Pegiat Literasi
Cerita tentang burung Pipit yang terbang dengan panik sambil membawa air di paruh kecilnya. Nalurinya tak kuasa melihat sang Nabi berada dalam kobaran api yang menyala. Usahanya memadamkan api tampak mustahil, namun keberpihakan pada Nabi Ibrahim begitu nyata. Kita sebagai makhluk Allah Swt., meski tercipta sempurna tetapi amat lemah. Kesombongan dan hawa nafsu seringkali menutupi fitrah. Meski tak mampu untuk bergerak, tetapi pastikan bukan sebagai penghalang. Kalaupun bisa sedikit melangkah, tunjukkan keberpihakan kita pada agama Allah, sebelum hilang kesempatan karena datangnya ajal.
Maka wajar jika hati yang beriman merasa marah dan tak habis pikir saat gelombang hijrah dipupuskan. Seperti yang terjadi tengah bulan Oktober lalu. PWNU dan MUI Jatim menolak acara Hijrahfest Surabaya Islamic Festival. Alasan pertama adalah adanya pencatutan logo. Namun, alasan yang paling kuat karena agenda tersebut digelar oleh beberapa orang yang diduga merupakan bagian kelompok terlarang dan berseberangan dengan ideologi negara. (www.cnnindonesia.com, 14/10/2022)
Kegiatan semacam ini seharusnya diapresiasi dan didukung oleh semua pihak terlebih organisasi Islam yang notabene saudara seakidah. Apalagi tujuan dari acara ini sebagai wadah berkumpulnya umat dan komunitas muslim Indonesia secara berjamaah menuju jalan kebaikan. Hijrahfest mendatangkan berbagai tokoh dan komunitas muslim untuk berbagi pengalaman, ilmu dan cerita. Tidak hanya itu, acara yang diadakan di Surabaya ini diharapkan akan menjadi tonggak sejarah baru dalam menumbuhkan halal lifestyle serta mempererat ukhuwah umat Islam di Surabaya dan sekitarnya yang akan mendorong perkembangan Islam dengan menebar rahmatan lil ‘alamin.
Di tengah maraknya kemaksiatan dan gaya hidup bebas yang menjangkiti remaja muslim, acara ini bagaikan magnet yang menarik pada ketaatan. Semakin memahamkan mereka akan kewajiban menaati syariat dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Lalu bagaimana mungkin kegiatan positif semacam ini ditolak.
Ketakutan akan adanya gerakan yang cenderung mendeskreditkan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila, merupakan salah satu bentuk Islamophobia. Framing negatif yang terus digaungkan pada gerakan-gerakan perjuangan Islam sedikit banyak akan menghalangi kebangkitan umat. Bagaimana mungkin generasi muda bisa mengenal syariat Islam jika komunitas, organisasi bahkan majelis taklimnya dilabeli radikal, anti NKRI atau wahabi.
Bahaya Islamophobia terasa nyata saat generasi muda mulai menegasikan syariat agamanya. Hatinya tertutup oleh narasi moderasi sehingga tidak mampu membedakan mana yang hak dan batil. Ditambah gempuran paham kebebasan, semakin memperburuk pola pikir dan tingkah laku.
Sehingga muncullah generasi-generasi lemah yang mudah sekali terombang-ambing arus. Ikut-ikutan tren biar viral dan mendapat cuan. Tidak peduli apakah yang dilakukannya melanggar syariat. Tak jarang lemahnya mental membuat mereka mudah putus asa saat terbentur masalah. Dan akhirnya bunuh diri menjadi solusi yang muncul di kepala mereka.
Apakah generasi seperti ini yang diharapkan bangsa? Generasi yang pemudanya tidak memiliki visi dan misi dalam hidup. Berbeda 180 derajat dengan generasi muslim pada masa kekhalifahan. Di mana waktu sangat bernilai bagi mereka. Masa muda dihabiskan dengan menuntut ilmu agama dan berbagai cabang ilmu lainnya. Segala potensi di asah demi kebermanfaatan diri bagi umat.
Lihatlah Muhammad Al Fatih yang berhasil menaklukkan konstantinopel di usia belia. Tak ada istilah instan. Sejak lahir, Muhammad Al Fatih telah dipersiapkan untuk menaklukkan konstantinopel. Muhammad kecil telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, bahasa dan strategi perang. Pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani.
Hanya Islam yang mampu mewujudkan generasi gemilang. Pendidikan berbasis akidah Islam mampu membekali akal dengan pemikiran dan ide yang sehat. Kepribadian Islam juga menjadi tujuan pendidikannya. Maka tidak akan ada generasi lemah yang muncul selama aturan Islam diterapkan secara total termasuk pada kurikulum pendidikannya.
Wallahualam bissawab.

No comments:
Post a Comment