Oleh: Hasriyana, S.Pd
(Pemerhati Sosial Asal Konawe)
Kaum LGBT kian hari semakin menampakkan keberadaannya. Bahkan mereka tidak hanya menyasar orang dewasa, namun anak-anak pun menjadi target mereka.
Sebagaimana yang dikutip dari Tribunnews, 08-11-2024, seorang oknum guru mengaji di Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) diduga menjadi pelaku pelecehan seksual sesama jenis terhadap anak di bawah umur. Di mana, aksi bejat pelaku (S) pertama kali diketahui usai korban (E), seorang murid yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini, bercerita ke salah satu warga.
Seorang narasumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa awalnya ia mendengar cerita dari anak-anak. Kemudian, ia bertanya kepada satu per satu anak-anak tersebut, akhirnya korban bercerita ke padanya. Korban mengaku telah mendapat pelecehan seksual dari pelaku, yang diketahui sebagai guru mengaji di salah satu masjid di Kabupaten Konawe. Setelah korban mengaku, ia bertemu dengan orang tua korban, dan sama-sama pergi melapor ke Polres Konawe, Senin (4/11/2024).
Sungguh sangat miris, ini jelas menambah beban berat kekhawatiran bagi orang tua terhadap keamanan anak-anak mereka. Apalagi dari fakta di lapangan terkuak bahwa kebanyakan pelaku sodom saat ini begitu banyak jumlahnya, karena mereka dulunya adalah korban. Sehingga dengan banyaknya kasus demikian akan semakin banyak muncul kasus serupa, jika pemerintah tidak mengambil langkah tegas untuk menyelesaikannya.
Di sisi lain, saat ini banyak tontonan yang jauh dari nilai edukasi bahkan merusak yang tak sedikit dijadikan tuntutan oleh generasi muda. Hal ini seperti konteks waria yang tidak jarang menjadi bahan hiburan, karena terlihat lucu padahal sejatinya secara tidak langsung menormalisasi tindakan yang negatif. Belum lagi tayangan film yang menampilkan kaum gemulai hingga berpacaran sesama jenis pun diperlihatkan. Dari itu tidak sedikit memberi contoh untuk dilakukan.
Kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia pun menjadi salah satu asas hukum bagi kaum LGBT, sehingga mereka sampai saat ini masih tetap eksis dan bahkan berkembang biak. Hal ini karena sistem yag ada menjamin kebebasan dan hak asasi manusia bagi setiap individu.
Pun, komunitas LGBT menjadi lahan bisnis bagi para korporasi untuk menghasilkan pundi-pundi cuan yang banyak. Terlebih mereka bukan semata-mata mendukung karena hak asasi bagi kaum LGBT, namun ada motif bisnis yang menggiurkan bagi mereka. Sebagaimana dikutip dari laman Muslimahnews bahwa komunitas LGBT merupakan pasar yang sangat besar. Witeck communication menyebut, pada 2016, kemampuan membeli komunitas LGBT di AS senilai $917 miliar. Sehingga kemampuan membeli mereka akan semakin meningkat ketika jumlah mereka pun semakin banyak.
Hal ini justru berbeda dengan sistem islam, dalam islam perbuatan yang dilakukan oleh komunitas LGBT jelas haram hukumnya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. yang artinya, Allah Swt melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, beliau sampaikan sampai tiga kali. (HR. Ahmad)
Bahkan perbuatan kaum sodom tersebut dikatagorikan sebagai dosa besar sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Araf ayat 80-81 Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini). Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.
Dalam sistem Islam juga setiap pelaku sodom akan dijatuhi hukuman, yaitu dilempar dari atas gedung yang tinggi hingga mati. Sementara pada masa Khalifah Abu Bakar, pelaku sodom tersebut dibakar hidup-hidup.
Sayang kebanyakan pelaku penyimpangan seksual tersebut tidak bisa diharapkan untuk bisa bertobat dan menyudahi segala penyimpangan seksual yang dilakukan, jika sistem yang ada masih menganut sistem liberal.
Oleh karena itu, hal yang sulit meminimalisasi bahkan membabat tuntas para pelaku penyimpangan seksual ini, jika sistem yang ada masih memberi celah. Dari itu, sungguh hanya sistem buatan Penciptalah yang mampu menuntaskan kasus tersebut, karena sungguh Allah yang menciptakan manusia, maka Dia pula yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk hambanya. Wallahu alam.
No comments:
Post a Comment