Rona Cinta Bunda



*Yang Dinanti

Bidzikri ilahi ta thiibul hayat
Dengan mengingat Allah hidup menjadi tenang
Tusarru asaarira wajhin shabiih
Wajah yang muram akan cerah kembali
Sabiiludumuu'i sabiilum muriih
Jalan air mata adalah jalan kenyamanan
Tanahhad ayaa shahi kai tastariih
Keluhkanlah wahai kawan demi istirahatmu
Wa bussad du’a al khafi yas sariih
Panjatkanlah do'a yang lirih di waktu sepi
Yasa' kalfadhaa urraheebul fasiih
Biarkan alam luas mendengar rintihannya
Tanahha ayaa huznu wajhur fuaadan
Pergilah kesedihan dan tinggalkan hatiku
Tawakkal bijiddin bi'azmin fashiih
Bersandarlah dengan ketakwaan kepada Allah

Suara merdu Muhammad Al Muqit mengalun lembut dari ponsel pintar Kirani. Nada panggil yang sengaja diabaikan. Kirani memang sedang tak ingin diganggu. Meski itu dari Bimo sekalipun. Lelaki yang telah menjadi pilihan hidupnya sejak lima tahun yang lalu. 

Kirani menepikan mobilnya di dekat taman. Dia ingin sejenak menenangkan pikiran.

"Maafin, aku, Mas." Ego Kirani mengalahkan logikanya.

Tetiba pandangan Kirani berhenti pada sosok yang berada tak jauh dari tempatnya menepi. Seorang wanita muda yang hamil besar sedang membaca Al-Qur'an di kursi taman. Sesekali wanita itu mengelus perutnya. Seorang lelaki yang terlihat lebih matang datang dan mengangsurkan air mineral. Mereka tampak mesra walau tanpa sentuhan.

Kirani menitikkan air mata. Dia ingin sekali menjadi wanita itu. Hamil. Satu hal yang belum ia dapatkan sampai saat ini. Begitu irinya hati Kirani kala tahu bahwa Allah memberikan begitu banyak keberkahan bagi wanita hamil. Pahala mati syahid, menjadi bentuk penghargaan tertinggi atas perkara yang dimuliakan. Maka setiap waktu yang dilalui pada masa kehamilan akan penuh keberkahan dan pahala.

Teringat dulu pada tahun pertama pernikahan, Kirani banyak mencari ilmu tentang kehamilan serta amalan-amalan yang akan dia lakukan saat hamil. Kirani mencatatnya dalam diari khusus yang diberi judul dengan tinta emas, masa kehamilan. Ia benar-benar serius untuk mempersiapkan kehamilan karena berharap nantinya akan melahirkan anak yang soleh solehah dan menjadi pejuang Islam yang cerdas dan tangguh. Apapun pasti akan dilakukan oleh seorang Ibu demi kebaikan anak-anaknya. Ia yakin ibunya juga melakukan hal yang sama, meski ia tidak pernah bertemu karena ibunya meninggal saat melahirkan Kirani. 

Kirani mungkin akan seperti wanita muda yang dilihatnya kini. Ia akan sibuk menghabiskan waktu dengan Al-Qur'an. Ia juga akan pergi ke berbagai kajian Islam dan segala hal baik yang ia biasakan untuk membentuk kepribadian Islami bagi anak dalam kandungannya. Ia juga akan menjadi ibu yang rajin, makan makanan sehat, olah raga ringan agar anaknya lahir sehat dan kuat. Dunia ini butuh pemimpin yang tak hanya soleh tapi juga kuat.

Ponsel Kirani berdering lagi. Lamunannya buyar sudah. Nama suaminya muncul di layar. 

"Assalamualaikum, Mas Bimo," sahut Kirani. 

Nada penuh kekhawatiran dari seberang sana, meluluhkan hati Kirani. Ia tidak pernah bisa menolak pesona kedewasaan pada diri suami solehnya.

"Iya, Mas. Aku pulang sekarang."

Kirani memang tak sengaja mendengar pembicaraan ibu mertua dengan suaminya. Pilihan untuk menikah lagi agar memperoleh keturunan memang bukan suatu kesalahan. Ia juga tahu bahwa poligami dibolehkan dalam syariat. Selain keyakinan bahwa dirinya bisa memberikan keturunan bagi Bimo, hati Kirani juga belum siap untuk dimadu. 

Kirani tidak mendengar saat Bimo menolak usulan ibunya. Hatinya terlanjur terluka dan ingin segera menjauh sejauhnya. Bimo pun dibuat kebingungan karena tak mendapati Kirani di rumah. Pergi tanpa pamit.

Bimo berada di teras saat Kirani turun dari mobilnya. Tetiba pandangan Kirani menjadi gelap. Terdengar sayup teriakan Bimo memanggi namanya lalu menghilang.

Bimo mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk rumah. Setelah membaringkan tubuh Kirani, Bimo mengambil ponselnya di atas nakas lalu menghubungi dokter Prita.

"Mas, Bimo." Kirani mencoba bangun, tetapi kepalanya terasa berat.

"Kamu istirahat, ya, jangan bangun dulu. Kamu tadi pingsan dan barusan dokter Prita datang melihat keadaanmu." Bimo tersenyum lega istrinya sudah sadar.

"Tahu gak, Sayang, dokter Prita bilang kemungkinan kamu hamil, tapi dia belum yakin kalau belum melihat hasil USG. Besok kita ke klinik kandungan, ya?" Bimo tidak bisa menyembunyikan bahagianya tetapi dia juga tidak berani berharap banyak.

"Iyakah?" Kirani baru ingat kalau dia sudah telat datang bulan hampir dua pekan. 

Jantungnya berdegup lebih cepat. Dalam hati ia memohon kepada Allah dengan penuh kerendahan hati. Tak terasa air matanya menetes. Ia berharap ini semua bukan sekedar euforia semata seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya.

***
Kirani mengambil Al-Qur'an dari tas punggungnya. Alunan ayat-ayat suci bagaikan penyejuk hati-hati yang gelisah. Sesaat perutnya bergerak. Kirani mengelus lembut perutnya yang telah membesar. Bimo berjongkok dan mencium perut istrinya. Berkali-kali Bimo mengucap syukur kepada Allah atas kehamilan istrinya.

"Kakak suka ya kalau mami baca Al-Qur'an? Anak soleh, nanti juga harus rajin mengaji seperti mami, ya." Bimo kembali mencium perut Kirani sambil membacakan doa kebaikan untuk anaknya. Kebahagiaan yang telah lama dinanti.

Post a Comment

Previous Post Next Post