Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam Moderat Terus Digaungkan Ikhtiar Diplomasi

Friday, July 26, 2024 | Friday, July 26, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:41:31Z

Oleh: Novita Ratnasari, S. Ak.

(Penulis Ideologis, Pemerhati Remaja)

Lintas iman kembali digaungkan. Sangat menjijikkan ketika harus menyaksikan mereka berjabat tangan mesra dan bersenda guru di tanah Jerussalem. Bersama para penjajah Zionis Laknatullah (Isrewel) yang notabenenya saudara seiman kita di bagian West Bank dan Gaza sedang dibombardir.

Baru-baru ini warga dibuat geram oleh postingan Zen Ma’arif di platfrom Instagram. Dalam unggahan video tersebut, ia berpidato di hadapan presiden Isrewel, perwakilan umat kristen, serta perwakilan umat Islam dengan membawa identitas NU Jakarta mengusung ide menjalin hubungan diplomatik melalui program Itrek (inspiring tomorrow’s leaders).

Melansir dari akun resmi Itrek.org bahwasanya Itrek adalah sebuah organisasi yang didirikan tahun 2011. Dimana agenda dari Itrek ini berkaitan erat dengan kalangan intelektual Pro-Isrewel. Mereka yang join bersama Itrek akan melakukan perjalanan ke Isrewel untuk belajar semua bidang termasuk bisnis, hukum, kebijakan, serta, STEM dalam rangka menambah citra baik untuk Isrewel di mata dunia.

Sehingga wajar jika menimbulkan kontroversial bahkan kecaman dari berbagai kalangan. Tindakan lima oknum yang terdiri Zen Ma’arif, Munawir Aziz, Sukron Makmun, Nurul Bahrul Ulum, dan Izza Annafisah Dania sangat ignorance dalam berpikir kritis. Bagaimana mungkin sejauh ini solusi dilimpahkan kepada PBB, namun hasilnya masih nol. Sedangkan tiba-tiba mengemparkan seluruh elemen masyarakat dengan diplomasi di hadapan Isaac Herzog, bahkan sekedar mendatangi Isrewel saja sudah tidak masuk akal apalagi berdialektika sembari bersendau gurau.

Warganet murka ketika Zen Ma’arif mengaku bagian dari NU (organisasi keagamaan Islam terbesar di Indonesia) sontak Yahya Cholil Staquf selaku ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) mengatakan ke awak media ketika jumpa pers di gedung PBNU Jakarta bahwa Zenmaarif dkk. datang ke Isrewel menemui presiden Isaac Herzog bukan dari kelembagaan NU karena murni inisiatif sendiri. Sehingga seluruh konsekuensi yang akan dituai bukan tanggungjawab struktur.

Lantas apa saja yang perlu kita waspadai dan kritisi sebagai masyarakat merespon kegaduhan ini?

Pertama, Zen Ma’arif menyampaikan statement lintas iman berulang kali. Kita sebagai kaum Muslim harus bisa memahami esensi dari lintas iman terlebih dahulu. Meskipun ini bukan problema kontemporer, melainkan prodak lama yang tidak laku namun terus digaungkan dengan tujuan ingin mengenalkan Islam dengan toleransi dan kasih sayang. Mengingat akhir-akhir ini citra Islam di masyarakat Islam radikal, ekstrimis. Mirisnya jihad secara syar’i dianggap identik dengan kekerasan.

Selayaknya realitas sebelumnya, senada dengan moderasi beragama, Islam moderat, salam lintas agama, dan sekarang dipersempit lagi dengan lintas iman. Sejatinya itu semua maknanya cenderung rancu dan merugikan kaum Muslim.

Kedua, jika di kaji secara teliti dan mendalam. Kedatangan mereka di tengah-tengah kebiadaban genosida yang dilakukan Isrewel terkesan terburu-buru seperti ada tujuan dibalik sebuah misi. Rasa-rasanya di era sekarang, apabila ingin bertemu dengan orang berpengaruh selevel pemimpin negara melalui prosedur yang ada, misalnya harus bikin janji terlebih dahulu.

Lantas siapa dibalik kelima oknum tersebut? Pasti ada tenaga super power dibalik layar yang mengharapkan simbiosis mutualisme pihak yang terlibat. Ironisnya, Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) NU terafiliasi dengan jejaring Isrewel dan parahnya Zen Ma’arif bergabung dalam organisasi RAHIM (jejaring zionis isrewel) yang menjabat sebagai manager dari Penelitian Domestik.(Kilat.com, 16/07/24)

Jadi jelas bahwa kelima kader NU tersebut ternyata dibawah naungan Itrek dan RAHIM. Dimana didalam dua lembaga tersebut merupakan Non Govermental Organization (NGO) memiliki corak berpikir liberal (bebas landas). Artinya standar berpikirnya bukan lagi mengikuti aturan Sang Khaliq melainkan kepentingan sesuai visi misi masing-masing orang. Disini kita banyak jumpai barometer perbuatan seseorang satu dengan yang lain bisa berbeda bahkan Muslim sekaligus.

