Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Budaya Tawuran, Cerminan Krisis Pribadi Pemuda

Thursday, October 03, 2024 | Thursday, October 03, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:37:15Z

Nur Inayah

Miris dan memprihatinkan, aksi tawuran masih sering terjadi. Kali ini, Polsek Cidaun Cianjur, berhasil melakukan tindakan tegas dalam menindaklanjuti laporan masyarakat terkait adanya kelompok geng motor yang diduga hendak melakukan tawuran, hingga membuat resah warga setempat.

Peristiwa tersebut terjadi pada hari Minggu (22/9/2024) sekitar pukul 00.15 WIB, di Jalan Raya Cibuntu Desa Cisalak Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur.

Lima belas orang yang diduga akan terlibat tawuran tersebut berhasil diamankan.
Dari tangan para pelaku, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya, satu bilah pisau dan satu bilah golok serta kendaraan roda dua.

Kasubsi PIDM Sihumas Polres Cianjur IPDA Muslikan, menyampaikan bahwa tindakan tegas ini dilakukan demi menciptakan situasi aman dan kondusif di wilayah hukum Polres Cianjur.

“Para pelaku telah dibawa ke Puskesmas DTP Cidaun untuk pemeriksaan luar, “kata Muslikan.

Kapolres Cianjur juga menegaskan, bahwa tidak ada ruang bagi kejahatan, miras, narkoba, geng motor, dan knalpot brong di wilayah hukum Polres Cianjur.

Aksi tawuran yang sudah sangat meresahkan dan berbagai kriminalitas lainnya yang semakin menjadi-jadi di tengah- tengah masyarakat, tentu tidak dapat dibiarkan terus terjadi. Upaya dari pihak keamanan untuk mencegah terjadinya tawuran, tentu patut diapresiasi. Namun, penting juga bagi kita mengetahui apa yang melatarbelakangi tawuran tersebut.

Beberapa faktor penyebab munculnya tawuran, di antaranya mulai dari lemahnya kontrol diri, krisis identitas pemuda, disfungsi keluarga, tekanan ekonomi, lingkungan yang rusak, pengaruh buruk dari media, kegagalan pendidikan , hingga lemahnya sanski hukum yang berlaku di negeri ini.

Namun, di antara faktor- faktor tersebut, faktor paling menonjol adalah lemahnya kontrol diri dan krisis identitas pemuda saat ini, yang diakibatkan oleh tata peraturan kehidupan yang menerapkan sistem hidup sekular- kapitalisme. Sebuah sistem hidup yang menetapkan bahwa agama tidak dipakai untuk mengatur kehidupan. Sekularisme ini tampak kental di dalam kehidupan masyarakat, mulai dari keluarga hingga masyarakat. Sehingga nilai- nilai agama pun tidak tampak dalam kehidupan masyarakat, baik secara individu maupun secara komunitas.

Dari masyarakat seperti inilah lahir individu – individu manusia, termasuk pemuda yang bingung dengan orientasi (tujuan) hidupnya. Dia hidup mengalir bagaikan air. Sehingga ketika tawuran sudah seperti menjadi tradisi, para pemuda dan pelajar pun terbawa arus tawuran, ketika semata- mata ingin mengeksiskan dirinya atau kelompoknya.

Pemuda dan pelajar saat ini tidak memiliki standar yang benar dalam menilai perbuatan baik dan buruk. Mereka hanya mengikuti hawa nafsunya, sehingga tidak memiliki kontrol diri yang baik, dan cenderung lemah. Padahal akibat dari tawuran ini dapat berakhir fatal, karena dapat menjerumuskan diri dalam tindakan kriminal.

Terbentuknya sosok pemuda seperti itu, menunjukkan gagalnya sistem hidup sekulariame dalam bidang pendidikan karena tidak mampu melahirkan output yang berkepribadian baik, bahkan mengalami krisis kepribadian. Banyak dari para pemuda saat ini yang tidak tau tujuan hidup mereka, mereka terjebak dengan kehidupan yang sekuler materialistis, yang menjadikan standar kebahagiaan hanya seputar mendapatkan materi sebanyak- banyaknya, mulai dari banyaknya harta, kesuksesan, kesenangan dunia, dan disibukkan dengan hal-hal yang bersifat untuk mendapatkan kesenangan jasadiah (jasmaniyah) yang telah mendorong mereka terjerat dengan narkoba, pergaulan bebas, mabuk-mabukan, bahkan tawuran yang dilakukan hanya karna gengsi antar kelompok dan ingin membuktikan eksistensi kelompoknya.

Aksi tawuran tersebut selain menimbulkan keresahan masyarakat, juga sangat berbahaya bagi mereka sendiri, karena seperti yang kita ketahui, tawuran sering mengakibatkan korban luka- luka bahkan hingga kehilangan nyawa. Begitulah sistem sekular-kapitalis, melahirkan generasi yang tidak tau arah tujuan hidupnya, krisis identintas hingga lemahnya kontrol diri.

Berbeda halnya dengan Islam yang mermiliki aturan yang paripurna dari Sang Khalik, memiliki seperangkat peraturan yang di dalamnya mampu mengatasi berbagai masalah kehidupan manusia, termasuk permasalahan yang menjerat para pemuda saat ini.

Di dalam Islam, pendidikan generasi dimulai dari rumah (keluarga). Melalui pendidikan orang tuanya, Islam menempatkan ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak, dan bapak sebagai pemimpin keluarga, dengan tujuan yang sama yaitu ingin membentuk anak sebagai generasi shalih- shalihah, kedua orang tuanya terlebih dulu berbekal ketakwaan dalam dirinya.

Ketakwaan dalam keluarga saja tentu tidak cukup. Dibutuhkan lingkungan masyarakat yang kondusif yang sinergis dengan keluarga dalam membentuk generasi shalih-shalihah. Maka Islam sebagai sebuah sistem hidup yang diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, melalui mekanisme sistem pendidikannya akan mampu melahirkan para generasi muda unggul, bukan hanya dalam keilmuan Islam menjadi sosok shalih-shalihah yang mampu membawa pada peradaban yang gemilang.

Sejarah kaum muslimin telah mencatat, bagimana lahirnya para pemuda yang hebat ketika Islam diterapkan sebagai sistem hidup. Misalnya saja Muhammad Al Fatih yang ketika berusia 25 tahun sudah mampu menaklukkan Konstantinopel di Romawi Timur. Dan tentunya masih banyak lagi pemuda-pemuda yang hebat yang lahir dari sistem pendidikan Islam.

Maka dapat dipastikan bahwa di dalam Islam melalui mekanisme pendidikan Islamnya akan mampu mencetak individu-individu yang nantinya dibentuk menjadi individu yang memiliki kepribadian Islam, yakni pola pikir dan pola sikapnya Islam, dan akan mampu mengetahui tujuan hidup yang sesungguhnya dan tentunya akan mampu melahirkan para pemuda yang menjadi peradaban Islam yang gemilang. Dan semua itu tentunya diperlukan peran negara dalam meriayah rakyatnya dalam segala aspek kehidupan, mulai dari bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

Nantinya negara pun akan mengarahkan berbagai potensi yang dimiliki oleh setiap individu terutama para pelajar dan pemuda, agar potensi yang dimiliki itu bisa terasah dan terarah dalam kehidupannya. Selama hal itu membawa kebaikan untuk agama dan dirinya, dan tentunya mendatangkan ridho Allah SWT.

WaLahua’lam bish shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update