Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kesuksesan Strategi Politik Pendidikan Islam

Tuesday, June 04, 2024 | Tuesday, June 04, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:45:11Z

By : Lisa Agustin
Pengamat Kebijakan Publik

 

Pemkot Balikpapan bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Balikpapan menggelar seminar dan workshop karir bertajuk “Unlocking Gen-Z Potentials” di Auditorium STIE Balikpapan, Rabu (22/5/2024).

Seminar ini menghadirkan 320 peserta dari kalangan mahasiswa dan SMK se-Kota Balikpapan.

Kegiatan ini mengangkat tema “Inspirasi dan Langkah Praktis Membangun Bisnis dan Karir yang Sukses”.

Peserta seminar diharapkan bisa menajamkan pola pikir dan mengeksplorasi potensi melalui kegiatan ini.

Sehingga dapat menjawab tantangan dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil yang berdaya saing.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Bappeda Litbang Kota Balikpapan Murni mengatakan, sebagai upaya untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dengan kolaborasi dan sinergi bersama dunia usaha, media, perusahaan. Yakni dengan membentuk Tim Koordinasi Speaking Vokasi (TKDV) dalam memperkuat vokasi di Kota Balikpapan.

“Dengan adanya TKDV menjadi langkah maju dalam mengurangi pengangguran dan meningkatkan kompetensi di Balikpapan,” ujarnya. (web.balikpapan.go.id, 24/5/2024)

Arah Pendidikan Kapitalisme

Mencermati pemberitaan diatas nampak nyata bahwa arah pendidikan generasi saat ini menggunakan paradigma kapitalisme-sekuler. Arah pendidikan yang dikembangkan sekolah dan perguruan vokasi yaitu menghasilkan lulusan siap pakai dengan tujuan agar terpenuhinya kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dunia kerja (DUDIKA).

Hal itu terjadi karena sejak awal pendidikan vokasi dibangun menggunakan paradigma yang salah. Yakni, ketika pendidikan atau ilmu (termasuk vokasi) dipandang semata-mata sebagai komoditas yang diperdagangkan. Oleh karenanya, peruntukan atau tujuan pendidikan bergantung pada selera pasar (permintaan).

Saat ini, ketika dunia industri tengah merajai perekonomian, maka pendidikan pun akhirnya diselenggarakan untuk memenuhi keinginan korporasi. Parameter kemajuan SDM nya dilihat dari berkurangnya pengangguran dan meningkatnya kompetensi. Sehingga tidak masalah output pendidikan menjadi buruh di perusahaan kapitalis, yang penting tidak pengangguran.

Wajar saja yang menonjol dalam pendidikan ala kapitalisme sekuler ini adalah pendidikan untuk mencetak tenaga terapan (buruh terdidik) bagi kepentingan industri. Bahkan riset yang diciptakan pun dihilirisasi untuk kepentingan industri.

Demikianlah nasib pendidikan dalam sistem kapitalisme. Bahkan negara pun tidak berdaya di hadapan korporasi. Miris! Apa yang dikatakan kemajuan atau kesuksesan ternyata bukanlah secara hakiki.

Dan hasilnya saat ini sangat nyata akibat dari pendidikan dijajah sistem kapitalisme liberal, output hanya mengejar material. Mereka menjadi budak korporasi.

Generasi pemuda hari ini hanya bisa bekerja tanpa idealisme membangun dan memimpin bangsa menuju ke arah lebih baik dalam keridaan Allah.

Arah Pendidikan Islam

Islam sebagai pandangan hidup yang diturunkan oleh Allah SWT melalui risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw memiliki arah pendidikan yang berbeda dengan kapitalisme.

Mengutip dari artikel Ath-Thariq (Jalan Baru Islam) yang ditulis Syekh Ahmad Athiyat sebagai berikut.

