Aktivis Muslimah Ngaji
Pemberitaan mengenai jumlah korban gagal ginjal akut terus mengalami peningkatan. Belum lama ini, kementerian kesehatan (Kemenkes) mencatat terdapat sebanyak 141 jiwa meninggal dunia dari total pasien yang dirawat sebanyak 245 orang di 22 provinsi akibat penyakit AKI.
Setelah ditelusuri, banyak kasus kematian dipicu akibat anak-anak tersebut mengkonsumsi obat dalam bentuk sirup dan cair dengan kandungan berbahaya. Seperti yang disampaikan oleh Tarmizi menyebutkan kasus gagal ginjal yang meningkat signifikan pada September dengan fatalitas 50-60%. Kasus yang terjadi di Indonesia memiliki kemiripan dengan kasus di Gambia yang diduga ada keterkaitan dengan zat etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) dalam obat sirup (CNBC Indonesia, 25/10/2022).
Dari penjelasan tersebut kita dapat mengetahui bahwa kasus terjadinya banyak obat dilarang untuk digunakan, karena mengandung zat aktif yang berbahaya bagi anak-anak. Namun, bukan hanya itu sebenarnya masalah yang harus diselesaikan dan ditunjukkan. Sebab dari dahulu pun obat yang dipakai tidak pernah menimbulkan penyakit gagal ginjal akut, ini baru tahun ini terjadi.
Gejala gagal ginjal akut pun beragam seperti: muntah atau mual, demam, diare, batuk, pilek, sering mengantuk, jumlah air seni sedikit, bahkan sampai tidak bisa buang air kecil sama sekali. Jadi hal ini masuk pada masalah kesehatan, belum lagi daya tahan tubuh anak berbeda-beda.
Mirisnya angka kematian yang tercatat di dominasi oleh anak berusia 1 tahun hingga 5 tahun. Banyak orang tua yang menjadi panik dan khawatir, usia balita sudah mengalami gagal ginjal akut, karena masih banyak pemahaman di tengah masyarakat gagal ginjal di derita oleh para orang tua. Kelambanan penanganan begitu terasa dan berbagai tindakan antisipatif pemerintah lebih terkesan sebagai kepedulian palsu daripada ketulusan, yakni ketika korban terus bertambah dan kematian anak makin menghantui para orang tua.
Pemerintah juga tidak menetapkan kasus Acute Kidney Injury pada anak ini sebagai KLB atau kasus luar biasa dengan dalih bukan merupakan penyakit menular atau wabah. Meski begitu, jika dilihat banyaknya kasus kesakitan dan tingginya angka kematian tidak lazim yaitu sekitar 50% lebih dari kasus yang ditemukan seharusnya AKI sudah masuk ke dalam kejadian luar biasa yang memerlukan perhatian dan penanganan serius.
Sesungguhnya, ini semua tidak serta merta hanya karena kelalaian individu masyarakat dalam membaca komposisi juga disamping keterbatasan perekonomian, bukan hanya kelalaian BPOM saja yang perlu disoroti. Padahal ini adalah sebuah kelalaian negara dalam menjamin kesehatan rakyat. Ini merupakan kelalaian sistem, sehingga solusi mengganti bahan pun tidak akan menyelesaikan persoalan gagal ginjal akut ini.
Persoalan ini karena kelalaian kapitalisme yang bercokol di negeri ini, yang menjunjung tinggi asas manfaat, keuntungan, dan materi yang menjadi prinsip industri kapitalis. Siapa pun pemilik modal yang bisa memberikan keuntungan sebanyak-banyaknya akan difasilitasi kepentingannya. Sehingga tidak cukup dengan adanya kasus gagal ginjal akut ini hanya menyalahkan industri karena salah bahan, yang mana saat ini menyebabkan gagal ginjal akut dan tidak menutup kemungkinan masalah lain akan muncul jika masih digunakan.
Pemahaman money oriented dan bukan lagi patient oriented yang merupakan buah pemikirian sistem kapitalisme yang dianut sebagian pelaku kesehatan pun memperparah kondisi pelayanan kesehatan di negeri ini. Hak-hak pasien dan dalam kasus maraknya gagal ginjal akut pada anak ini mencakup hak-hak perlindungan konsumen tercerabut paksa ketika pelayanan kesehatan difokuskan mencari keuntungan, bukan keselamatan manusia.
Maka tak heran jika kasus gagal ginjal akut sangat lambat ditangani hingga menelan banyak korban. Kesehatan anak tidak akan terwujud dalam kapitalisme sebab akar masalahnya ada pada kebijakan dan aturan yang dibuat hanya berasal dari manusia, jadi sangat mudah untuk diubah.
Hal ini sangat berbeda apabila sistem yang diadopsi negeri ini adalah sistem Islam. Islam adalah agama paripurna. Islam tidak hanya membahas konteks ibadah saja. Islam juga mengatur aspek pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Terlebih dalam aspek kesehatan. Islam sangat memperhatikan kesehatan dan pola konsumsi umatnya. Islam menyediakan makanan dan minuman yang halal dan thoyyib. Selain itu, negara juga menyediakan dan memfasilitasi siapa saja yang sakit dengan pelayanan gratis dan maksimal.
Islam yang menjaga peredaran obat dengan ketat. Islam memandang kesehatan adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi secara optimal dan terjangkau. Ketika islam diterapkan, negara adalah pengurus dan penanggung jawab urusan rakyat. Mulai abad ke-12 sampai ke-17 M di Eropa, Islam telah mempengaruhi bidang farmasi dengan pesat saat itu. Terlihat dengan kembalinya minat terhadap pengobatan natural yang popular dalam pendidikan kesehatan. Melibatkan praktisi seperti herbalis dan penjual rempah untuk obat-obatan.
Di sisi lain, Islam sebagai satu-satunya sistem penyelenggara pelayanan kesehatan terbaik merupakan solusi tak terbantahkan untuk menjaga keberlangsungan hidup umat manusia. Dalam Islam, seluruh biaya pengobatan dan kesehatan setiap individu adalah gratis dan menjadi tanggungjawab negara sebagai pengayom rakyatnya tanpa melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat. Baik yang kaya maupun fakir, berhak mendapatkan pelayana kesehatan yang setara dan negara tidak boleh membebankan sedikitpun kepada rakyat untuk pembiayaan pengobatan.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda,
"Imam adalah pemelihara dan dia bertanggungjawab atas rakyatnya" (HR. Imam Bukhari)
Hadist di atas merupakan dasar bahwa negara adalah satu-satunya pihak yang wajib menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara mandiri tanpa campur tangan pihak swasta sehingga mampu mencapai tingkat kesehatan masyarakat terbaik tanpa berhitung untung rugi. Kalaupun pihak swasta ikut ambil bagian maka hanya sebagai pelengkap, bukan partner kerjasama.
Sistem Islam tidak hanya pembebas dari bahaya gagal ginjal akut misterius, ia juga hadir sebagai pembebas negeri dari berbagai penderitaan dan kesengsaraan yang bersumber sistem kehidupan sekuler kapitalisme, termasuk bahaya kelalaian rezimnya. Bahkan, negara Islam akan membawa negeri ini dan dunia pada puncak kesejahteraan untuk kedua kalinya dengan izin Allah Taala, selain perihal kewajiban kembalinya Khilafah adalah janji pasti Allah Taala.
Wallahu'alam bissawab

No comments:
Post a Comment