Dilansir oleh beritasatu.com, Akademisi dari Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada, Mohammad Iqbal Ahnaf, mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk tetap waspada terhadap narasi-narasi kebangkitan khilafah.
Menurutnya, narasi-narasi tersebut berpotensi untuk mendapatkan momentum pada 2024, yang bertepatan dengan 100 tahun runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah.
"Potensi ancaman dari ideologi transnasional itu akan selalu ada. Gagasan khilafah yang ditawarkan menjadi semacam panacea atau obat segala penyakit dan mampu menyembuhkan kekecewaan, ketidakadilan, dan emosi negatif lainnya, jelas (itu) menggiurkan bagi beberapa masyarakat," kata Iqbal Ahnaf, Kamis (11/1/2024). (beritasatu.com, 12/01/2024)
Suara-suara sumbang terhadap isu khilafah tidak akan pernah hilang. Apalagi di masa-masa menjelang pilpres seperti saat ini dan bertepatan menjelang 100 tahun keruntuhan Khilafah Islamiyah pada 23 Maret 1924. Mereka yang alergi terhadap khilafah buru-buru memberikan warning kepada masyarakat bahwa “khilafah tidak sesuai dengan zaman sekarang”, “khilafah berbahaya”, “khilafah pemecah belah bangsa”, dan label-label negatif lainnya.
Sejatinya mereka sadar bahwa sistem demokrasi adalah sistem yang cacat, yang terbukti dari hari kelahirannya hingga saat ini bahkan hingga hari kiamat pun tidak akan mampu menyejahterakan rakyat. Seberapa pun mereka menutupi bau busuk sistem demokrasi dengan menambal sulam kebijakan, bau busuk itu tetap menguar ke setiap celah di penjuru bumi.
Narasi-narasi negatif tentang khilafah jelas pemikiran sesat yang akan menghalangi umat terhadap kebangkitan Islam. Pemikiran ini dibawa oleh para pengusung demokrasi yang memiliki kepentingan atas diri dan kelompoknya. Sejak keruntuhan Khilafah Islamiyah di Turki sejak saat itu juga seluruh ajaran Islam dikubur hidup-hidup. Bahasa Arab dihilangkan, azan diganti dengan berbahasa Turki, pakaian muslimahnya diubah menjadi pakaian ala Eropa, pintu-pintu ijtihad ditutup, dan institusinya yaitu Daulah Khilafah Islamiyah dikubur dan dikaburkan.
Dengan runtuhnya Kekhilafahan Utsmaniy adalah karpet merah bagi para penjajah untuk mengobrak-abrik umat Islam. Umat Islam dipecah-belah, tidak lagi menjadi negara yang satu melainkan menjadi banyak negara-negara bangsa. Arab berdiri sendiri, Turki berdiri sendiri, Irak berdiri sendiri, hingga Indonesia pun berdiri sendiri. Sekat-sekat teritorial ini memudahkan penjajah untuk menjajah secara fisik maupun pemikiran. Sumber daya alam negeri-negeri muslim dikuasai, pemikiran kaum muslim dicuci bersih dari pemikiran Islam. Alhasil, umat Islam saat ini jauh dari pemahaman Islam. Para penjajah mencekoki umat Islam dengan ide-ide demokrasi, liberalisme, hingga sekularisme. Ide-ide ini lahir dari sistem kapitalisme yang mencengkeram dunia saat ini. Mereka ingin umat Islam tidak mengenal lagi ajarannya hingga umat memusuhi para pejuang Islam dan antipati terhadap ajaran Islam.
Namun, eksisnya kapitalisme yang hampir seabad ini justru mempertontonkan kerusakan-kerusakan pada umat manusia hingga alam. Kejahatan, kezaliman, dan kemaksiatan lumrah terjadi pada ekosistem ini. Sebab sistem ini berasal dari buah pikir manusia yang lemah lagi lemah, jauh dari tuntunan wahyu Sang Khaliq.
Berbeda dengan Islam yang tidak hanya mengatur aktivitas spiritual akan tetapi mengatur seluruh aktivitas kehidupan manusia. Aturan Islam jelas lahir dari wahyu Sang Mudabbir. Allah Swt. Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan manusia maka Allah turunkan aturan-aturan untuk mengatur kehidupan manusia. Bahkan untuk mengatur negara pun Islam adalah pionirnya. Selama 13 abad 2/3 dunia dinaungi oleh Islam. Selama itu pula umat manusia di dalamnya sejahtera, tidak hanya dirasakan umat Islam mereka yang nonmuslim pun merasakannya.
Lihatlah bagaimana para sejarawan Barat pun bertestimoni atas keagungan sistem pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah) dalam segala aspek.
“Peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi motornya, kondisi Barat tidak akan ada artinya”. Montgomerry Watt dalam bukunya, The Influence Islam on Medieval Europe (1994).
Oliver Leaman, ahli filsafat dari Universitas Cambridge mengungkapkan, “Pada masa peradaban agung (kekhilafahan) di Andalusia, siapa pun di Eropa yang ingin mengetahui sesuatu yang ilmiah ia harus pergi ke Andalusia. Di waktu itu banyak sekali problem dalam literatur Latin yang masih belum terselesaikan, dan jika seseorang pergi ke Andalusia maka sekembalinya dari sana ia tiba-tiba mampu menyelesaikan masalah-masalah. Jadi, Islam di Spanyol mempunyai reputasi selama ratusan tahun dan menduduki puncak tertinggi dalam pengetahuan filsafat, sains, teknik, dan matematika. Ia mirip seperti posisi Amerika saat ini, di mana beberapa universitas penting berada.”
Hingga pernyataan Lord Curzon, Menteri Luar Negeri Inggris kala itu yang menggambarkan kehebatan khilafah saat kekhilafahan di Turki diruntuhkan, “Kita harus mengakhiri segala sesuatu yang dapat menciptakan persatuan Islam di antara anak-anak umat Islam. Situasinya sekarang Turki sudah mati dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan moralnya, Khilafah dan Islam”.
Dalil-dalil tentang khilafah pun telah gamblang termaktub di dalam hadis-hadis maupun Al-Qur’an sendiri.
Allah Swt. berfirman:
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِى الْاَ رْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا ۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـئًــا ۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur 24: Ayat 55).
Dari Hudzaifah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Di tengah-tengah kalian ada Kenabian dan akan berlangsung sekehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah berdasar manhaj kenabian dan berlangsung sekendak-Nya. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Kerajaan yang lalim yang berlangsung sekehendak Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Kerajaan yang Otoriter berlangsung sekendak Allah. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada khilafah berdasar manhaj kenabian”. Kemudian beliau (Nabi ﷺ) diam. (Musnad Ahmad, No. 18406).
Dengan demikian, tidak semestinya ajaran Islam yang mengatur pemerintahan dan periayahan manusia dimonsterisasi. Apalagi umat Islam sendiri yang melabeli bahwa khilafah berbahaya. Khilafah adalah mahkota kewajiban yang wajib diperjuangkan umat Islam. Sebab tanpanya umat Islam dan seluruh manusia akan lalai dari syariat, kezaliman akan menjerat, kemaksiatan pun menjadi pekat.
Oleh sebab itu, wajib bagi umat Islam untuk mengkaji Islam dan berjuang bersama kelompok dakwah ideologis. Sebab, kelompok dakwah ideologis adalah kelompok dakwah yang tulus memperjuangkan Islam agar kehidupan Islam dapat berjalan sesuai dengan perintah Allah Swt. Dengan umat bersatu memperjuangkan tegaknya Khilafah Islamiyah maka Islam rahmatan lil alamin akan terwujud.
Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment