, Sudan, Rohingya dan juga di mana pun akibat lalainya bernahi munkar. Dan juga menyelamatkan dari kebangkitan ideologi sesat dan merusak. Sebagaimana Ibnu Qayyim menukil perkataan Ali bin Abi Thalib:

Tidaklah musibah itu menimpa, kecuali disebabkan dosa, dan musibah tidak akan diangkat kecuali dengan taubat” (Ibnu Qayyim, Al Jawab Al Kafi).

     Marilah kita bertaubat dan merenungkan dengan baik firman Allah SWT berikut ini agar teguh dalam bersikap:

Katakanlah, "Maukah kalian Kami beritahu ihwal orang-orang yang paling merugi karena perbuatannya? Mereka itulah yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat baik.” (QS al-Kahfi [18]:103-104).

Dan perbuatan baik yang merupakan inti ajaran Islam adalah 'amar ma'ruf nahi munkar. Jangan sampai pembiaran kemunkaran menjadi sebuah kebiasaan, dan menyempitkan hidup kita (ingat QS. 20:124).

Wallaahu muwaafiq 'alaa aqwaami fii atthaariq





   

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update