Belakangan ini aksi bullying atau perundungan dikalangan remaja semakin meningkat. Baru-baru ini viral di media sosial TikTok, vidio aksi bullying terhadap anak dibawah umur. Mirisnya aksi tersebut disiarkan secara langsung atau live. Dalam vidio berdurasi tiga menit yang beredar, pelaku melakukan perundungan dengan memukul kepala korban dengan botol kaca. Akibatnya, korban terluka. Dalam vidio yang lainnya, pelaku mengatakan mempunyai paman seorang jenderal, namun ia tidak takut jika harus masuk penjara (kompas, 28/4/2024).
Terus Berulang
Kasus bullying atau perundungan di atas sejatinya bukan kali ini saja terjadi. Tetapi kasus bullying ini sudah terjadi berulang-ulang. Bukan hanya terjadi dikalangan orang-orang dewasa tetapi kasus bullying banyak terjadi dikalangan remaja dan bahkan kalangan pelajar. Mirisnya, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, sampai SMA.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Adi Leksono menyatakan, data pengaduan KPAI menunjukkan kekerasan anak pada awal 2024 sudah mencapai 141 kasus. Dari seluruh aduan itu, 35 persen di antaranya terjadi di lingkungan sekolah atau satuan pendidikan (tempo.co, 12/3/2024).
Kasus bullying terus meningkat tiap tahunnya. Kasus bullying ini juga layaknya gunung es. Kasus yang tidak terungkap ternyata jauh lebih banyak. Dan bahkan ada beberapa kasus yang terungkap ketika korban telah berulangkali mengalami kekerasan hingga ada yang berakhir dengan kematian.
Terus berulangnya kasus bullying jelas menggambarkan bahwa kekerasan dan tindak kejahatan sudah menjadi lumrah bahkan di kalangan remaja. Bahkan, banyak remaja saat ini menganggap perundungan bukan lagi hal buruk, melainkan ajang menunjukkan eksistensi diri agar terlihat keren dan hebat. sehingga, wajar jika kondisi ini mengaburkan standar baik buruk dikalangan remaja.
Masalah Utama
Pemerintah telah berupaya untuk mencegah aksi bullying di kalangan remaja, tetapi upaya tersebut belum mampu menyelesaikan permasalahan bullying ini bahkan kasus yang terjadi bukannya menurun malah semakin meningkat.
Hal ini menunjukkan kegagalan negera dalam menjaga generasinya. Sejatinya yang menjadi masalah utama adalah sistem kapitalis sekuler yang telah menjadikan generasi hari ini semakin agresif dan brutal. Serta menjauhkan generasi dari tujuan hidup dan agamanya. Hal ini menunjukkan kerusakan generasi hari ini merupakan dampak sistemis dari banyak faktor.
Sistem pendidikan kapitalis sekuler hanya menjadikan generasi fokus kepada kesuksesan yang berorientasi pada materi. Tetapi menjadikan generasi jauh dari agama dan kepribadian Islam serta menjadikan generasi minim akhlak.
Pola asuh orang tua juga sering kali menyebabkan anak menjadi brutal. Didikan sekuler dari orang tua yang tidak menamakan agama kepada anak sejak dini. Serta orang tua yang mendidik dengan kasar, kurang memberi perhatian, serta tak jarang orang tua yang bertengkar di dapan anak-anak juga dapat memicu sikap agresif pada anak.
Ditambah pengaruh media sosial yang bebas menampilkan konten-konten tidak mendidik. Mulai dari pornografi hingga kekerasan yang bebas di akses oleh anak-anak. Begitu pun game online atau gim yang beredar dan dimainkan oleh remaja saat ini banyak mengandung kekerasan. Hal-hal itu memicu anak untuk meniru adegan-adegan kekerasan tersebut. Dan akhirnya menirukan hal itu kepada temannya.
Sanksi yang ada pun tidak bersifat menjerakan para pelaku. Sehingga, kasus-kasus kekerasan terus berulang. Bahkan dalam kasus bullying di atas pelaku sama sekali tidak takut dengan sanksi penjara yang akan diberikan.
Islam menjaga generasi
Islam sangat menjaga generasinya. Generasi yang lahir dari peradaban Islam memiliki ketakwaan kepada Allah serta memiliki kepribadian Islam. Sehingga mustahil lahir generasi yang bermasalah dari rahim Islam. Selama hambir 14 abad Islam berjaya banyak terlahir generasi-generasi hebat seperti salahuddin al-ayubi pembebasa Al-aqsa, muhammad Al-fatih penakluk konstatinopel dan ulama yang juga merupakan ilmuwan seperti al-khawarismi dan
pemuda hebat lainnya. Semua itu karena pemuda muslim memiliki katakwaan serta tujuan hidup yang jelas yakni Ridho Allah Swt.
Untuk membentuk generasi berkepribadian Islam, maka Islam sangat menjaga pendidikan generasi mulai dari pendidikan ditengah-tengah keluarga yang mengharuskan sejak dini sudah harus ditanamkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah. Serta pendidikan sekolah yang memiliki kurikulum berbasis Islam yang memiliki tujuan mencetak generasi berkepribadian Islam bukan generasi pekerja. Serta masyarakat hadir dalam menjaga dengan amar makruf nahi mungkar.
Negara dalam Islam juga wajib memproteksi generasinya dari pengaruh-pengaruh liberalisasi, salah satunya memastikan media sosial bebas dari konten-konten yang merusak. Game-game online yang mengandung kekerasan akan dihapuskan, serta memastikan media massa digunakan dalam rangka menyebarkan atau mendakwakan Islam ke suluruh penjuru dunia.
Sistem sanksi dalam Islam juga sangat tegas sehingga akan menimbulkan efek jera. Sanksi tidak di pandang berdasarkan umur. Jika pelaku kejahatan sudah balig maka dia tetap akan terkena sanksi atas perbuatannya.
Maka jelas, buruknya generasi hari ini adalah buah dari penerapan sistem sekuler kapitalis sehingga kita perlu mencari solusi yang bukan hanya tambal sulam. Dan Islam bisa memberikan solusi komprehensif atas semua permasalahan generasi.
Sesungguhnya penerapan Islam secara sempurna dalam hal apapun menjadi tuas rem untuk menghentikan segala bentuk pelanggaran termasuk kejahatan.
Islam akan menjaga generasinya dengan berbagai mekanismenya. Sehingga lahirlah generasi penopang peradaban Islam mulia. Wallahualam bissawab

Anak hanya akan terlindungi dengan syariat Islam
ReplyDelete