Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jangan Biarkan Gagal Ginjal Merusak Kesehatan Anak

Tuesday, July 30, 2024 | Tuesday, July 30, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:41:10Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Konsultan nefrologi anak dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Eka Laksmi Hidayati, SpA(K) meluruskan isu viral tentang banyaknya anak-anak yang menjalani cuci darah di RSCM. Dia menegaskan meski memang ada anak yang menjalani hemodialisis di RSCM, kasus gagal ginjal tidak mengalami lonjakan. “Jadi kita cukup kaget ya karena ada berita-berita terkait ini, padahal di RSCM kita tidak mengalami lonjakan,” ujar dr. Eka dalam siniar di RSCM Kencana, Kamis (25/7/2024). (health detik.com, 27-07-2024).

Ada banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko terkena gagal ginjal. Dokter mengungkap salah satunya adalah kebiasaan konsumsi makanan dan minuman kemasan yang tinggi gula. Dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Eka Laksmi Hidayati mengatakan pola hidup tidak sehat mendominasi faktor penyebab gagal ginjal. (cnnindonesia.com, 26-07-2024).

Sekalipun isu viral tersebut telah diluruskan, kasus ini harus tetap menjadi perhatian negara. Karena bagaimanapun juga kasus gagal ginjal pada anak-anak masih tetap ada.

*Butuh Perhatian Negara*

Kurang lebih dua tahun yang lalu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap ada 241 anak yang terkena gagal ginjal akut (GGA) misterius di Indonesia. Total pasien yang meninggal tercatat 133 kasus. Tren peningkatan kasus melonjak sejak Agustus 2022. Kasus ini ditemukan di 22 provinsi. Terkait hal ini, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyatakan penelitian Kemenkes mendeteksi tiga zat kimia berbahaya, yakni etilen glikol (EG), dietilen glikol (DEG), dan etilen glikol butil ether (EGBE) pada tubuh pasien balita yang terkena GGA. Bahan-bahan tersebut juga diduga menjadi pemicu puluhan kasus GGA yang ditemukan di Gambia, Afrika Tengah, yang diduga akibat mengonsumsi obat batuk sirop buatan India.

Itu persoalan terkait GGA yang disebabkan dari penggunaan obat sirop. Sedangkan saat ini, kasus gagal ginjal cenderung pada konsumsi panganan yang tidak menyehatkan yang banyak dikonsumsi anak-anak terutama yang mengandung pemanis. Pendeteksian dini masih lemah di negeri ini, hingga ledakan kasus bisa saja terjadi jika gaya konsumsi masyarakat masih pada tataran enak dimulut namun tidak menyehatkan. Sayangnya, makanan yang tidak menyehatkan itu melanglang buana ke mana-mana, dan nir perhatian serta edukasi untuk para orangtua agar tidak sembarang memberikan makanan pada anak-anaknya. Terkadang, tanpa memperhatikan kandungan dari bahan makanan kemasan yang dibeli, para orangtua begitu saja membelikan anak-anaknya makanan yang sangat berisiko pada kesehatannya.

Belum lagi health seeking behavior atau perilaku yang dilakukan untuk memperoleh kesembuhan masyarakat Indonesia, termasuk lemah di antara negara-negara ASEAN. Hal ini tampak dari data bahwa sekitar 70% penduduk Indonesia lebih memilih untuk mengobati sendiri jika sakit, kondisi ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Realitasnya, layanan kesehatan yang pemerintah sediakan memang masih minim dan terbatas. Tidak heran, pada akhirnya banyak terjadi keterlambatan pendeteksian sehingga terlambat terdiagnosis, terlambat dirujuk, ataupun terlambat ditangani. Terlebih, GGA ini banyak menimpa daerah-daerah yang layanan kesehatannya terbatas.

