Oleh: Rini Purnamawati
Sepertinya kita sudah tidak merasa aneh lagi ketika membaca kasus tawuran yang terjadi di daerah tertentu bahkan mungkin sudah cenderung cuek dan menganggap itu hal yang biasa, saking seringnya terjadi dan seakan berlalu begitu saja. Padahal kalau kita baca lebih teliti lagi pihak keamanan sudah berusaha untuk menangani kasus tawuran ini, seperti yang terjadi di Semarang ternyata dari sejak Januari hingga September tahun 2024 ini ada 21 kasus tawuran yang terjadi dan 117 pelaku yang ditangkap. Dan menurut pelaku yang ditangkap bahwa tawuran berawal dari saling tantang di media sosial dalam kondisi terpengaruh alkohol dan tidak ada kegiatan/gabut, maka terjadilah tawuran demi gengsi dan pamor grup masing-masing (Detik Jateng, 20 September 2024).
Selain itu ada juga video yang viral di media sosial dan grup percakapan yang menayangkan dua kelompok yang sedang bertikai dengan membawa senjata tajam, peristiwa ini diduga terjadi di Boyolali. (Metrotv, 20 September 2024). Kasus tawuran masih terus terjadi secara berulang dan mengarah pada kriminalitas yang meresahkan warga masyarakat. Kalau dilihat dari pengakuan pelaku yang melakukan tawuran demi gengsi kelompoknya menunjukan bahwa mereka sedang berusaha untuk mempertahankan eksistensinya walau dengan cara yang salah karena mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mengendalikan nalurinya dengan positif, sehingga mudah terprovokasi dan hilang jati diri. Mereka hanya sekedar mengikuti tren ketimbang mengenal agamanya sendiri sehingga salah dalam penafsiran hakikat kehidupan. Akibatnya mereka hanya berperilaku tanpa tahu makna pertanggungjawaban dari perilakunya tersebut.
Ramainya tawuran ini tidak lepas dari pengaruh lingkungannya yaitu keluarga, teman, media sosial, sekolah, dan masyarakat di sekitar mereka. Kurangnya peranan keluarga yang seharusnya membimbing mereka dan lingkungan yang rusak sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya para remaja saat ini dimana mereka bisa mengakses media yang mempertontonkan kerusakan moral dengan sangat mudah di tengah kosongnya waktu mereka.
Perlu juga diingat bahwa ini semua terjadi akibat dari penerapan sistem sekuler kapitalis yang tidak memanusiakan manusia, merusak pemikiran dan menjauhkan generasi dari agamanya. Alhasil, negara abai terhadap tugas membentuk generasi berperadaban mulia.
Islam memiliki sistem pendidikan yang akan menghasilkan generasi berkepribadian mulia, yang akan mampu mencegahnya menjadi pelaku kriminalitas. Islam juga memberikan lingkungan yang kondusif, baik dalam keluarga, masyarakat maupun kebijakan negara, yang akan menumbuhsuburkan ketakwaan dan mendorong produktivitas pemuda. Islam membangun sistem yang menguatkan fungsi keluarga dengan menerapkan aturan yang menjamin kesejahteraan, menguatkan fungsi kontrol masyarakat, menyiapkan kurikulum Pendidikan dalam keluarga, sehingga terwujud keluarga yang harmonis yang senantiasa memberikan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak yang tumbuh di dalam keluarga dan memberikan pengaruh positif kepada lingkungan sekitar. Dengan diterapkannya islam, akan lahir generasi hebat yang mengarahkan potensinya untuk berkarya dalam kebaikan.
No comments:
Post a Comment