Oleh Sri Nurhayati, S.Pd.I
Praktisi Pendidikan
Generasi
muda adalah tonggak kebangkitan suatu negara atau peradaban. Mereka adalah
gambaran bagaimana kondisi suatu negara di masa depan, karena kelak mereka yang
akan mengisi roda kehidupan suatu negara. Oleh karena itu, memastikan kondisi
mereka baik-baik saja sangatlah perlu dan wajib diperhatikan, baik kesehatan
fisik ataupun mental mereka.
Namun,
jika kita lihat kondisi generasi kita saat ini cukup mengejutkan. Pasalnya
baru-baru ini terungkap bahwa generasi Z (Gen Z) sedang menghadapi krisis paruh
baya (midlife crisis) lebih awal dari yang seharunya. (www.okezone.com)
Dalam
sebuah studi yang dilangsir oleh Lifestyle Oke Zone.Com mengungkapkan bahwa
sebanyak 38% dari gen Z ini mengalami krisis paruh baya kaibat adanya tekanan
finansial yang luar biasa. Mereka merasa terjebak dalam kecemasan, kelelahan
dan ketidakpuasan hidup.
Hal
ini termasuk masalah kesehatan holistik yang ada di kalangan pekerja Gen Z.
Berdasarkan hasil survey yang diungkapkan oleh President Metlife, Todd Katz
yang dikutip dari Newyork Post (Sabtu,18/01/2025), bahwa kesehatan holistic mereka
mengalami penurunan yang signifikan sebesar 6% dibandingkan tahun lalu. Bahkan,
angka ini lebih rendah dibandingkan dengan kelompok usia yang sama pada lima
tahun yang lalu. (www.okezone.com)
Fakta ini pun
diperkuat dengan banyak penelitiandan survei yang menunjukkan bahwa Gen Z ini
mengalami stres, kecemasan dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan
generasi sebelumnya. Survei tahun 2022 oleh Harmony Healthcare IT
menunjukkan bahwa 42% dari Gen Z ini telah didiagnosa mengalami masalah
kesehatan mental. (www.mediaindonesia.com)
Amecican
Psychologi Assocition (APA) yang
dikutip dalam artikel Media Indonesia juga memaparkan bahwa hamper 90% dari Gen
Z di Amerika Serikat mengalami satu gejala stres seperti, merasa kewalahan atau
cemas berlebihan.
Di Indonesia
sendiri gangguan kesehatan mental Gen Z meningkat hingga 200%, seperti yang
dilansir dari laman Kemenkes sebanyak 6,1% usia 15 tahun ke atas mengalami
gangguan mental. Dr Lahargo Kembaren, SpKJ mengungkapkanbahwa gangguan mental
yang paling banyak ditemui adalah gangguan kecemasan, depresi dan bunuh diri. (www.detik.com )
Krisis paruh
baya yang tengah melanda Gen Z ini memang suatu hal yang mengejutkan. Pasalnya
krisis paruh baya biasanya kondisi mental yang dialami seseorang saat memasuki
usia paruh baya, yakni usia 40 – 60 tahun. Kondisi yang biasa menyebabkan
perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan seperti emosi, perilaku, tujuan
hidup, kondisi mental dan pandangan hidup. (www.predential.co.id)
Lantas kenapa
krisis paruh baya ini dapat melanda Generasi Z? Dikutip dalam sebuah artikel di
Media Indonesia. Penyebab masalah gangguan jiwa atau mental pada Generasi Z ini
di antaranya:
1.
Teknologi dan
media sosial.
Meskipun teknologi memberikan banyak
manfaat seperti akses informasi dan komunikasi yang mudah, penggunaan yang
berlebihan dapat membawa pada dampak negatif. Termasuk dalam penggunaan media
sosial, Gen Z yang tumbuh di era dimana media sosial menjadi bagian integral
dari kehidupan sehari-hari, sehingga tuntutan untuk terlihat sempurna dan
membandingkan diri dengan orang lain menjadi sangat besar.
2.
Tekanan karir
dan akademis.
Persaingan yang makin ketat,
seringkali menyebabkan stres yang berlebihan dan kecemasan akan masa depan.
3.
Tidak stabilnya
politik dan ekonomi
Generasi Z saat ini tumbuh di
lingkungan yang penuh dengan ketidakpastian politik dan ekonomi menjadi salah
satu yang menyebabkan perasaan cemas dan stress secara terus-menerus.
4.
Perubahan
sosial dan kultural.
Perubahan sosial dan kultural yang
cepat berkontrobusi pada masalah kesehatan mental Gen Z, karena adanya proses
adaptasi yang dapat menyebabkan stres dan kebingungan.
5.
Kurang dukungan
kesehatan mental.
Stigma sosial terkait dengan masalah
kesehatan metal masih ada, serta akses layanan masih terjangkau dan kualitasnya
pun tidak merata. Tentu hal ini dapat memengaruhi aspek kehidupan mereka seperti,
prestasi akademis, produktivitas kerja, hingga hubungan dengan diri sendiri
maupun orang lain.
Terlepas dari
penyebab yang memengaruhi mental Gen Z, seperti
yang dikemukakan di atas, berbagai macam persoalan yang menimpa Gen Z
ini, jika kita amati lebih mendalam senjatinya adalah muncul dari buah busuk
penerapan sistem kapitalis yang rusak dan merusak. Hal ini tercermin dari
sistem ekonomi kapitalistik, sistem politik demokrasi, sistem sosial liberal
dan materialistik, sistem pendidikan yang kapitalistik dan lainnya.
