Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jerat Narkoba Mengancam Estafet Kepemimpinan Bangsa

Wednesday, January 18, 2023 | Wednesday, January 18, 2023 WIB Last Updated 2023-01-18T03:17:00Z



Oleh Makwar
(Pemerhati Kebijakan Publik) 

Narkoba, tak henti menjadi biang dari kerusakan generasi yang dialami oleh bangsa ini, khususnya generasi muda. Mereka seolah enggan berpisah dengan narkoba meskipun telah terbukti secara nyata menjadi penghancur, perusak masa depan, bahkan bisa membunuh penggunanya. Tak hanya itu, selain merugikan diri sendiri, narkoba pun merugikan keluarganya, masyarakat dan juga bangsa. 

Kasus narkoba yang terjadi di Indonesia seakan tak pernah usai. Baru-baru ini terjadi penangkapan terhadap salah satu publik figur yang ketiga kalinya. Hal ini membuktikan bahwa narkoba begitu mengikat kaum muda sehingga mereka tak mudah lepas dari jeratannya. 

Melansir G-News (15/1/23), dalam rangka memerangi narkoba, Satgas Anti Narkoba Sekolah (SANS) Indonesia melantik Ketua Umum SANS Syafril Effendy yang sebelumnya dijabat oleh Dr. Drh. H. Rohidin Mersyah, M.M.A, selaku inisiator SANS pada Minggu (15/1/23).
Usai pelantikan terhadap dirinya, Syafril Effendi berharap, bahwa SANS ke depan bisa membantu pemerintah, kepolisian, BNN dalam mengatasi persoalan narkoba terkhusus di kalangan pelajar dan remaja. 

Lebih jauh, inisiator SANS Dr H Rohidin Mersyah menyampaikan kepada pihak yang telah dilantik untuk senantiasa mengobarkan semangat memerangi narkoba demi menyelamatkan anak bangsa. 

Menyoal narkoba yang kian menjerat generasi muda, ternyata semakin ke sini bertambah banyak jenis narkoba maupun cara menggunakannya. Disadari atau tidak, baik peredaran narkoba yang kian menyasar pelosok negeri dan tidak terendus, atau pun alat penghisap narkoba yang kini semakin bervarian, bukti bahwa pengguna narkoba selalu bertambah setiap tahunnya. Penyebab dari semua ini diduga karena tingkat pengawasan dari pihak pemerintah serta badan terkait sangat lemah. Karena semakin banyak kemudahan dalam memperoleh narkoba serta alat yang digunakan untuk menghisapnya, justru menjadi candu bagi pengguna narkoba dengan segala kemudahan tersebut. 

Seperti vape misalnya, masyarakat banyak terkecoh dengan alat yang mereka sebut untuk menghisap rokok. Padahal banyak remaja yang menyiasati barang tersebut untuk memasukkan narkoba ke dalamnya. Dengan demikian, mereka bisa terhindar dari kecurigaan sebagai pengguna narkoba. 

Baru-baru ini pun pihak kepolisian mendapatkan temuan adanya sabu cair yang diselundupkan dari Iran. Ini termasuk narkoba jenis baru dan rencananya akan dikonsumsi dengan cara mencampurnya dengan kopi atau memasukkannya ke dalam vape untuk mengelabui masyarakat. Beruntung pihak kepolisian menggagalkan upaya penyelundupan tersebut. 

Sedemikian parah dan meresahkannya peredaran narkoba di negeri yang mendapat penghargaan atas bonus demografinya. Kaum muda sebagai tonggak berdirinya sebuah bangsa terancam hancur gegara narkoba yang kian menggila. Berulangnya kasus penangkapan terhadap kaum muda yang terjerat narkoba mengisyaratkan bahwa barang haram ini sudah dianggap sebagai kebutuhan. Ini membuktikan adanya kesalahan mereka dalam memahami kehidupan. Parahnya, kadang narkoba dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang mereka hadapi. 

