Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Daycare Not Care, Jangan Ya Buk Ya!

Sunday, August 18, 2024 | Sunday, August 18, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:39:36Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Belakangan ini viral berita tentang pemilik daycare yang juga influencer parenting, MI, menganiaya anak asuhnya, MK, yang baru berusia dua tahun sampai terjatuh (Kompas, 31-07-2024). Tidak lama, CNN Indonesia memberitakan, di salah satu daycare Pekanbaru, seorang anak kakinya dilakban di kursi dan diperlakukan kasar oleh pengasuhnya (CNN Indonesia, 08-08-2024).

Kasus seperti ini sebetulnya bukan terjadi hanya sekarang ini. Beberapa tahun yang lalu pun kasus ini pernah terjadi. Pada tahun 2014, bayi yang baru berusia 14 bulan mengalami siksaan bertubi-tubi saat dititipkan di tempat penitipan anak bernama Highreach. Anak tersebut disiksa dengan ditimpa kasur busa, seluruh tubuhnya ditutup selimut, dan digendong sambil dipontang-panting (Tempo.co, 04-09-2024). Itu kasus yang terungkap. Mungkin saja masih banyak yang tidak terungkap.

Kondisi ini seharusnya perlu dievaluasi, ada proses muhasabah bagi para ibu yang menitipkan anak di daycare terkait peran keibuannya, yang juga terkait program pemberdayaan perempuan yang dicanangkan negara, khususnya terkait pemberdayaan ekonomi.

Daycare dalam Asuhan Kapitalisme

Di era kapitalis, apa pun itu senantiasa laksana hitung dagang. Semua dinilai dari profit yang akan dihasilkan.
Dalam asuhan kapitalisme manusia adalah aset ekonomi, dan perempuan dianggap memiliki nilai strategis bagi para kapitalis hingga pemberdayaan  mereka sangat diperhitungkan. Sebagai pekerja, perempuan dipandang lebih rajin, penurut, dan tidak banyak menuntut. Jadilah atas nama pemberdayaan, perempuan siapa pun dia, lajang atau pun sudah menjadi istri dan ibu, diiming-imingi untuk bekerja dan berkarier di luar rumah.

Di sinilah mulai muncul kendala. Pengasuhan anak menjadi permasalahan yang cukup pelik. Saat para ibu harus bekerja, mencari pengasuh sulit, jika ada pun mahal. Saat pemerintah menjadikan daycare sebagai solusi pengasuhan anak selama jam kerja, ini menjadi alternatif solusi bagi para ibu pekerja. Just info, memang pemerintah telah membuat program daycare ramah anak sejak 2021, dan telah diinisiasi oleh Kemen PPPA dalam standardisasi dan sertifikasi lembaga layanannya (Kemen PPPA, 15-2-2024).

Berdasar perhitungan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) 2021, anggaran pemerintah Indonesia untuk pengasuhan dan pengembangan anak usia dini baru hanya sekitar 0,04% dari produk domestik bruto (PDB). Jika anggaran dinaikkan hingga 0,1% dari PDB untuk layanan daycare, partisipasi pekerja perempuan akan meningkat dan menumbuhkan PDB hingga 0,4% pada 2030. Sedangkan jika anggaran naik menjadi 0,5%, pertumbuhan PDB bisa mencapai 0,69%. OECD sendiri merekomendasikan anggaran sebesar 1% dari PDB.

Sayangnya di bawah asuhan kapitalisme daycare tetap menjadikan laba sebagai tujuan utama. Tidak ada daycare yang tujuannya mengasuh anak sebaik-baiknya agar peran ibu bisa tergantikan. Besarnya kebutuhan akan daycare, dalam asuhan kapitalisme, menjadikan daycare salah satu lahan bisnis yang menjanjikan.

Saat ini daycare tidak sekadar menjadi tempat menitipkan anak. Berbagai keunggulan ditawarkan. Dari mengajarkan bahasa internasional, membentuk jiwa wirausaha pada anak, sampai memadukannya dengan pendidikan formal seperti TK dan SD.

Pasar disasar. Daycare ditempatkandi pusat-pusat perkantoran, perumahan keluarga muda, atau tempat bekerja kaum ibu lainnya. Namun, sehebat apapun daycare, stimulasi optimal bagi anak sangatlah sulit direalisasi. Banyaknya anak yang harus ditangani meminimkan pemenuhan kebutuhan per individu anak. Bagaimana pun juga kasih sayang pada anak adalah salah satu makanan otak yang membuat otak berkembang optimal selain gizi dan stimulasi. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus sangat dibutuhkan anak dalam perkembangan kecerdasan emosionalnya. Ketika anak merasa disayang, ia belajar untuk menghargai dirinya, menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan untuk berempati dan berbagi kasih sayang kepada orang lain. Peristiwa yang terjadi di daycare baru-baru ini sungguh ‘not care’.