Sistem ekonomi
kapitalistik contohnya, bagaimana saat ini kondisi ekonomi kita makin tercekik
karena naiknya berbagai barang, karena imbas kenaikan pajak barang mewah dan
bbm bersubsidi. Kenaikan harga ini berimbas tidak hanya pada kalangan Gen Z, tetapi
semua kalangan, terutama kalangan kelas menengah ke bawah.
Tak hanya itu,
sistem politik kapitalistik yang hanya berpihak pada mereka para pemilik modal
menjadi hal yang tak terelakkan lagi. Sebagai contoh bagaimana kasus pagar laut
yang sepekan ini ramai dibahas.
Namun, sayang
pemerintah seolah menutup mata akan pelanggaran yang jelas merugikan rakyat
kecil, khususnya para nelayan. Alih-alih memberi sanksi, justru pemerintah tak
bergeming, bahwa dengan mudah akhirnya mencabut pagar itu dengan tenaga aparat
yang digaji pemerintah.
Kondisi tentunya akan menambah permasalahan di
tengah masyarakat. Apalagi di tengah kondisi kehidupan sosial yang dilingkari
dengan sistem liberal dan materialistic seperti saat ini.
Gaya hidup yang
penuh kebebasan dan materialistik makin membius kehidupan Gen Z. saling
menunjukkan eksitensi diri dengan apa yang dilakukan dan pamer barang-barang
yang membuat orang iri. Seperti rumah mewah, mobil, motor, dan barang-barang lainnya
yang menjadi tolak ukur kesuksesan mereka.
Kondisi ini pun
diperparah dengan kondisi pendidikan saat ini yang juga memunculkan berbagai
permasalahan. Sistem pendidikan yang berasas sekulerisme, ibu kandung dari
kapitalis menjadikan pendidikan kita hanya berorentasi pada lahirnya output
yang materialis jauh dari akademis idealis.
Kesuksesan
pendidikan hanya diukur dari pencapaian materi. Misalnya, apabila seseorang setelah
lulus sekolah dapat bekerja di tempat yang terpandang, bukan dilihat dari
bagaimana anak didik itu menjadi pribadi yang memilili budi pekerti yang luhur,
generasi yang memiliki akhlak yang baik.
Permasalahan
yang tak hanya muncul dari satu aspek saja ini, sudah tentu menjadi penyebab
semakin rapuhnya mental generasi kita. Oleh karena itu, akar masalah yang
menjadi biang kerok dari semua permasalah ini harus dihilangkan.
Sudah menjadi
keharusan bagi Gen Z untuk diberikan kesadaran akan realita hari ini, serta
akar permasalahan yang sesungguhnya terletak pada sistem yang diterapkannya
saat ini. Agar mereka memahami seperti apa solusi tuntas permasalahan ini
Selain itu,
mereka pun harus diberikan pemahaman utuh akan realita kehidupan yang tepat dan
potensi yang dimiliki mereka sebagai generasi yang akan membawa pada perubahan
yang lebih baik.
Terlebih lagi mereka
sebagai seorang muslim, harus dibangun dalam diri mereka kesadaran akan
kewajiban untuk menerapkan aturan Sang Pencipta (Islam) secara kaffah atau
menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Serta memahami akan kemuliaan bagi
mereka orang-orang yang berjuang dalam menerapkan kewajiban ini. Sehingga
terdorong untuk menjadi bagian dari barisan perjuang Islam.
Oleh karena
itu, mereka harus senantiasa didorong untuk terus berjuang survive, Tangguh
dalam menghadapi setiap ujian dan siap dalam menghadapi situasi saat ini yang
penuh dengan jebak setan. Senantiasa menguatkan keimanan dan termotivasi untuk
mengambil peran dalam menegakkan aturan Sang Pencipta ini sebagai solusi setiap
permasalahan yang ada.
Sehingga di
sisi pentingnya untuk membangun kesadaran politik pada mereka generasi muda.
Karena, di tangan merekalah tonggak perubahan hakiki terwujud. Salah satu upaya
yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan semuanya, yaitu dengan:
Pertama, mengokohkan akidah dan ketaqwaan Gen Z terhadap Allah SWT serta
senantiasa mengingatkan mereka untuk terikat terhadap syariat-Nya. Selain itu
adanya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam kegiatan dakwah untuk
mengokohkan akidah Gen Z dan seluruh umat dan memberikan pemahaman akan Islam
Kaffah yang mampu menyelesaikan semua permasalahan kehidupan.
Kedua,menggencarkan kembali aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar sesama
anggota masyarakat. Hal ini adalah salah satu pencegah terhadap
perilaku-perilaku yang menyimpang di tengah masyarakat.
Ketiga, menyerukan kepada umat untuk bersama-sama beramar ma’ruf kepada
penguasa. Aktivitas ini haruslah menjadi agenda yang senantiasa dilakukan, agar
aturan yang diterapkan penguasa yang bertugas memelihara dan menjaga umat mampu
mencegah mereka dari kemerosotan.
Ketiga upaya
ini dapat dilakukan ketika semua elemen umat bersinergi dalam mewujudkannya.
Semuanya bersinergi atas dasar ketaatan kepada Allah, menjadikan aturan Islam
sebagai standar kehidupan sehingga mampu menjaga diri dan umat dari perilaku
buruk dan menjauhkan kita dari kemerosotan seperti saat ini.
Wallahualam
bissawwab

No comments:
Post a Comment