Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 36.000 pondok pesantren, sebuah kekuatan besar penentu masa depan bangsa, penentu lompatan kemajuan bangsa, dan penentu keberhasilan cita-cita bangsa. Semangat para santri dalam berjihad hingga mati syahid untuk memperjuangkan kepentingan bangsa pada masa kemerdekaan harus terus dijaga dalam konteks masa sekarang, di mana bentuk tantangan yang hadir beragam, demikian yang pernah disampaikan oleh Salah seorang Presiden RI beberapa waktu yang lalu.
Demikianlah, setiap 22 Oktober, Indonesia memperingati Hari Santri dengan mengambil momentum lahirnya resolusi jihad yang difatwakan oleh Hadratusysyaikh K.H. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar Nahdlatul Ulama) pada 22 Oktober 1945. Momentum yang terinspirasi spirit pengabdian santri dan kyai untuk negeri ini, lahir batin hingga titik darah penghabisan saat berhadapan dengan penjajahan. Seruan jihad melawan penjajah, menunjukkan santri merupakan garda terdepan dalam perjuangan untuk kebangkitan umat dan peradaban Islam. Jadi, jika saat ini peringatan hari santri hanya sekadar mengenang romantisme sejarah kelahiran Hari Santri, ini justru hanya akan mematikan peran santri.
Fatwa resolusi jihad yang digaungkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 yang mengandung tiga poin, yaitu: (1) Hukum memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan kita sekarang ini adalah fardhu ain (2) Hukum orang yang meninggal dalam peperangan melawan musuh serta komplotan-komplotannya adalah mati syahid; dan (3) hukum orang yang memecah persatuan kita sekarang ini wajib dibunuh; tentunya hal ini memiliki pengaruh besar pada spirit para santri yang berkorelasi pada spirit jihad fi sabiilillaah.
Peran Santri Tak Boleh Mati
Santri berada pada ranah lembaga yang dikader menjadi individu yang menyertai umat agar tafaqquh fiddin dan memotivasi kader ulama menjadi warasat al-anbiya di mana pesantren berperan juga menyebarkan agama Islam dengan dakwah dan jihad.
Catatan sejarah memaparkan berbagai perlawanan ulama dan para santri melawan penjajahan, seperti perlawanan KH Hasyim Asy’ari beserta hizbullahnya, Ki Bagus Rangin dari Majalengka bersama santri Cirebon (1802—1812), perlawanan KH. Zaenal Mustafa beserta santrinya dari Singaparna Tasikmalaya, dan masih banyak para kyai berikut santrinya yang berjihad fi sabiilillaah.
Memang benar, saat ini penjajahan fisik memang tidak terjadi, namun secara ideologi penjajahan masih terus beraksi di negeri ini. Hal ini tampak nyata dalam istem demokrasi kapitalistik dan kebijakan ekonomi neoliberalisme yang dilancarkan penguasa. Penjualan SDA kepada korporasi asing dan swasta terus dilakukan penguasa. Semakin tragis dengan gempuran pemikiran kufur yang terus menyerang kaum muslim. Ide HAM, pluralisme, hedonisme, sinkretisme, dan sekularisme begitu gencar dipasarkan, menjadi ancaman yang sangat nyata.
Mendalami kondisi seperti di atas, tentunya eksistensi pesantren harusnya senantiasa mendapat perhatian serius. Pesantren harus dijaga untuk terus melahirkan kader ulama yang bervisi surga, bermisi penerus aktivitas para nabi, serta membangkitkan umat dan memperjuangkan tegaknya peradaban Islam. Peran strategis santri adalah untuk kebangkitan Islam. Hingga peran ini tidak boleh mati.
Spirit Jihadis Spirit Kebangkitan Islam
Sesungguhnya para santri dan ulama mengetahui bahwa kembalinya peradaban Islam melalui penerapan syariat Islam kafah tidak akan pernah bisa dihilangkan dari benak umat Islam. Kembalinya Khilafah tak mungkin bisa dihapuskan karena hal itu merupakan ajaran Islam dan menjadi bagian dari sejarah dunia. Para ulama telah membahasnya, Dan itu ada dalam kitab-kitab kuning yang diajarkan di pesantren, seperti apa yang disampaikan Imam Mawardi (w 450 H/1058 M) bahwa “Imamah (Khilafah) ditetapkan bagi pengganti kenabian dalam penjagaan agama dan pengaturan urusan dunia” (Al-Mawardi As-Sukthaniyah, hlm. 3).
Namun, di tengah ajaran jihad semakin diperkuat, di saat arahan untuk kembali pada Islam dengan sistemnya semakin bergelora, geliat kebangkitan yang disertai spirit jihad segera dibungksm dengan upaya sistematis oleh musuh-musuh Islam. Mereka tidak mungkin membiarkan para santri dan ulama mengacaukan kekuasaan mereka. Mereka terus menggemparkan narasi perjuangan dengan kata radikal, radikalisme Islam, teroris, fundamentalis, ekstrimis, dan diperkuat dengan ajaran moderasi beragama.. Kalimat “pesantren sarang teroris”. pernah disematkan pada pesantren, para santri dicurigai membawa bom, Dan yang lebih jahat lagi adalah kurikulum pesantren terkait materi jihad dan khilafah berusaha dihapuskan.
Oleh karena itu, agar semua usaha musuh- musuh- Islam terkalahkan, spirit santri harus selalu disertai spirit jihad dalam memahami perjuangan tegaknya Islam, agar spirit kebangkitan Islam yang muncul dari calon ulama pewaris nabi garda terdepan perjuangan Islam, berpengaruh kuat untuk menyadarkan umat agar kembali pada sistem Islam, meninggalkan sistem kapitalis yang rusak dan merusak.
Wallaahu a’laam bisshawaab.
No comments:
Post a Comment