Oleh: Narita Putri
(Aktivis Muslimah)
Pasar tradisional itu jantung perekonomian rakyat. Namun, saat ini yang terjadi adalah sebaliknya. Suasana aktivitas perdagangan di Pasar Senen, Jakarta mengalami penurunan intensitas pengunjung dan membuat pasar menjadi sepi. Hal ini berpengaruh pada menurunnya omset para pedagang.
Menurut Sekjen Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, Reynaldi Sarijowan penurunan omset pedagang berkaitan dengan deflasi yang terjadi selama 5 bulan berturut-turut. Yang menyebabkan daya beli masyarakat lesu dan berkurangnya penyerapan yang terjadi di pasar.
Berbeda dengan Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyambut dengan senang terkait terjadinya deflasi. Dengan adanya penurunan harga sejumlah komoditas, maka rakyat menengah ke bawah mampu menjangkau bahan makanan lebih murah. Sebab, belanja terbesar dari kelas bawah adalah belanja pangan. Tapi, di lapangan tidaklah begitu adanya. Harga pangan murah, daya beli juga melemah.
Penyebab Daya Beli Menurun
Ketidakpastian ekonomi, e-commerce, pinjaman online (pinjol), pengingkatan pajak hingga judi online (judol) diduga menjadi penyebab kuat daya beli turun. Pinjol dan judol menggerogoti kuat daya beli masyarakat. Tidak hanya terjadi di kelas menengah tetapi juga dari orang kelas atas.
Laju pertumbuhan biaya pendidikan yang tinggi tidak sejalan dengan upah minimum. Kemudian masyarakat menekan alokasi kebutuhan lainnya demi menyekolahkan anak mereka. Gelombang PHK yang semakin membesar yang terjadi kepada sebagaian masyarakat membuat berfikir dua kali untuk berbelanja. Alih-alih, makan diluar rumah lebih baik mengalokasikan dana untuk biaya kenaikan sewa rumah.
Ditambah wacana pemerintah untuk menaikkan pajak di awal tahun 2025 menajdi 12%. Semua itu akan berpengaruh kepada kenaikan tarif transportasi yang ikutan naik. Harga bahan pangan pun akan merangkak mengikuti. Kebijakan politik upah murah di bidang ketenagakerjaan juga menjadi penyebab daya beli kian lesu.
Perlambatan laju ekonomi pun masih akan terjadi hingga akhir tahun 2024. Ekonomi dunia sedang berhadapan dengan resesi AS dan Eropa serta Cina yang ekonominya makin lemas. Hal tersebut menunjukkan bahwa ekonomi liberal yang dibangun oleh sistem kapitalisme sangat rapuh dan tidak kuat dan sering mengalami krisis.
Berbagai langkah pun dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal ini. Pemerintah optimis kebijakan fiskal akan mengarah pada sasaran yang tepat. Salah satu peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yaitu menyalurkan bantuan sosial (bansos) untuk menopang perekonomian masyarakat, baik berupa pemberian beras, telur, daging ayam. Bansos akan disalurkan kepada masyarakat miskin dan rentan. Fungsi dari APBN adalah menstabilkan harga di pasar.
Namun, akankah solusi yang ditawarkan selama ini akan menuntaskan persoalan ekonomi masyarakat?
Sistem Ekonomi Islam Punya Solusi
Telah terbukti selama 13 abad lamanya, politik ekonomi Islam antikrisis, kuat, produktif dan antiresesi. Negara sebagai titik sentral dalam mengurusi urusan umat. Pemerintah akan berupaya membuka lebar lapangan pekerjaan. Tanpa mengandalkan pihak asing/ aseng. Ini karena regulasi kepemilikan umum dalam Islam tidak boleh dikelola oleh asing ataupun swasta. Haram hukumnya.
Sebaliknya, negara akan mandiri mengelola SDA. Kemandirian inilah yang peluang membuka lapangan kerja terutama bagi laki-laki.Sebab, laki-laki adalah pencari nafkah utama.
Penerapan mata uang berbasis emas dan perak akan menjadikan ekonomi stabil dan produktif. Bukan hanya menstabilkan daya beli masyarakat. Pemerintah akan melarang penimbunan harta yang akan menarik perputaran di masyarakat, termasuk menyimpan atau menahan harta dalam berbagai bentuk surat berharga.
Selanjutnya, negara menghentikan transaksi riba yang menjadi jantung perekonomian dalam sistem kapitalisme. Penerapan zakat mal dalam aturan negara akan menjamin kehidupan ekonomi rakyat dan negara sejahtera. Sebab, hanay delapan kelompok yang berhak menerimanya dalam Islam.
Islam juga memiliki mekanisme nonekonomi salah satunya adalah pemberian santunan kepada keluarga miskin yang tidak memiliki kepala rumah tangga yang bekerja atau nominal upahnya tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Santuann tersebut berupa kebutuhan pokok hingga keluarga tersebut mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.
Tak hanya itu, kebutuhan pokok lainnya seperti, kesehatan, pendidikan, dan keamanan akan dijamin seluruhnya oleh negara melalui baitulmal. Maka, hanya dengan penerapan sistem ekonomi Islam krisis ekonomi, deflasi akan teratasi. Wallahu’alam bish shawab.
No comments:
Post a Comment