Oleh Umi Lia
Member Akademi Menulis Kreatif
Keseluruhan penduduk sipil korban kebiadaban Zionis lebih dari 45.400 orang sejak 7 Oktober 2023 termasuk anak-anak. Korban selamat yang ada di pengungsian bukan berarti aman dari kematian. Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir Al-Barsh menyatakan ada tiga anak meninggal di kamp pengungsian dalam sepekan terakhir, karena kedinginan. Mahkamah pidana internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dan menteri pertahanan, Yoav Gallant dengan tuduhan melakukan kejahatan perang dan kemanusiaan. (Republika.co.id, 28/12/2024)
Sementara itu, kiriman bantuan berupa perlengkapan musim dingin seperti selimut dan kasur tertahan selama berbulan-bulan menunggu persetujuan entitas Zionis Yahudi untuk memasuki Gaza. Mereka tak hentinya menyerang hampir setiap jam sekali. Padahal korban terus berjatuhan dan risiko kematian akibat cuaca dingin sangat besar. UNRWA (United Nations Relief and Works Agency) menyatakan bahwa membunuh anak-anak Palestina tidak bisa dibenarkan. Mereka yang masih hidup pun terluka secara fisik dan psikis. Apalagi setelah Rumah Sakit Kamal Adwan yang merupakan fasilitas kesehatan terakhir yang ada di Jalur Gaza Utara diserang. Dari sini jelaslah bahwa genosida masih terus berlangsung, walaupun mahkamah internasional telah menggugatnya.
Himbauan untuk menyelesaikan masalah konflik di Gaza ini sudah dilakukan berbagai pihak, namun tetap diabaikan oleh entitas Zionis Yahudi. PBB sebagai lembaga dunia dan berbagai organisasi yang bernaung di bawahnya sudah berusaha merilis data dan mengeluarkan pernyataan demi menghentikan kebrutalan bangsa Israel ini. Namun penyelesaian yang ditawarkan adalah solusi dua negara berdampingan. Suatu hal yang mustahil, mengingat dua pihak yang berkonflik justru tidak menghendakinya.
Bagi bangsa Israel, Palestina adalah tanah yang dijanjikan buat mereka. Sehingga terjadi gelombang migrasi warga Yahudi, mereka merebut dan mengusir warga muslim yang sudah berabad-abad tinggal di situ. Konflik terus terjadi dari tahun 1947 sampai sekarang setelah ada peristiwa Badai Al-Aqsa. Pemuka agama dan politikus Yahudi menyerukan pembantaian terhadap penduduk sipil dan menganggapnya bukan manusia.
Sebaliknya bagi warga Gaza, mereka merasa harus mempertahankan haknya. Sejak Khalifah Umar bin Khattab membebaskan Syam, Palestina merupakan tanah Kharajiah yang keamanannya berada di bawah tanggung jawab kaum muslim. Oleh karena itu, solusi atas konflik yang terjadi sekarang adalah merebutnya kembali dari tangan Zionis Yahudi. Bukan solusi dua negara berdampingan. Bagaimana bisa korban kekerasan bisa menerima untuk hidup damai dengan penjajah yang bengis?
Untuk itu dibutuhkan aktivitas jihad. Apa yang dilakukan Hamas memang demikianlah seharusnya. Negara-negara muslim yang terdekat wajib mengirim bantuan militer untuk menolong warga Palestina. Bukannya menormalisasi hubungan dengan entitas Zionis Yahudi. Dari sisi kemanusiaan, orang biasanya menolong korban yang dizalimi bukan berkawan dengan penjajah yang zalim. Padahal Allah Swt. sudah memerintahkan orang yang beriman untuk saling menolong dengan firmanNya dalam QS. al-Anfal ayat 73:
“Orang-orang kafir itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Jika kalian tidak melaksanakan perintah Allah (untuk saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.”
Faktanya, saat ini negara-negara kafir seperti Amerika Serikat, Jerman, Prancis dan Inggris terus-menerus membantu keuangan dan persenjataan pada entitas Zionis Yahudi. Sisi kemanusiaannya telah tumpul meski korban perang begitu mengerikan. Rakyat di negara-negara tersebut menyerukan gencatan senjata, tapi para pemimpinannya bebal demi mempertahankan hegemoninya di kawasan Timur Tengah. Sejatinya apa yang terjadi di Palestina adalah perang ideologi dan akidah antara muslim dan kafir. Bukan konflik sejarah, geografi atau pun rebutan teritorial.
Melalui konflik Palestina, dunia bisa menyaksikan sifat asli para pemimpin muslim yang egois, pengecut dan pengkhianat. Mereka memiliki kekuatan militer tapi tidak digunakan untuk menolong, hanya pura-pura membela dengan menyampaikan kecaman pada entitas Zionis dan menyerukan doa-doa untuk para korban. Lebih parah lagi mereka melarang khutbah, ceramah dan simbol-simbol perlawanan terhadap Israel laknatullah. Padahal muslim Gaza ini saudara seakidah yang wajib mendapat pertolongan.
Dengan melihat fakta yang seperti itu, umat Islam harus memiliki rencana dan target sendiri, tidak mengikuti arahan dan saran negara-negara pengusung kapitalisme. Sudah jelas Allah Swt. memberi petunjuk bahwa orang-orang kafir itu tidak akan pernah rida pada muslim. Agenda yang harus dilakukan yaitu menyatukan pemikiran dan perasaan seluruh kaum muslim di dunia, serta membuat seluruhnya butuh pada penerapan hukum Allah. Dengan begitu Islam dan kaum muslim akan bangkit. Selanjutnya ideologi ini akan menggerakkan umat khususnya di Timur Tengah untuk mempengaruhi penguasanya agar mengirim tentaranya ke Palestina.
Tujuan mulia ini hanya bisa dilakukan oleh partai politik Islam ideologis, yang akan membina dan memahamkan umat tentang hukum-hukum Allah Swt. yang wajib diterapkan. Sehingga akan lahir kader-kader dakwah yang akan menghantarkan umat menuju perubahan hakiki, mengangkat seorang khalifah yang akan memimpin jihad membebaskan Palestina. Itulah solusi yang bisa menyelamatkan anak-anak dari konflik dan penjajahan di mana pun termasuk di Gaza. Mendukung dan menyambut seruan dakwah politis ini adalah bentuk pertolongan umat pada saudara-saudara muslim yang sedang terjajah.
Wallahu a’lam bish shawab.
No comments:
Post a Comment