Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Baby Blues Tinggi, Ada Apa Dengan Kesehatan Mental Ibu?

Monday, June 05, 2023 | Monday, June 05, 2023 WIB Last Updated 2023-06-05T08:58:53Z

Oleh: Kharimah el-Khuluq

Sungguh mencengangkan, Indonesia berada di urutan tertinggi ketiga se Asia dengan kasus baby blues. Hal tersebut terungkap dalam data laporan Indonesia National Adlescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2023. Kemudian, hasil penelitian Andrianti (2020) terungkap, 32 persen ibu hamil mengalami depresi dan 27 persen depresi pascamelahirkan. Selain itu, penelitian skala nasional menunjukkan 50-70 persen ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues. Angka ini tertinggi ketiga di Asia (Republika.co.id, 28/05/2023).

Masuk nominasi tertinggi ketiga se Asia dengan kasus baby blues ini bukan sebuah prestasi. Melainkan potret buruk Indonesia dalam menangani dan mempersiapkan ibu sebagai pencetak generasi tangguh. Alih-alih mampu mencetak generasi tangguh sebagian ibu-ibu dalam negeri ini kesehatan mentalnya sendiri pun terganggu.

Kondisi kesehatan mental ibu yang semakin merosot, bahkan ada yang sampai mengalami depresi ini tidak langsung terbentuk sebagai fitrahnya manusia. Melainkan dipengaruhi oleh bebarapa faktor, salah satunya adalah kesiapan menjadi orang tua. Di negeri ini tidak ada kebijakan khusus untuk membina calon ibu maupun calon bapak terkait kesiapan mereka menjadi orang tua.

Hal itu bisa kita amati dari kurikulum pendidikan yang diterapkan di negeri ini. Kurikulum yang ada di lembaga pendidikan saat ini tidak ada indikator kesiapan sebagai orang tua, menjadi salah satu indikator yang harus dicapai oleh peserta didik. Ironisnya, dalam dunia pendidikan saat ini hanya mengarahkan peserta didik bagaimana memperoleh nilai akademik yang tinggi dan kesiapan diri dalam dunia kerja. Artinya pendidikan saat ini hanya mencetak pekerja semata.

Tidak hanya itu dunia pendidikan Indonesia juga sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Seyogianya nilai agama harus ada dan harus lebih dominan dalam kurikulum pendidikan, karena itu yang akan menjadi pegangan hidup. Ketika nilai agama minim dalam diri individu maka penyelesaian dan menanggapi permasalahannya juga akan tidak karuan. Seperti halnya kasus baby blues ini, seharusnya kehadiran buah hati dan menjadi ibu bukan menjadi sebuah permasalahan. Orang tua seharusnya saling bersinergi dalam menyambut buah hatinya itu tanpa ada salah satu dari mereka yang merasa terabaikan agar tidak memicu munculnya baby blues.

Tak terelakkan semua kondisi ini merupakan sumbangsih dari sistem yang diterapkan saat ini. Yaitu sistem kapitalisme dengan asas sekulernya. Sistem ini hanya meraih keuntungan semata atau asas manfaat serta mengesampingkan aturan agama. Seperti halnya dunia pendidikan saat ini, telah disetting oleh sistem sebagai lembaga pencetak robot berwujud manusia sehingga siap pakai di dunia kerja atau industri. Sehingga, itu yang menjadi paradigma peserta didik sekarang bagaimana mereka sukses dalam meraih materi. Namun, secara tidak sadar mereka terlenakan dengan paradigma itu. Sehingga mereka lupa bahwa ada peran besar yang menantinya di fase kehidupan selanjutnya, yaitu menjadi orang tua.

Kurikulum sekuler sangat berbeda dengan kurikulum pendidikan Islam. Kurikulum pendidikan Islam sangat komprehensif tidak hanya mencetak individu siap kerja. Namun mampu mencetak individu yang siap mengemban amanah di setiap sisi kehidupannya. Salah satunya adalah siap menjadi orang tua. Individu-individu di dalam Islam disiapkan sebagai individu yang mampu mengemban peran mulia sebagai orang tua.

Dalam Islam kaum perempuan dibina menjadi al umm wa rabbatul bait (ibu dan pengurus rumah tangga) dan menjadi madrasatul ula (pendidik utama dan pertama). Ketika calon ibu maupun seorang ibu sudah dibekali dengan ilmu yang mumpuni. Maka mereka tidak akan menganggap bahwa peran sebagai ibu dan istri adalah hal yang menjemukan. Tidak hanya perempuan yang dibina melainkan laki-laki pun dibina agar mereka bisa bersinergi dalam menjalankan peran. Bahkan dalam kurikulum pendidikan Daulah khilafah secara khusus menyediakan mata pelajaran kerumahtanggaan. Mata pelajaran ini dikhususkan bagaimana agar perempuan siap menjadi seorang ibu. Demikian juga ada pelajaran bagi kaum laki-laki supaya menjadi suami yang peduli dan mendukung istri sesuai dengan tuntunan syariah (Syekh. Atha' Khalil Ar Rustah, Dasar-Dasar Pendidikan Negara Khilafah).

Pembinaan yang sangat komplit seperti itu hanya ada dalam negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh. Yaitu Daulah Khilafah Islamiyyah. Oleh karena itu, agar terwujud individu yang siap menjalankan peran mulianya sebagai orang tua maka harus ada negara khilafah dengan segala konsepnya untuk membina umat saat ini. Karena, tanpa negara khilafah maka penerapan Islam secara menyeluruh tidak akan terlaksana.

Wallahualam Bishawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update