Oleh : Nina Iryani, S.Pd
Rasulullah SAW bersabda:
“Kerusakan umat ku adalah oleh ulama yang jahat dan orang jodoh yang beribadah (tanpa ilmu). Seburuk-buruknya kejahatan adalah kejahatan ulama.”
(HR. Ahmad).
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Siapa saja yang mendatangi pintu-pintu penguasa niscaya terkena fitnah. Tidaklah seorang hamba makin dekat dengan penguasa kecuali makin jauh dari Allah.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi, Ibnu ‘Adi dan Al-Bukhari dalam Tarikh Al-Kabir).
Rasulullah SAW bahkan bersabda:
“Waspadalah kalian terhadap pintu-pintu penguasa karena sesungguhnya hal itu akan menyebabkan kesulitan dan kehinaan.”
(H.R At-Tabrani dan Ad-Dailami).
Disisi lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Pemimpin para syuhada pada hari kiamat adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan seseorang yang berdiri dihadapan penguasa yang jahat, lalu dia melarang penguasa jahat tersebut dari kemungkaran dan menyuruh dia berbuat kemakrufan, namun kemudian penguasa itu membunuh dirinya.”
(HR. At-Thabrani).
Allah SWT berfirman:
“Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang dzalim yang bisa menyebabkan kalian disentuh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.”
(TQS. Hud ayat 113).
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak boleh ada kemudaratan, juga tidak boleh menimpakan kemudaratan (kepada orang lain).”
(HR. Ibnu Majah).
Rasulullah SAW pun bersabda:
“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu Padang rumput, air dan api.”
(HR. Abu Dawud dan Ahmad).
Allah SWT berfirman:
“Ini adalah jalan-Ku yang lurus. Ikutilah jalan itu dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) sebabnya jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian Allah perintahkan agar kalian bertakwa.”
(TQS. Al-An’am ayat 153).
Dengan demikian Islam memerintahkan manusia seluruhnya dari buaian sampai liang lahat laki-laki dan perempuan untuk menuntut ilmu, setelahnya berilmu tetaplah menjadi orang baik dengan tidak bermanis muka pada penguasa dzalim. Seharusnya ulama dan orang-orang berilmu lainnya datang pada penguasa bukan demi harta dan jabatan. Tapi demi tegaknya agama Allah, bahwa padang rumput, air dan api milik umat, dikelola negara untuk kesejahteraan umat. Bukan didzalimi dengan mengambil kekayaan alam, diserahkan pada asing baik dalam bentuk sistem kontrak atau diperdagangkan lalu keuntungannya hanya untuk pribadi dan golongan elit saja.
Muhasabahi (koreksi/disadarkan) penguasa agar tidak dzalim pada umat. Bukan bermanis muka untuk mendapatkan harta dan jabatan. Apalagi malah mendukung kejahatan penguasa.
Miris negeri yang melimpah kekayaan alam ini, mengalami kesulitan pangan, mengalami kesulitan ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Harusnya negeri ini sejahtera bila Islam kaffah diterapkan didukung orang-orang yang gemar menuntut ilmu serta ulama-ulama shaleh pendukung terwujudnya Islam kaffah seperti masanya Rasulullah SAW.
Sistem kapitalislah yang mendidik banyak ulama untuk berbuat dzalim. Sistem kapitalis juga yang mengajak penguasa menikmati kedzaliman. Serta sistem kapitalis juga yang menyebabkan penderitaan umat.
Mari bangkitkan umat dengan amar makruf nahi mungkar, perjuangkan kembali Islam kaffah yang diterapkan seperti masa Rasulullah SAW. Tinggalkan sistem yang jelas dzalim dan mendzalimi.
Wallahu’alam bissawab.
No comments:
Post a Comment