Risiko yang akan kita terima dari anak yang kekurangan kasih sayang adalah mereka cenderung mengembangkan perasaan negatif, merasa tidak diterima sehingga penghargaan terhadap dirinya sendiri rendah. Anak seperti ini akan cenderung menjadi anak tertutup, rendah diri dan menyimpan potensi gagal dalam kehidupannya. Jangan ya Buk jangan sampai anak-anak kita bernasib seperti itu.

Kasih sayang yang tulus dan berlimpah tentulah datang dari seorang ibu. Sesayang-sayangnya pengasuh daycare pada anak, tidak akan mampu untuk mengalahkan tulusnya kasih sayang ibu. Hal ini adalah fitrah yang melekat pada diri ibu. Apalagi saat anak masih kecil, sebentar-sebentar menangis, rewel, atau mulai muncul kenakalannya. Orang yang paling sabar menghadapi hal ini adalah ibu, bukan pengasuh di daycare.

Faktanya sudah nampak dari kejadian saat ini yang menimpa anak-anak yang dititip di day care. Walaupun memang mungkin tidak semua daycare not care, jangan ya Buk ya, jangan biarkan anak-anak ibu bernasib seperti anak-anak yang mendapat penyiksaan di daycare.

Paradigma Islam Tentang Anak

Paradigma Islam tentang anak begitu indah seindah Allah Ta’ala menciptakan dengan sebaik-baik penciptaan. Anak adalah amanah Allah yang akan dimintakan pertanggungjawaban terkait mereka kelak di hari penghisaban. Anak adalah ladang amal. Dengan paradigma yang benar, orang tua akan senantiasa berupaya mendidik anak dengan sebaik-baik pendidikan.

Dengan paradigma Islam yang mengiringi pengasuhannya, orang tua selalu cermat terhadap apapun yang bisa mengantarkan diri dan anaknya agar mendapat rida Allah Ta’ala. Orang tua akan terus berusaha membahagiakan anak dunia dan akhirat. Sukses mulia dunia yang mengamntarkan kelayakan mendapat surga.

Paradigma Islam tentang anak, akan menjadikan seorang ibu selalu berupaya untuk menjadikan dirinya sebagai pendidik yang paling layak bagi anak-anaknya. Ilmu yang diperlukan untuk pengasuhan dan pendidikan anak dicari karena menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya itu butuh ilmu.

Seorang ibu, saat anak sudah mulai tamyiz, sudah mulai bisa berinteraksi dengan dunia luarnya -baik di sekolah maupun luar sekolah-, tidak akan membiarkan pemikiran-pemikiran merusak yang didapat anak dari luar rumah mewarnai. Dia akan terus membasuh kotoran-kotoran yang merasuk dalam diri anaknya. Mencucinya. Membersihkannya.

Seorang ibu akan terus berupaya menjadikan anak-anaknya menjadi generasi terbaik. Bukan sebagai aset tempat ia bergantung suatu saat di masa tua, sehingga anak dididik dalam rangka untuk kebutuhan orang tuanya. Anak diarahkan untuk bisa berprestasi membawa harum nama orang tua. Anak dituntut juga harus bisa bekerja, mencari uang untuk menghidupi orang tua kelak. Konsekuensinya, anak harus mendapat pendidikan dari kecil untuk menghadapi persaingan pasar tenaga kerja yang kian sulit. Makin kecil anak masuk daycare, ia dipandang bisa mendapat pendidikan lebih baik. Selanjutnya, anak harus masuk full day school pada usia SD dan masuk boarding school saat SMP atau SMA-nya. Dan untuk membayar sekolah-sekolah itu, orang tua harus merogoh kocek yang lebih dalam. Tak cukup Ayah yang bekerja, dengan alasan tak cukup ibu pun akhirnya bekerja.

Dengan ritme seperti itu, ibu-ibu merasa tidak bersalah. Mereka beranggapan mereka bekerja untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak. Mereka merasa tidak sanggup menjadi pendidik yang lebih baik bagi anak. Padahal, Ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi para buah hatinya. Ibu adalah peletak dasar jiwa kepemimpinan pada anak dan mempersiapkannya menjadi generasi pejuang. Ketika ibu memeluk dan menyusui, ia mengajarkan rasa aman. Ketika ibu mendekap putranya dan menidurkannya dalam buaiannya, ia mengajarkan kasih sayang. Saat ibu melatih anaknya berjalan, ia mengajarkan semangat untuk berjuang. Ibu mengajarkan arti keadilan ketika melerai dan menengahi perselisihan anak. Ibu juga mengajarkan kejujuran, keterbukaan, empati, dan tanggung jawab.