Ketiga, harus kita sadari bahwa ini bagian dari impect diterapkan sistem yang mengikatnya dan mengatur segala aspek kehidupan berdasarkan karangan manusia yang mengingkari seperangkat panduan dari Sang maha Pencipta. Perlu diketahui bahwasanya sistem yang diterapkan sekarang ialah sistem Kapitalisme, artinya seluruh kebijakan berlandaskan manfaat. Ketika Kebijakan ditetapkan sekiranya mendatangkan keuntungan atau malah buntung?

Misalnya pada kasus ini, jika dikaji ulang sebenarnya keuntungan apa yang didapatkan oleh pihak yang terlibat? Tentu eksistensi Isrewel untuk terus menancapkan hegemoninya dalam menguasai belahan dunia dengan mendapatkan pengakuan publik terkait eksistensinya. Meski dalam waktu bersamaan tidak diingkari sebagai penjajah laknatullah. Bagi kelima oknum lainnya ingin mendeklarasikan Islam moderat dan menormalisasi kebengisan penjajah dalam rangka diplomasi. Tentunya masih banyak lagi keuntungan yang dipertimbangan dalam skala politik, bisnis, hubungan diplomasi, bahkan mengenalkan Islam liberal kepada dunia.

Tentu ini merupakan kerusakan struktural, di mana sistem Kapitalisme melahirkan asas Sekulerisme. Sebagai legitimasi bahwa didalam sistem ini, peran Tuhan tidak dilibatkan didalam pembuat kebijakan. Manusia memiliki wewenang atas kehidupannya dan aturan apa yang akan diterapkan. Sedangkan Tuhan hanya mengatur ibadah ritual saja, seperti shalat.

Sehingga kolerasi antara banyaknya dijumpai oknum seperti ini dengan sistem yang mengikat layaknya pelumas. Karena pemangku kebijakan adalah pemilik modal, jadi Kebijakan bisa sesuai pesanan. Semakin licin pelumasnya, semakin banyak orang menyuarakan kepentingan. Kenapa oknum seperti ini sering kali kita jumpai padahal sangat keluar dari alur kerangkanya? Sistem hukum pidana di negeri Ini tajam ke bawah tumpul ke atas, ditambah tidak memberikan efek jera. Ironisnya, sejauh ini belom ada jeratan hukum untuk kasus ini. Sekedar beraksi lalu klarifikasi, dan berakhir terulang kembali.

Kerusakaan seperti ini akan minimalis terjadi jika seperangkat aturan dari Al-Khaliq. Tidak perlu adanya lintas iman karena di dalam negara dengan sistem Islam, kafir itu digolongkan menjadi dua. Pertama kafir dzimmi, orang kafir tetapi mau gabung ke dalam negara Islam dan tunduk dengan seluruh kebijakan yang ada. Tentu saja kafir dzimmi mendapatkan perlindungan dari seorang pemimpin (khalifa) dengan ketentuan yang ditetapkan. Perlu diketahui meskipun statusnya sebagai orang kafir dzimmi tetap mendapatkan hak-hak nya sebagai warga negara Islam. Mendapatkan jaminan publik, terikat aturan publik, dan wajib membayar jizyah dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan yang ada.

Sedangkan yang kedua kafir harbi fi’lan yang secara terang-terangan memerangi kaum Muslimin. Relate dengan firman Allah di dalam QS. al-Baqarah ayat 191 dan QS. al-Fath ayat 29.

Sejatinya Islam tidak menyamaratakan semua orang kafir untuk diperangi. Sehingga kalo kita pahami esensi dari jihad secara syar’i tentu tidak identik dengan ekstrimis. Karena seorang khalifa sekalipun memerintahkan pasukan militer untuk jihad tidak serta merta kepada semua orang kafir. Hanya saja diera pemikiran liberal seperti sekarang, syariat Islam dijauhkan dari pemikiran kaum Muslim, yang awam termakan hoax, yang intelektual menjadikan Islam sesuai kepentingan, para ulama mengeluarkan dalil sebagai pembenaran kebijakan di era Kapitalisme.

Pentingnya kita mengkaji Islam secara mendalam dan keseluruhan agar tidak tersesat pada perkumpulan dan pemikiran menyesatkan. Misalnya Rahim dan Itrek yang jelas menyelisihi Islam. Sekarang moment yang tepat untuk hijrah dari sistem togut ke sistem sempurna dan paripurna yaitu Islam Rahmatan Lil’alamin.

Wallahu’alam Bisowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update