Oleh; Khoirunnisa, S.E.I
(Founder RTQ Shift al Kahfi, Klaten)
Penjajahan Zionis di Jalur Gaza telah membawa dampak yang menghancurkan bagi masa depan anak-anak Palestina. Sejak dimulainya serangan militer pada Oktober 2023, lebih dari 17.000 anak Palestina kehilangan nyawa akibat kekerasan yang terus berlanjut. (antaranews). Angka ini mencerminkan betapa rentannya anak-anak dalam konflik bersenjata dan tingginya tingkat korban di kalangan mereka.
Selain korban jiwa, infrastruktur vital seperti rumah sakit dan sekolah mengalami kerusakan parah. Lebih dari 30 rumah sakit hancur, mengakibatkan layanan kesehatan yang sangat terbatas bagi anak-anak dan ibu hamil (cadenaser.com). sedankan fakta lanjutan lagi adalah serangan udara Israel telah menghancurkan ratusan sekolah di Jalur Gaza. Menurut laporan ANTARA News, sebanyak 352 sekolah mengalami kerusakan parah hingga tidak lagi layak digunakan. Hal ini memaksa para guru dan siswa untuk menjalankan kegiatan belajar mengajar di tenda-tenda darurat di tengah situasi konflik yang tidak menentu. Keadaan ini mencerminkan kurangnya perhatian dunia terhadap krisis pendidikan di Gaza.
Di sisi lain, sebagaimana dilaporkan oleh CNN Indonesia dan Detik News, serangan terhadap fasilitas pendidikan tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga menimbulkan korban jiwa. Contohnya, serangan di sebuah sekolah di Jabalia, Gaza, menewaskan 8 orang, termasuk anak-anak. Kekerasan ini memutus kesempatan anak-anak Gaza untuk mendapatkan pendidikan yang layak, yang merupakan modal penting bagi pembangunan peradaban mereka di masa depan.
Kerusakan ini tidak hanya mengancam kesehatan fisik anak-anak, tetapi juga menghambat akses mereka terhadap pendidikan, yang esensial bagi perkembangan dan masa depan mereka. Trauma psikologis menjadi dampak lain yang signifikan. Paparan terus-menerus terhadap kekerasan dan kehilangan orang-orang terdekat menyebabkan gangguan mental serius pada anak-anak Gaza. Banyak dari mereka mengalami stres pascatrauma, kecemasan, dan depresi, yang memerlukan intervensi psikososial mendesak. Tanpa dukungan yang memadai, generasi muda Palestina terancam kehilangan harapan dan potensi untuk membangun masa depan yang lebih baik.
*Dunia yang Abai*
Dunia internasional sering kali menunjukkan sikap yang abai terhadap penderitaan rakyat Gaza, meskipun konflik dan pelanggaran hak asasi manusia di sana terus berlangsung. Banyak negara, terutama yang memiliki pengaruh besar, hanya mengeluarkan kecaman verbal tanpa mengambil langkah konkret untuk menghentikan kekerasan atau memberikan perlindungan nyata kepada warga sipil. Resolusi dan seruan dari lembaga internasional, seperti PBB, sering kali terhambat oleh veto politik dan kepentingan strategis negara-negara besar. Akibatnya, penderitaan rakyat Gaza, termasuk anak-anak, terus berlanjut tanpa ada solusi jangka panjang yang nyata. Sikap ini mencerminkan ketidakadilan global, di mana nyawa manusia sering kali dinilai berdasarkan kepentingan geopolitik.
Sementara itu, organisasi-organisasi kemanusiaan di lapangan berjuang keras untuk memberikan bantuan, meskipun akses mereka sering kali dibatasi oleh blokade dan situasi keamanan. Sayangnya, upaya ini tidak cukup untuk mengatasi skala krisis yang terjadi. Di tengah puing-puing dan kehancuran, rakyat Gaza dibiarkan menghadapi nasib mereka sendiri, sementara komunitas internasional terjebak dalam retorika tanpa tindakan nyata. Jika dunia terus menutup mata dan hanya sekadar mengutuk tanpa langkah nyata, generasi muda Palestina yang kehilangan hak atas pendidikan, kesehatan, dan kehidupan layak akan menjadi saksi hidup atas kegagalan kolektif umat manusia.
*Solusi: Jihad dan Tegaknya Khilafah*
Pembebasan Palestina dari penjajahan Zionis sering dianggap hanya dapat dicapai melalui penerapan jihad fi sabilillah dan penegakan Khilafah Islamiyah. Alasannya karena dengan pendekatan diplomatik dan perundingan politik yang selama ini ditempuh terbukti tidak efektif, bahkan cenderung memperparah kondisi rakyat Palestina. Berbagai perjanjian dan mediasi internasional gagal menghentikan agresi dan ekspansi wilayah oleh Israel. Oleh karena itu, diperlukan kekuatan militer yang bersatu di bawah komando Khilafah untuk melancarkan jihad dalam membebaskan Palestina.
Khilafah akan menyatukan negeri-negeri Muslim, baik wilayah, rakyat, maupun militernya, sehingga mampu mengerahkan pasukan besar untuk menghancurkan entitas Israel hingga ke akarnya. Selain itu, Khilafah akan menolak solusi yang disodorkan lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan negara Barat, yang pada hakikatnya melanggengkan penjajahan terhadap Palestina. Dengan demikian, pembebasan Palestina sangat erat kaitannya dengan tegaknya Khilafah, yang akan menjadi perisai umat dalam menghadapi musuh-musuh Islam. _wallahu'alam bi ash showwab_

No comments:
Post a Comment