Faktor lainnya kenapa peredaran narkoba sulit diberangus adalah karena lemahnya penegakkan hukum dari sistem yang diemban negara, yakni sistem sekuler kapitalis yang tegak atas asas manfaat belaka. Sehingga para pelaku tak jera mengulangi perbuatan serupa. Selain itu, meski pihak terkait melakukan penindakan kepada oknum yang terlibat dalam pengedaran narkoba, langkah-langkah yang ditempuh dirasa publik belum menyentuh akar permasalahannya. Hal ini menjadi kekhawatiran banyak pihak, karena narkoba bisa membahayakan masa depan bangsa dan melemahkan generasi. 

Faktanya, sudah banyak ditemukan rumah-rumah yang dijadikan tempat pembuatan narkoba. Ini menandakan Indonesia tak hanya sebagai pasar, namun juga sebagai pabrik narkoba. Seharusnya induk dari peredaran barang terlarang ini mendapat fokus utama untuk ditindak cepat dan bila perlu dihancurkan. Apabila negara benar-benar ingin menangani serta menyelamatkan bangsa dari cengkeraman narkoba. Bila pembuat, pengedar serta pengguna diberikan sanksi berat niscaya peredaran narkoba bisa dihentikan sesegera mungkin. 

Sekalipun demikian, ketika negara masih menerapkan sistem buatan manusia yang didasarkan pada kepentingan semata, mustahil rasanya setiap tindak kejahatan bisa dihapuskan, termasuk persoalan narkoba. Dalam sistem kapitalisme seperti sekarang ini, saat sesuatu bisa diambil manfaatnya maka itu akan dipertahankan meskipun di dalamnya mengandung mudharat. Baik bagi pemuja maupun bagi eksistensi sistem itu sendiri. 

Sebagai solusi paripurna atas setiap persoalan yang menimpa negeri, hendaknya baik masyarakat maupun negara menyadari bersama bahwa satu-satunya solusi tersebut bisa didapatkan ketika sistem Islam yang menjadi pengatur dan dan penyelesai semua masalah. Islam memandang narkoba sebagai zat haram dan masyarakat dilarang mengonsumsinya. Adapun jika ada oknum yang melanggarnya, maka negara Islam akan menindak dengan sanksi tegas dan berat sehingga memberikan efek jera. 

Narkoba sama seperti zat yang memabukkan serta bisa menghilangkan akal. Sebab itu Allah mengharamkan barang ini karena akan menghantarkan penggunanya pada keburukan. Jika ditinjau dari kacamata manusia sekalipun,  narkoba memiliki berbagai dampak negatif diantaranya bisa merusak fisik juga psikisnya. Selain itu, dari aspek sosial, narkoba sangat meresahkan seperti pengguna dapat melanggar norma sosial yang berlaku di masyarakat. Adapun jika ditinjau dari aspek ekonomi, mereka akan rela menggadaikan harta yang dimiliki, bahkan menjadi seorang pencuri demi mendapatkan sebutir dua butir obat.

Dengan demikian, maka ke depan akan timbul permasalahan ekonomi di dalam keluarga karena kecanduan narkoba. 

Maka dari itu, penanganan, tindakan serta penyelesaian masalah narkoba perlu adanya institusi yang melindungi generasi. Dalam hal ini, negara mempunyai peran setrategis untuk itu. Tentu negara yang memiliki visi misi dalam membangun rakyatnya dengan periayahan sesuai syariat. Negara yang menerapkan Islam di setiap sendi kehidupan akan meminimalisir setiap tindak kejahatan. Karena seorang pemimpin di dalam Islam selalu dan akan terus menerus memahamkan rakyatnya untuk berada dalam ketataan. Sehingga terbentuk pemahaman masyarakat terkait apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. 

Dengan tegaknya Islam di muka bumi, meniscayakan terpeliharanya generasi dari perbuatan yang akan merugikan dirinya, keluarga, masyarakat serta bangsanya. 

Wallahu a'lam bishshawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update