Tingginya kasus GGA di daerah juga tersebab layanan cuci darah untuk anak atau hemodialisis yang terbatas di layanan kesehatan. Jangankan tingkat kabupaten, tingkat provinsi saja belum tentu semuanya punya perangkat hemodialisis anak. Jelas, kondisi ini menunjukkan negara lalai sekaligus membuka borok atau kelemahan layanan sistem kesehatan kita yang masih sangat terbatas.

*Paradigma Islam Terkait Pemeliharaan Jiwa*

Sungguh edukasi dan peran aktif pemerintah sangat dibutuhkan. Karena saat ini faktor yang turut menyulitkan penanggulangan suatu kejadian kesehatan luar biasa adalah kesadaran masyarakat yang masih rendah sehingga berkontribusi pada tingginya jumlah kasus dan angka kematian termasuk karena gagal ginjal.

Kasus gagal ginjal menyangkut urusan nyawa. Selain melakukan penanggulangan kuratif, pemerintah semestinya melakukan tindakan preventif berupa mitigasi risiko dari sisi riset keamanan makanan. Masyarakat juga membutuhkan edukasi kesehatan sesegera mungkin terkait makanan agar jatuhnya korban bisa benar-benar diminimalkan.

Kasus ini dapat dimitigasi mulai dari aspek sebab, penanganan, hingga risiko. Apalagi, kasus gagal ginjal ini menimpa anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa. Keberadaan mereka semestinya menjadi aset peradaban yang tidak boleh diabaikan.

Nyawa adalah anugerah Allah Ta’ala yang begitu dijaga dan dilindungi dalam Islam. Jiwa manusia mendapatkan perlindungan kuat dan pemeliharaan yang terjamin. Tidak ada agama yang begitu menghargai dan melindungi nyawa manusia melebihi Islam. Paradigma sistem saat ini sungguh jauh dari Islam.

Dalam Islam nyawa manusia harus diutamakan. Oleh karena itu, menjaga keselamatan hidup adalah satu perkara pokok yang harus menjadi perhatian negara apalagi negara ibarat junnah, atau perisai bagi rakyatnya.

Rasulullah saw. dalam riwayat An-Nasa’i dan Tirmidzi, bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Jika gagal ginjal dapat menyebabkan jumlah kematian yang tinggi, Maka kasus ini sudah menjadi kejadian luar biasa. Maka negara harus menetapkan berbagai langkah komprehensif, integratif, baik terkait dengan langkah antisipasif, pencegahan maupun penatalaksanaan. Mitigasi menjadi hal yang urgen untuk dilaksanakan karena terkait dengan aktivitas untuk menemukan penyebab. Berbagai langkah lanjutan termasuk pemastian keamanan suatu produk pun tidak luput dari perhatian negara.

Penetapan standarisasi produk yang aman untuk kesehatan dan tentu saja halal, menjadi tanggung jawab negara. Keselamatan nyawa harus menjadi perhatian utama, dan tidak boleh dikalahkan oleh pertimbangan ekonomi sehingga sebahaya apa pun produk, dalam kapitalisme, jika menguntungkan Maka tetap saja dipasarkan di masyarakat.

Dalam sistem Islam penanganan terhadap penderita penyakit ini harus optimal dan maksimal. Biaya layanan kesehatan harus ditanggung oleh negara, sebagaimana yang diperintahkan dalam Islam karena mewujudkan kesehatan rakyat adalah tanggung jawab negara.

Penyediaan layanan kesehatan yang lengkap dan mudah dijangkau adalah tanggung jawab negara. Keterbatasan berbagai sarana termasuk hemodialisa yang menjadi satu kebutuhan mendesak harus septimal mungkin disediakan sebagai bentuk layanan kesehatan untuk rakyat.

Langkah-langkah strategis terkait layanan kesehatan ini sangat membutuhkan peran negara secara riil. Negaralah yang memiliki kekuatan dan kewenangan besar, termasuk dalam penyediaan anggaran, pembangunan sarana layanan kesehatan dan juga penentuan regulasi. Negaralah yang memiliki tanggung jawab besar dalam melayani kebutuhan rakyat dalam berbagai hal, termasuk dalam bidang kesehatan, mulai dari promotif, preventif dan kuratif juga rehabilitatif dengan harga murah, bahkan gratis.