Ibulah yang pertama kali mengajarkan anak tentang Tuhannya, pada siapa ia harus takut, tunduk, dan patuh. Inilah yang paling utama. Dengan ajaran seperti ini, lahirlah pemimpin-pemimpin masa depan yang memberikan rasa aman, memiliki empati dan peduli terhadap rakyatnya, kasih sayang, dan memberikan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Pemimpin yang takut kepada Allah Swt. hingga ketika memimpin ia akan benar-benar taat pada-Nya, menjalankan seluruh aturan-Nya, mengurus rakyat hanya dengan syariat Allah Taala. Ia tidak akan tergoda materi, bersikap jujur, tegas, dan senantiasa berjuang untuk bisa menyejahterakan rakyatnya.

Oleh karena itu, sungguh tidak bisa tempat ibu digantikan dengan daycare . Pengasuhan terbaik dari seorang ibu, tak bisa digantikan agar mampu membentuk karakter generasi mulia pembangun peradaban. Jadi, jangan ya Buk ya, jangan serahkan sepenuhnya anak-anak dalam asuhan daycare. Semakin ibu tidak care, sulit berharap daycare pun akan benar-benar care.

Islam Menjamin Peran Ibu

Dalam sistem kapitalisme sekuler saat ini peran keibuan banyak diabaikan. Para ibu menyandang beban ganda dengan peran tambahan sebagai pencari nafkah.
Namun, sayangnya tidak semua perempuan menyadari hal ini. Mereka beranggapan bahwa sudah semestinya mereka ikut bekerja karena biaya hidup yang makin tinggi, biaya pendidikan dan kesehatan yang mahal, atau iming-iming hidup mewah dan terhormat, menjadi motivasi perempuan untuk terjun dalam dunia kerja. Mereka menjadi korban dari penerapan sistem kapitalisme di dunia, sistem yang mengingkari tabiat asli dan kodrat perempuan.

Untuk menyempurnakan fungsi keibuan ini, Islam telah menetapkan aturan-aturan yang terkait, seperti hukum seputar kehamilan, penyusuan, pengasuhan, dan perwalian. Sementara itu, ayah diperintahkan untuk mencukupi nafkah.

Islam juga menjadikan pengasuhan anak merupakan hak sekaligus kewajiban ibu sampai anak menginjak usia tamyiz (sekitar 7—10 tahun). Ini memastikan anak mendapatkan kasih sayang dan pendidikan dari ibu yang menjaminnya untuk berkembang secara sempurna.

Islam menetapkan mekanisme yang menjamin seorang perempuan, dalam kondisi apa pun, mendapatkan nafkah. Bagi seorang istri, nafkahnya ditanggung oleh suami sebagaimana perintah Allah berikut,
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf.” (QS Al Baqarah: 233).

Jika suami menceraikannya dan ia masih menyusui anaknya, ia berhak mendapat upah menyusui dari mantan suaminya. Apabila sudah tidak menyusui, nafkahnya kembali menjadi kewajiban atas walinya, yaitu ayah, saudara laki-laki, anak laki-laki dari saudara laki-laki, paman dari pihak ayah atau anak laki-laki dari paman dari pihak ayah, dan seterusnya dari kalangan kerabat. Sedangkan anaknya, nafkahnya adalah tanggung jawab ayah anak tersebut, baik anak ikut ayah maupun ikut ibunya. Jika suami meninggal, perempuan ditanggung nafkahnya oleh para wali. Sedangkan bagi anak, nafkahnya ditanggung oleh wali dari anak tersebut, yaitu kakek dari pihak ayah, paman dari pihak ayah, atau anak laki-laki dari paman tersebut. Apabila semua wali ini tidak ada atau tidak mampu, kewajiban nafkah perempuan ditanggung oleh negara. Jika negara tidak memiliki dana, negara berhak untuk menarik pungutan dari rakyat yang kaya untuk memenuhi kewajibannya sebagai wali dari perempuan dan anak-anak yang tidak memiliki wali.

Dengan jaminan terhadap kehidupannya, perempuan bisa berkonsentrasi penuh pada kesempurnaan fungsi dan perannya sebagai ibu. Jika perempuan dituntut juga untuk memikul beban nafkah, konsentrasinya akan terpecah. Ketika kelelahan karena bekerja, ia hanya akan memberikan waktu sisa untuk anak-anak dan suaminya.

Saat ini muhasabah diri dan menjadikan kewajibannya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak sebagai prioritas hidup seorang ibu, sangatlah penting. Karena bukan daycare yang akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah terkait pengasuhan anak. Tetapi orang tuanya. Dan tentunya semua bisa berjalan jika didukung dengan sistem yang paripurna dan sempurna yang akan menjamin anak-anak kita mendapatkan haknya menjadi generasi terbaik yang dijanjikan Allah, melalui sistem pendidikan terbaik. Dan semua itu hanya ada pada sistem Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah yang merealisasikan pemenuhan pengasuhan dimulai dari tangan ibu.
Wallaahu a’laam bisshawaab.

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update