Negara Islam telah mencurahkan perhatiannya pada pendidikan sejak masa-masa pertama kemunculannya. Hal itu tampak jelas ketika Rasulullah saw. Menjadikan tebusan untuk membebaskan satu orang tawanan Quraisy setelah perang Badar adalah mengajar sepuluh orang kaum muslim.

Perhatian akan pendidikan dan berbagai macam ilmu pengetahuan pun makin bertambah seiring majunya Negara Islam dan mencapai puncaknya ketika Eropa masih mendengkur dalam tidur yang panjang dan masih berenang dalam samudra kebodohan dan kegelapan.

Popularitas perguruan tinggi Negara Islam yang ada di beberapa kota seperti Kairo, Baghdad, dan Andalusia waktu itu telah mencapai tingkat popularitas yang lebih tinggi dibandingkan ketenaran perguruan tinggi Eropa dan Amerika yang ada sekarang ini.

Ayat dan hadis yang mendorong pencarian ilmu dan pelaksanaan pendidikan ini jumlahnya sangat banyak.

Allah Swt. Berfirman,

وَنُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

“Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS At-Taubah: 11).

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS Al-Ankabut: 43)

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ

“Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS Az-Zumar: 9).

Dari Rasulullah saw. Bahwasanya beliau bersabda, “Barang siapa yang menyusuri sebuah jalan demi mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya ke surga.”

“Kelebihan seorang yang berpengetahuan atas seorang ahli ibadah seperti kelebihanku atas orang-orang yang ada di bawahku.”

Beberapa intisari penting dari strategi pendidikan dalam Negara Islam:

1. Akidah Islam menjadi satu-satunya asas landasan dibangunnya sebuah metode pendidikan, baik dalam pelajaran ataupun pembelajaran. Hal itu tiada lain karena akidah inilah yang menjadi asas pemikiran sehingga pemberian materi akidah harus menjadi yang pertama dan utama kemudian baru membangun maklumat dan ide-ide di atasnya. Inilah yang telah dilakukan Rasulullah saw.

2. Negara harus memberikan kesempatan belajar pada semua rakyatnya secara gratis hingga berakhirnya tingkat tsanawiy (menengah) dan memberikan kelonggaran pendidikan tingkat perguruan tinggi secara gratis bagi setiap individu rakyatnya. Rasulullah saw. Bersabda,

“Mencari ilmu itu wajib atas setiap muslim laki-laki dan perempuan.”

Tidak terlaksananya sebuah kewajiban kecuali dengan adanya sesuatu maka sesuatu itu pun menjadi wajib. Oleh karena itu negara harus memenuhinya.

3. Negara harus memerangi buta huruf semaksimal mungkin dan berupaya mendidik mereka yang belum memiliki tsaqafah. Ini bisa dipahami dari kisah tawanan perang Badar yang Rasulullah saw. Menjadikan tebusan mereka dengan cara mengajar sepuluh orang anak-anak kaum muslim.

4. Wajib mengajarkan ilmu pengetahuan, industri, navigasi atau pelayaran, pertanian, dan sebagainya, dan haram mengajarkan segala sesuatu yang bertentangan dengan Islam seperti melukis dan mengukir. Ini berdasarkan pada keumuman dalil. Dalam bagian pertama begitu banyak dalil yang menunjukkan kewajibannya. Adapun bagian kedua banyak juga dalil yang mengharamkannya.

Inilah sekilas penjelasan tentang strategi politik pendidikan dalam Islam yang harus ada dalam Negara Islam. Dan ini pulalah yang menjadikan Islam mencapai kesuksesan menjadi pemimpin pada masa lalu.

Semoga negeri ini mengembalikan konsep pendidikan sesuai dengan misi penciptaan manusia. Yakni, untuk mengabdi kepada Allah dan mengelola bumi ini dengan peraturan Allah Subhanahu wa taala. Semoga syariat Islam dalam bingkai Khilafah segera tegak kembali. Amin.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update