Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rakyat Sering Tertimpa Musibah, Efek dari Lemahnya Mitigasi Bencana

Wednesday, January 15, 2025 | Wednesday, January 15, 2025 WIB Last Updated 2025-01-21T06:31:38Z

 

Oleh : Enung Nurhayati

Banjir yang melanda Desa Ganda-ganda, Kecamatan Petasia di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, terjadi sejak Jumat (3/1) kemarin sekitar pukul 17.45 WITA yang disebabkan hujan intensitas lebat. Dilaporkan satu orang meninggal dunia dan tiga warga mengalami luka-luka.

Memasuki pekan kedua Januari 2025, hujan dengan intensitas ringan hingga tinggi terus mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi cuaca ini menyebabkan berbagai bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir dan tanah longsor. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan bencana hidrometeorologi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di Pulau Sumatera, hujan deras mengakibatkan banjir yang meluas ke berbagai wilayah. Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, menjadi salah satu daerah yang terdampak cukup parah.

Di tempat lain, banjir bandang menerjang Dusun Peh, Desa Gunung Sari, Kecamatan Maesan, Bondowoso pada Kamis (9/1/2025). Kedatangan air bercampur lumpur yang disertai ranting kayu itu meluap hingga ke ruas jalan raya dan sejumlah permukiman warga. Selain itu, tampak juga ternak warga terjebak di tengah derasnya terjangan arus banjir.

Banjir menjadi musibah setiap tahun. Semestinya pemerintah melakukan upaya antisipasi dan mitigasi banjir dengan lebih serius dan sedini mungkin. Kelemahan ini membahayakan nyawa masyarakat. Mitigasi lemah tanda negara tidak menjadi raa’in. Ini keniscayaan dalam sistem kapitalisme sekuler di mana negara hanya regulator dan fasilitator yang melayani kepentingan para pemilik modal, sehingga abai pada rakyatnya.

Bencana ini juga akibat pembangunan ala kapitalisme yang memberi ruang kebebasan bagi oligarki mengubah lahan serapan menjadi lahan bisnis, abai atas keselamatan rakyat dan kerusakan alam, karena hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Pernyataan presiden tentang pembukaan lahan sawit (deforestasi) tidak membahayakan dapat dijadikan sebagai landasan pembukaan lahan, meski para ahli sudah menyatakan deforestasi akan mengakibatkan berbagai masalah termasuk terjadinya bencana. Keleluasaan pemberian ijin dari penguasa pada sistem kapitalisme, menyebabkan oligarki bebas berbuat tanpa memikirkan efek yang akan ditimbulkan dari perbuatan mereka. Dan semua akibat buruknya, dirasakan oleh rakyat. Inilah kedzoliman dari kepemimpinan sekularisme. Kedzoliman dari dampak dijauhkannya agama dari kehidupan.

Dalam Islam, Negara wajib menghindarkan rakyatnya dari kemudaratan, termasuk bencana. Negara akan melakukan perencanaan matang dalam membangun kota/desa dan berorientasi pada kemaslahatan seluruh rakyat. Negara membangun kota berbasis mitigasi bencana. Islam telah mengatur konservasi agar ada larangan berburu binatang dan merusak tanaman demi menjaga ekosistem. Islam juga mengharuskan adanya pemetaan wilayah sesuai potensi bencana berdasarkan letak geografisnya, sehingga akan membangun tata ruang yang berbasis mitigasi bencana, sehingga aman untuk manusia dan alam

Semua dilakukan oleh negara karena Islam menjadikan penguasa sebagai raa’in dan junnah, termasuk dalam menghadapi bencana. Sebagaimana yang Rasululloh Saw sabdakan :

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya :

“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban” (HR Imam Bukhari).

Itulah kepemimpinan Islam, selalu mengaitkan kebijakan dan prilaku dengan dalil syarak. Rasa takut akan penghisaban, menjadikan penguasa dalam daulah Islam akan senantiasa berhati-hati dalam mengemban amanah kekuasaan, dan dalam mengeluarkan kebijakan, sehingga umat tidak merasa terdzolimi dan merasa aman sentosa di bawah naungan kepemimpinan Islam. Wallohualam bishowab.

 

 

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update