Suasana duka sedang menyelimuti masyarakat Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pada Senin (21/11/2022) pukul 13.21 wib terjadi gempa bumi berkekuatan 5,6 SR dengan pusat gempa berada di 10 KM Barat Daya, Kabupaten Cianjur.
Gempa yang mengguncang Kabupaten Cianjur itu mengakibatkan kerusakan bangunan rumah, gedung dan toko serta menimbulkan korban jiwa baik luka maupun meninggal dunia.
Selain itu, gempa terbesar yang terjadi di Cianjur ini memicu terjadinya longsor di beberapa tempat. Diantaranya di Jalan Nasional Tapal Kuda Kecamatan Cugenang dan Jalan Kabupaten Desa Cijedil.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terhitung hingga Ahad (27-11-2022), 321 orang dinyatakan meninggal dunia, 11 orang dinyatakan masih hilang. Sementara itu, 73.874 orang mengungsi, sedangkan korban luka berat mencapai 108 orang. (Kompas, 27-11-2022).Sampai saat ini, situasi di Cianjur belum kondusif. Banyak rumah warga dan infrastruktur yang rusak. Ratusan gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama pada 21-11-2022 lalu.
Namun, mirisnya, di tengah duka korban gempa Cianjur, ada sekelompok orang yang tengah bersuka ria mengadakan deklarasi politik, acara yang jauh dari kesan berduka, atau setidaknya berempati terhadap korban gempa.Penyelenggaraan deklarasi politik yang dihadiri puluhan ribu orang digelar di Stadion utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan,seolah nirempati kepada saudaranya yang tengah mengalami musibah.Padahal umat Islam itu ibarat satu tubuh, apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka yang lain akan ikut merasakannya.
Perhelatan besar ini bukan hanya menampakkan sebuah pesta di atas duka yang masih dirasakan pasca gempa di Cianjur.Akan tetapi pertemuan nasional relawan Jokowi ini juga jelas menelan biaya yang tidak sedikit. Dikutip dari beberapa sumber media terpercaya di Indonesia, acara tersebut ditaksir menghabiskan anggaran sebesar Rp.100 miliar. Sungguh ironis bukan? Di saat rakyat di Cianjur jelas-jelas butuh pertolongan. Di saat yang sama, penguasa negeri ini malah berpesta bersama para pendukung politiknya. Tentu saja, jika bukan karena urusan kepentingan pribadi dan kelompok partainya, acara ini tidak akan terselenggara.
Sistem politik sekuler demokrasi terbukti tidak bisa melahirkan pemimpin dan politisi amanah. Akibat tidak diterapkannya syariat, derita rakyat terabaikan. Karena pemimpin sekuler tidak menjadikan keimanan dan ketakwaan sebagai bekal utama dalam menjalankan amanah.Pemimpin baik hanya lahir dari sistem yang baik. Sistem terbaik bersumber dari Zat Maha baik, yaitu Allah SWT.
Seorang pemimpin dalam Islam mempunyai sifat amanah dan memiliki empati yang tinggi. Sebab empati seorang pemimpin menjadi hal yang tak terpisahkan dengan amanahnya sebagai penanggung jawab rakyat, terlebih saat rakyatnya ditimpa bencana. Seorang pemimpin juga harus mampu memposisikan keadaan dan perasaan dirinya seperti keadaan dan perasaan rakyat yang dipimpinnya.
Sosok-sosok pemimpin yang berempati tinggi seperti ini telah banyak disebutkan dalam sejarah kaum muslimin. Salah satu sosok yang dikenal kepemimpinannya yakni Khalifah Umar bin Khattab. Begitu besar usahanya saat menangani bencana alam yang dialami rakyatnya. Ketika itu terjadi paceklik di Jazirah Arab, tanaman gagal panen di lahan sekitar lembah Eufrat, Tigris dan Nil. Banyak orang arab yang masuk ke Madinah untuk meminta bantuan pemerintah, akhirnya Khalifah Umar membentuk tim dalam menanggulangi bencana yang terjadi.
Beliau kemudian membentuk beberapa tim dan ditempatkan pada pos-pos perbatasan kota Madinah untuk mendata orang-orang yang membutuhkan bantuan. Hingga tercatat sepuluh ribu orang yang masuk ke dalam Madinah dan lima puluh ribu orang yang masih berdiam di daerah asalnya. Khalifah Umar pun segera menyalurkan bantuan kepada rakyatnya yang berada di luar Madinah, serta menampung orang-orang yang mengungsi.
Khalifah Umar telah melakukan semua cara, hingga tidak ada barang atau apapun yang bisa diberikan kepada rakyatnya, kemudian Khalifah Umar mengirim surat kepada Abu Musa yang berada di Basrah dan Amru bin Ash yang berada di Mesir, isi suratnya adalah "Bantulah umat Muhammad, mereka hampir binasa." Beliau berdua yang dikirimi surat tersebut merupakan gubernur di daerah asalnya. Kemudian kedua gubernur tersebut mengirimkan bantuan ke Madinah. Mereka memberikan bantuan dalam jumlah yang besar, sehingga rakyat yang membutuhkan bantuan terpenuhi kebutuhannya.
Begitulah profil Khalifah Umar saat menjadi pemimpin. Tidak pernah sedikitpun beliau memikirkan dirinya sendiri, sebab semuanya didedikasikan untuk kepentingan rakyatnya. Beliau juga tak pernah malu berbaur langsung dengan rakyat, terjun langsung membantu rakyat, juga tidak pernah enggan dan pilih kasih. Bahkan selama musim paceklik, beliau tak pernah memperlakukan dirinya istimewa. Beliau berkata "Akulah sejelek-jeleknya kepala negara, apabila aku kenyang namun rakyatku kelaparan."
Inilah sosok pemimpin yang lahir dari penerapan sistem Islam secara sempurna dalam naungan sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah Islamiyyah. Seorang pemimpin yang berempati tinggi dan selalu mementingkan rakyatnya.Profil pemimpin seperti Khalifah Umar hanya ada dalam sistem Islam sebab mendasarkan amalnya pada akidah dan memimpin rakyat sesuai syariat.
Wallahu a'lam bish shawwab.

No comments:
Post a Comment