Sayangnya dalam sistem kapitalisme saat ini, ketersediaan layanan kesehatan yang gratis dan mudah dijangkau jauh panggang dari api. Rakyat harus menyediakan dana sendiri untuk mewujudkan derajat kesehatan yang tinggi.

Miris. Di negeri ini orang miskin seakan dilarang sakit. Padahal sehat adalah hak setiap manusia yang harus didapatkan, dan menjadi kewajiban negara untuk menyediakannya.

Oleh karena itu perlu perbaikan menyeluruh agar negara mampu atasi berbagai masalah di negeri ini termasuk masaah dalam hal pelayanan kesehatan. Butuh paradigma pembangunan agar negara mampu atasi masalah yang dihadapinya. Setidaknya, ada tiga hal yang perlu dilakukan.

Pertama, Islam mengatur negara sebagai pelayan rakyat sehingga kebutuhan hajat hidup rakyat seperti sandang, pangan, perumahan, kesehatan, pendidikan, keamanan adalah prioritas utama pembangunan. Konsep ini mengharuskan postur pengeluaran APBN-nya juga didominasi untuk kebutuhan dasar. Negara bertanggung jawab membiayai pengobatan masyarakat secara gratis termasuk seperti kasus gagal ginjal dan seluruh fasilitas yang lain.

Kedua, sumber pemasukan negara berdasarkan Islam adalah pengelolaan harta milik umum seperti barang tambang, hutan, laut. Juga dari harta milik negara berupa kharaj, jizyah, ganimah sehingga negara itu memiliki pemasukan yang besar. Dengan pemasukan yang besar itulah negara tidak akan berutang ke negara asing atau lembaga internasional. Kalaupun negara harus berhutang, maka itu terjadi pada saat kas negara benar-benar kosong. Berutangnya pun pada warga negara khilafah dan tanpa bunga (riba).

Ketiga, pejabat dan pegawai negara harus amanah dalam mengelola rakyat. Pejabat dan pegawai menunaikan tugasnya secara sadar, hisab Allah di akhirat menjadi pakem kuat atas amanah yang diembannya.

Ketiga faktor ini bisa dan hanya bisa terlaksana dalam sistem Khilafah Islamiyyah. Sistem yang senantiasa membangun akidah ruhiyah dan akidah siyasiyah pada negara serta seluruh warga negaranya sehingga suasana iman dan kontrol masyarakat akan terus berjalan.

Khilafah sebagai negara ri’ayah hadir mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan, bahkan seluruh alam. Visi risalah Islam menjadi visi negara dalam segala fungsinya. Peradabannya pun peradaban mulia. Nilai-nilai yang dibutuhkan dalam kehidupan dihadirkan secara serasi, baik nilai materi, kemanusiaan, moral, maupun spiritual.
Ini semua menjadi kunci terwujudnya daya tahan kesehatan masyarakat yang tangguh, buah manis yang dapat dinikmati tiap individu masyarakat ketika Islam diterapkan secara kafah dalam bingkai Khilafah. Karakternya yang istimewa meniscayakan ia mampu mengedepankan upaya pencegahan secara berhasil. Sistem kesehatan Islam yang tangguh meniscayakan terjamin akses mudah pelayanan kesehatan gratis berkualitas terbaik dalam kondisi darurat sekalipun.

Demikianlah, Khilafah dengan politik kesehatan masyarakat yang sahih, sistem kesehatan yang tangguh, serta peradabannya yang agung, benar-benar teruji eksistensinya sebagai penyejahtera penjaga kesehatan setiap individu rakyat selama puluhan abad dan di dua per tiga dunia sebagaimana terukir oleh tinta emas sejarah. Gagal ginjal yang merupakan satu di antara sekian banyak gangguan kesehatan tentunya tak akan dibiarkan berlarut sampai nyawa terenggut.

Wallaahu a’laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update