Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sulit Dapat Kerja di Negeri Yang Kaya SDA

Sunday, September 15, 2024 | Sunday, September 15, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:38:17Z

Oom Rohmawati
Member AMK

Mau makan, tidur, sekolah, sakit semua pakai duit. Bahkan mati pun pakai duit, sementara pekerjaan sulit, baik mereka yang berijazah S1, S2, S3 dan seterusnya. Apalagi yang lulusan setingkat SMA dan lainnya tidak jauh berbeda.

Di Kabupaten Bandung angka pengangguran mencapai 6,52 persen. Di antara penyumbang terbesar adalah kalangan remaja yang baru lulus SMK atau yang sederajat.

Dalam rangka menekan jumlah pengangguran tersebut, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bandung, Rukmana mengungkapkan telah dibuka Job Fair, bahkan pihaknya sudah melakukan 10 kali selama 2024. Kali ini, Job Fair digelar di Thee Matic Mall Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Bentuk tindak lanjutnya, Rukmana membangun kerjasama antar sekolah dan perusahaan, salah satunya SMK Negeri 1 Majalaya, dan 10 perusahaan besar yang nantinya bisa buat siswa yang lulus sekolah dan minat melamar disediakan 350 lowongan pekerjaan di perusahaan tersebut. Sehingga 6,52% pengangguran dari kalangan remaja berkurang. (TribunJabar.id, 27/8/2024)

Menurut laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran mencapai 9,9 juta. Dan sebagian besarnya dari Gen Z. Mereka adalah generasi not in employment, education and training/NEET. Artinya generasi yang saat ini tidak memiliki pekerjaan, pendidikan dan pelatihan baik di daerah perkotaan atau pedesaan. Fenomena maraknya pengangguran di kalangan Gen Z ini, tentu merupakan ancaman serius bagi bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045 mendatang.

Gen Z adalah masyarakat usia muda dengan kisaran usia 15-24 tahun, yakni mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. BPS menggolongkan Gen Z yang menganggur ini pada kelompok hopeless of job, yaitu merasa putus asa untuk mendapatkan pekerjaan. Sehingga tak heran mereka hidup dengan ketakutan akan masa depannya sendiri dan pesimis untuk meraih kesuksesan.

Lalu apa yang menyebabkan sulitnya golongan Gen Z mendapatkan pekerjaan?

Jika dianalisis lebih dalam, ada dua faktor yang menyebabkan Gen Z sulit mendapatkan pekerjaan. Di antaranya, dari internalnya karena tidak punya skill atau keahlian yang sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan. Karena menurut survey inteljen [dot.]com, dari 800 pengusaha 60% mereka setuju kalo lulusan perguruan tinggi dari kalangan Gen Z tidak siap untuk bekerja, sehingga mereka lebih memilih yang usianya 27 tahun ke atas yang berpengalaman.

Sedangkan faktor eksternal, adanya ketidakseimbangan jumlah lapangan pekerjaan dengan jumlah tenaga siap kerja disetiap tahunnya yang terus bertambah, sementara lowongan yang tersedia sedikit. Belum lagi persaingan yang ketat dan banyaknya TKA menjadi salah satu pemicu berkurangnya kesempatan bagi Gen Z.
Selain itu️karena tata kelola ekonomi yang diterapkan bercorak kapitalistik. Sistem ini menilai bahwa pertumbuhan ekonomi menjadi pokok utama dalam mengatasi pengangguran, sehingga solusinya terus dinisbatkan pada investasi.

Jika memang negara punya visi ke depan, mestinya sudah memetakan beberapa tenaga yang urgen dibutuhan semisal guru, dokter, tentara, mekanik, dan sebagainya, lalu bekerjasama dengan dunia pendidikan untuk mewujudkannya. Maka sinkron antara pendidikan dan dunia kerja.

Apalagi dengan adanya Sumber Daya Alam dan Energi (SDAE) yang melimpah, negara akan mampu menyediakan atau membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya, sebab SDAE membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk itu yang seharusnya diupayakan oleh penguasa bagaimana caranya supaya kekayaan alam bisa lepas dari tangan-tangan korporat dan kembali dikelola oleh pemerintah. Jika masih dikuasai oleh mereka tentu berakibat pada distribusi yang tidak merata, bahkan negeri ini kehilangan potensi akan terbukanya lapangan kerja bagi rakyat. Belum lagi gelombang masuknya TKA (Tenaga Kerja Asing) yang datang ke negeri ini semakin mempersempit peluang kerja bagi penduduk lokal.

Kelangkaan lapangan kerja semakin membuktikan kegagalan negara dalam menjamin kesempatan bekerja bagi warganya. Padahal jelas terciptanya lapangan pekerjaan adalah salah satu mekanisme dalam terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Inilah bukti buruknya sistem kapitalisme.

Lain halnya dengan Islam yang telah memiliki mekanisme baku dalam menyelesaikan persoalan pengangguran. Islam menjadikan negara sebagai pihak sentral dalam menyelesaikan seluruh persoalan rakyat, termasuk persoalan pengangguran. Negara menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya.
Salah satunya adalah apa yang telah dicontohkan Rasulullah sebagai kepala negara dalam memberi arahan dan alat untuk bekerja.
Dikisahkan pada saat itu Rasulullah saw. pernah memberi dua dirham kepada seorang Anshar. Lalu menyuruh membeli makanan untuk keluarganya dan sisanya untuk membeli kapak untuk mencari kayu bakar dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara menjualnya. Rasulullah pun menyuruhnya kembali lagi setelah 15 hari dengan membawa hasilnya. Orang Anshar tersebut menemui Rasulullah saw kembali dengan membawa 10 dirham yang dibelikan baju dan makanan. (HR Imam Ahmad dan Tirmidzi)

Jika dikaitkan kondisi hari ini tentu peluang usaha bagi masyarakat sangat besar. Bukan hanya hutan, kebun, sektor pertanian dan pertambangan bisa menjadi alternatif para pelamar kerja berdasar minat dan keahlian, di samping sektor lainnya semisal lembaga administrasi atau departemen-departemen yang didirikan negara.
Terbukanya peluang bekerja yang cukup besar, karena penguasa Islam memiliki regulasi kepemilikan yang khas. Yaitu menjadikan kepemilikan umum semisal SDAE dikelola negara secara mandiri. Sebab Islam mengharamkan pengelolaannya diserahkan kepada swasta apalagi asing. Regulasi ini menjadikan sumber pendapatan negara melimpah.
Selain itu, fasilitas pendidikan yang berkualitas dan merata sebagai sarana untuk mencari pekerjaan dapat dioptimalkan. Sehingga persoalan kurangnya skill atau ijazah mudah diatasi. Pembangunan sekolah yang berkualitas dan menjangkau semua kalangan baik yang kaya ataupun miskin, yang di desa, di kota, sangat niscaya terwujud dengan pembiayaan berbasis baitulmal.
Pendidikan dalam Islam mengarah pada dua kualifikasi penting, yaitu terbentuknya kepribadian Islam, sekaligus memiliki keterampilan untuk berkarya. Juga tidak menjadikan materi sebagai tujuan, melainkan target capaian kontribusinya bagi majunya peradaban. Hal ini akan melahirkan generasi tangguh secara mental maupun fisik bagi setiap generasi termasuk Gen Z.

Oleh karena itu, hanya pemerintahan Islamlah yang mampu menjamin kesejahteraan masyarakat terutama para pejuang nafkah dan generasi muda yang memiliki potensi mewujudkan peradaban gemilang.

Wallahu ‘alam bish-shawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update